16 Desember 2010

Nyanyian untuk Katekese Ekaristi

Sekitar sebulan lalu saya mengikuti Rapat Kerja Komisi Liturgi Keuskupan Regio Jawa & Tanjung Karang di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur yang mengambil tema "Pengalaman akan Misteri Ekaristi". Salah satu rekomendasi yang dihasilkan raker tersebut adalah menggiatkan katekese tentang Ekaristi, yang dirasa selama ini masih kurang. Diharapkan dengan pemahaman yang memadai akan kehadiran nyata Kristus dalam rupa roti, kualitas perayaan Ekaristi dapat semakin ditingkatkan dan dengan demikian umat dapat merasakan pengalaman akan Misteri Ekaristi.

Ketika membicarakan katekese, berarti erat hubungannya dengan pengajaran. Maka katekese Ekaristi berarti pengajaran tentang Ekaristi. Bagaimana cara mengajarnya? Tentu banyak cara yang bisa ditempuh. Di paroki tahun depan akan ada beberapa kegiatan yang berhubungan langsung dengan katekese Ekaristi ini. Namun saya mencoba melakukan sesuatu yang lain tapi lazim, yakni menuangkan pengajaran ini pada bentuk lagu. Saya memang bukan seorang katekis, tapi paling tidak sejak persiapan mengikuti raker, pelaksanaan dan sesudahnya saya berhasil memiliki pengalaman akan misteri Ekaristi yang sedikit banyak mengubah hidup dan cara pandang saya terhadap liturgi.

Dari pengalaman tersebut saya buatkan sebuah lagu yang (mudah-mudahan) cukup sederhana sehingga bisa dinyanyikan semua kalangan, bisa download di sini. Lagu ini (mudah-mudahan lagi) cukup easy listening, sehingag juga bisa dinyanyikan dengan format band, gitaran, atau piano. Tidak seperti biasanya, saya tambahkan chord pada teks ini untuk memudahkan. Namun demikian teks ini tetap saya buat dalam format paduan suara.

Syair dari lagu ini adalah perpaduan dari ajaran resmi Gereja tentang Ekaristi dan teks Kitab Suci khususnya dari Yohanes bab 6. Berikut ini syairnya:

EKARISTI

Ekaristi: ucapan syukur kepada Allah
atas karya penebusan-Nya sejak awal dunia.
Ekaristi: kenangan kurban wafat Kristus
yang t'lah bangkit dan naik ke surga dan akan kembali.

Reff:
Inilah roti hidup dari surga yang sungguh nyata tubuh Tuhan kita
yang diberikan kepada dunia s'bagai penebus dosa manusia.
Barangsiapa makan roti ini mendapat hidup dan tak akan mati
seperti janji Yesus pada kita:
yang makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya akan hidup selamanya

Ekaristi: makanan surgawi untuk manusia
tiada tara kemuliaan-Nya: Sakramen Mahakudus
Ekaristi: sumber kehidupan bagi Gereja
yang dipuji dan patut disembah, sekarang, selamanya

Ekaristi menyatukan kita dalam himpunan
Satu iman, satu harapan di dalam Kristus, Tuhan
Ekaristi menjadikan kita makin sempurna
dalam Tuhan kita akan hidup dan tak akan mati

Demikian.... semoga bermanfaat...

15 Desember 2010

Christmas Lullaby

Mungkin sudah agak telat untuk Natal, tapi lagu ini terlalu indah untuk dilewatkan: Christmas Lullaby oleh John Rutter. Teks not angka silahkan download di sini. Kalaupun masih terlalu sulit, saya kira lagu ini tetap indah bila dinyanyikan unisono.

07 Desember 2010

Ave Verum - Edward Elgar

Ave verum corpus natum de Maria Virgine
Vere passum immolatum in cruce pro homine
.....

Orang yang tahu syair ini biasanya mengenal sebagai karya musik ciptaan W.A. Mozart. Saya sendiri baru beberapa bulan lalu paham kalau syair lagu yang dibuat Mozart ternyata tidak lengkap. Walau sudah cukup lama ngeh syair ini awalnya dari versi Gregorian, tapi saya tidak pernah mendengarnya. Baru beberapa hari lalu saya mendengar versi gregorian dan jatuh cinta.

Dan baru tadi pagi saya mendengar versi lain ciptaan Edward Elgar yang tidak kalah indahnya dari ciptaan Mozart dan lebih mudah dicerna dan dilatih. Karena tidak terlalu sulit, jam makan siang tadi saya mengetik lagu ini, silahkan download di sini. Dalam teks tersebut saya lampirkan juga iringannya. Lagu ini setahu saya dibuat sebagai pengiring penyembahan kepada Sakramen Mahakudus, dan cocok juga untuk lagu pengiring komuni.

Mudah-mudahan dalam beberapa hari ke depan saya sanggup membuat versi lain yang lebih mudah lagi khususnya untuk koor-koor lingkungan yang kemampuannya terbatas.

06 Desember 2010

Nyanyian Gregorian Berbahasa Latin untuk Perarakan Komuni

Teks ini berisi empat nyanyian gregorian dalam not angka yang bisa digunakan untuk mengiringi perarakan komuni atau adorasi kepada Sakramen Mahakudus:
1. Adoremus In Aeternum
2. Adoro Te Devote
3. Anima Christi
4. Ave Verum Corpus

Semuanya bisa download di sini. Saya sendiri sangat terkesan dengan Ave Verum Corpus yang sangat indah. Mungkin lagu ini yang akan saya pilih untuk tugas kami mendatang.

Selamat menikmati :D:D

30 November 2010

Veni, Veni Emmanuel

Pada masa adven seperti sekarang ini, selalu muncul pertanyaan yang sama kalau mempersiapkan tugas: "Nyanyi lagu apa ya?" Pertanyaan yang mengada-ada sebenarnya karena, di Puji Syukur sudah tersedia lagunya walau tidak banyak yang familiar.

Apalagi banyak teman-teman koor dimanapun yang sering bertanya "Ada lagu adven gak?" Pertanyaan yang sukar dijawab juga karena stok lagu tentang tema ini memang tidak banyak juga apalagi dibandingkan dengan tema Prapaskah misalnya, yang selain tema sengsara juga bisa mengambil tema pertobatan.

Untuk tugas minggu depan, saya memutuskan untuk membuat sebuah variasi tentang lagu adven kesukaan saya O Datanglah Imanuel dari PS 443. Setelah saya tuliskan teks not angka gregorian dalam bahasa Latin, saya juga buatkan lagu ini untuk paduan suara, dalam bahasa Latin, yang mudah-mudahan tidak terlalu sulit. Silahkan download di sini.

Semoga bermanfaat dan menambah pilihan lagu untuk masa adven ini.

22 November 2010

Lagu Gregorian Berbahasa Latin untuk Masa Adven

Di buku Puji Syukur, nyanyian untuk Masa Adven terdapat mulai nomor 436 sampai 450. Berarti untuk masa 4 minggu itu hanya tersedia 15 lagu untuk dipilih. Nomor 436 dan 437 serupa tapi tak sama karena liriknya sama, hanya biramanya yang berbeda dan ada tambahan refren pada nomor 437. Dari syair tersebut saya buat lagu sendiri: Kiranya Langit Terbelah.

Nyanyian berbirama ada delapan lagu (nomor 442-445 dan 447-450) dan sisanya adalah lagu resitatif (nomor 438, 439, 440, 441, 446).

Dari semua lagu tersebut, ada tiga lagu yang syairnya berasal dari teks berbahasa latin, namun sayangnya di Puji Syukur hanya tersedia bahasa Indonesia saja. Ketiga lagu itu adalah:
  1. PS 438 HAI LANGIT, TURUNKAN EMBUN yang aslinya berjudul Rorate Caeli Desuper.
  2. PS 439 PENCIPTA BINTANG SEMESTA yang aslinya berjudul Creator Alme Siderum.
  3. PS 442/443 O DATANGLAH IMANUEL yang aslinya berjudul Veni, Veni Emmanuel.
Guna menambah khazanah pilihan lagu untuk masa adven, saya berinisiatif menuliskan PS 438, 439, dan 443 dalam not angka dan bahasa Latin. Untuk PS 442 saya belum bisa menemukan sumber lain dalam notasi gregorian.

Untuk mendapatkan teks ketiga lagu tersebut dalam not angka dan bahasa Latin, anda bisa download di sini. Khusus Veni, Veni Emmanuel tampaknya memang ada berbagai versi urutan baitnya (seperti terlihat di 2 video paling bawah). Sumber yang saya pakai untuk mengetik teks ini adalah dari The Parish Book of Chant yang dikeluarkan oleh The Church Music Association of America.

Video Rorate Caeli :




Creator Alme Siderum:



Veni, Veni Emmanuel :



15 November 2010

Menyambut Masa Adven



Dulu waktu saya SD setiap masa adven selalu menyanyikan PS 436/437 Kiranya Langit Terbelah. Namun herannya setelah tumbuh besar saya menyadari bahwa koor-koor paroki jarang sekali menyanyikan lagu ini. Hal ini yang memancing saya sekitar 2 tahun lalu untuk membuat lagu yang syairnya saya ambil dari Kiranya Langit Terbelah ini, karena memang syairnya begitu indah, tentang penantian pada Sang Juruselamat.

Kiranya langit terbelah; ya Jurus'lamat datanglah,
bukalah surga segera, buanglah palang pintunya.

O, turun seperti embun, sirami ladang bumi-Mu;
curahkanlah anugerah, Raja yang adil, datanglah!

Hai bumi, kau terbukalah! Gunung, lembah menghijaulah!
Agar darimu bersemi Bunga selamat abadi.

Engkau dinanti dunia. Kedatangan-Mu kapankah?
Dari takhta-Mu turunlah; hiburkan kami yang resah.

Ya Surya Pagi yang cerah, biar fajar-Mu merekah;
mari, terbitlah cemerlang, halaulah kabut yang kelam.

Dirundung duka kemelut, kami menghadap pintu maut.
Umat-Mu, Tuhan, tuntunlah ke negeri sejahtera.

Di sana kami bersyukur memuliakan nama-Mu,
ya Penebus manusia, sampai selama-lamanya.


Kemarin tidak sengaja saya menemukan teks lagu ini, dan seketika langsung terpikir membuat versi acapella-nya, dengan memakai suara manusia untuk intro, sedangkan bagian lainnya tetap sama. Setelah utak-utik sana-sini, jadilah Kiranya Langit Terbelah versi acapella.

Selamat menikmati dan menjalani masa adven.

21 Oktober 2010

ANTIFON MARIA

Dalam pengertian yang umum sekarang ini, antifon terdiri dari satu atau lebih ayat mazmur atau bagian lain dari Kitab Suci. Dalam misa, antifon dipakai untuk mengiringi sebuah perarakan. Antifon pembukaan untuk mengiringi perarakan pembukaan, antifon persembahan untuk mengiringi perarakan persembahan dan antifon komuni untuk mengiringi perarakan komuni. Saat misa harian dimana biasanya tidak ada nyanyian pembuka, persembahan dan komuni, dibacakanlah antifon untuk pengganti nyanyian.

Antifon Maria, walaupun menggunakan istilah yang sama, berbeda dalam arti dan penggunaannya. Antifon Maria adalah kumpulan doa devosi kepada Maria yang biasanya dinyanyikan sesudah completorium (ibadat penutup hari) atau sesudah Laudes (ibadat pagi) atau pada akhir doa rosario. Antifon Maria juga dapat dinyanyikan sebagai lagu penutup misa, karena liturgi Latin sebenarnya tidak mengenal lagu/antifon penutup.

Ada empat Antifon Maria yang penggunaannya berdasarkan waktu tertentu. Hal ini terkait dengan misteri iman yang tertuang dalam teks antifon tersebut. Berikut ini pembagian, teks, dan terjemahan bebasnya:

  • Masa Adven sampai Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah (2 Februari)

Alma Redemptoris Mater

Alma Redemptóris Mater, quae pérvia caeli porta manes,

et stella maris, succúrre cadénti, súrgere qui curat, pópulo;

tu quae genuísti, natúra miránte, tuum sanctum Genitórem,

Virgo prius ac postérius, Gabriélis ab ore

sumens illud Ave, peccatórum miserére.

Terjemahan dari PS 627 :

Salam, Bunda Sang Penebus, pintu surga yang tetap terbuka,

bintang samud'ra tolonglah manusia yang jatuh dan berhasrat bangun.

Dengan mengagumkan engkau melahirkan Sang Penciptamu yang kudus.

Kauterima salam Gabriel, dikau tetap perawan

untuk selamanya, doakan orang berdosa.

  • Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah sampai Jumat Agung

Ave Regina Cælorum

Ave, Regína caelórum, ave Domina angelórum,

salve, radix, salve, porta, ex qua mundo lux est orta.

Gaude, Virgo gloriósa, super omnes speciósa;

vale, o valde decóra, et pro nobis Christum exóra.

Terjemahan dari PS 626:

Salam, ya Ratu surgawi, salam, kau junjungan malaikat,

dikau bagai pintu gerbang tempat munculnya Sang Terang.

Bersukalah, ya Maria, bunda yang paling jelita.

Salam, kau bunda mulia, doakanlah kami semua.

  • Sabtu Suci sampai Pentakosta. Pada masa ini dipakai sebagai pengganti doa Angelus.

Regina Coeli

Regina coeli, lætare, alleluia:

Quia quem meruisti portare, alleluia.

Resurrexit, sicut dixit, alleluia.

Ora pro nobis Deum, alleluia.

Terjemahan dari PS 624:

Ratu surgawi, giranglah, alleluya.

Sebab Dia yang sudi kaukandung, alleluya.

Telah bangkit dari mati, alleluya.

Kami mohon doamu, alleluya.

  • Hari Raya Tritunggal Mahakudus sampai sebelum masa adven. Sepanjang tahun digunakan untuk menutup doa rosario.

Salve Regina

Salve, Regína, mater misericórdiae;

vita dulcédo et spes nostra, salve.

Ad te clamámus, éxsules fílii Hevae.

Ad te suspirámus, geméntes et flentes, in hac lacrimárum valle.

Eja ergo, advocáta nostra,

illos tuos misericórdes óculos ad nos convérte.

Et Jesum, benedíctum fructum ventris tui,

nobis post hoc exsílium osténde.

O clemens, o pia, o dulcis Virgo María.

Terjemahan dari PS 623:

Salam, ya Ratu, bunda yang berbelas kasih,

hidup, hiburan, dan harapan kami,

dengarkan kami, anak Hawa yang terbuang.

Bunda, perhatikan keluh kesah kami dalam lembah duka ini.

Ya Ibunda, ya penolong kami,

dengan mata yang memancarkan kasihan pandanglah kami.

Dan kelak tunjukkanlah kepada kami

Yesus, buah rahimmu yang terpuji.

Maria, yang pemurah, ya Perawan yang baik hati.

MENYIAPKAN MISA LINGKUNGAN

Misa Lingkungan seringkali dipandang sebagai sebuah kegiatan wajib belaka, sehingga kerap kali tidak disiapkan dengan baik. Padahal misa Lingkungan bila disiapkan dengan baik dapat bermanfaat untuk memupuk iman lebih dalam lagi bagi umat basis.

Dalam mempersiapkannya pun, umat dapat belajar untuk saling bekerja sama, saling menghargai, dan terutama belajar untuk lebih mencintai Ekaristi. Dengan umat yang lebih sedikit, imam yang memimpin perayaan dapat menyapa umat lebih dekat lagi dalam doa dan homili sehingga lebih mengena bagi mereka yang hadir.

Apa saja yang perlu disiapkan dalam menyelenggarakan misa di lingkungan? Lewat tulisan ini saya akan berusaha menjawab. Dalam misa apapun dan dimanapun, sebuah misa pasti memiliki faktor-faktor penunjang perayaan:

  1. Para pelayan
  2. Tempat pelaksanaan dan peralatan misa
  3. Bacaan dan homili
  4. Rumus Misa dan Doa-doa
  5. Nyanyian-nyanyian
  6. Faktor lain.

Berikut ini adalah penjabarannya sehubungan dengan Misa Lingkungan :

1. PARA PELAYAN

Pelayan utama dalam sebuah misa adalah pemimpin perayaan yaitu imam. Misa tidak dapat berlangsung tanpa kehadiran seorang imam. Misa lingkungan kadang diadakan bersamaan kunjungan romo paroki ke lingkungan, sehingga umat lingkungan tidak bisa memilih romo sendiri. Dalam kesempatan lain seperti misa pemberkatan rumah, misa arwah, atau misa dalam ujud tertentu, umat lingkungan dapat meminta romo manapun. Namun demikian hendaknya diprioritaskan romo paroki karena merekalah yang diserahi tugas oleh Uskup untuk menjadi gembala di paroki. Sangat penting untuk meminta persetujuan romo paroki jika ingin meminta romo selain romo paroki.

Selain itu juga ada pelayan lain untuk menunjang kelancaran misa di lingkungan. Pada tempat pertama adalah Lektor yang kepada mereka telah diberikan tugas untuk membaca Sabda Allah dalam perayaan Ekaristi. Memberikan tugas membaca Sabda Allah kepada Lektor, adalah langkah pertama untuk lebih mencintai Sabda Allah yang dihidangkan dalam perayaan Ekaristi. Bila di lingkungan tidak ada Lektor, tugas ini dapat diberikan kepada orang lain yang paling cakap membaca, dan harus disiapkan dengan baik jauh hari sebelumnya, tidak ditunjuk tepat sebelum misa dimulai.

Juga diperlukan seorang pemandu nyanyian, yang bisa ditugaskan kepada warga yang paling terampil menyanyi. Ia tidak harus menjadi dirigen yang mengaba-aba dengan tangan. Bisa menyanyikan lagu dengan baik dan benar sudah lebih dari cukup sehingga umat yang lain bisa mengikutinya.

Tidak semua lingkungan memiliki organis. Jika punya, sebaiknya mereka menjalankan tugasnya. Misa lingkungan dapat juga dijadikan sarana “uji coba” bagi calon organis yang belum berani tugas misa minggu di gereja. Walaupun uji coba tentu juga harus disiapkan dengan baik supaya tidak malah mengganggu kekhidmatan misa.

Kaum muda dan anak-anak bisa dilibatkan sebagai pembaca doa umat. Tugas membaca doa umat bisa diberikan kepada siapa saja di antara umat beriman sehingga kaum muda dan anak-anak pun boleh membaca doa umat.

Mereka juga bisa dilibatkan sebagai pengantar persembahan. Walaupun jarang dilakukan dalam misa lingkungan, mengantar persembahan bukanlah tidak mungkin dilakukan. Bahan persembahan adalah roti dan anggur, serta kolekte.

Kalau umat yang hadir cukup banyak, juga diperlukan prodiakon. Tugas utama prodiakon adalah membantu imam membagi komuni jika umat yang hadir terlalu banyak sehingga kalau imam sendirian membagi komuni dikhawatirkan prosesi komuni memakan waktu yang cukup lama. Maka, jika umat yang hadir tidak terlalu banyak, tidak diperlukan prodiakon. Jika memungkinkan, memang sebaiknya Komuni Kudus diterima dari tangan imam.

2. TEMPAT PELAKSANAAN DAN PERALATAN MISA

Untuk melaksanakan sebuah perayaan tentu memerlukan tempat yang bisa menampung umat yang hadir. Idealnya semua umat dapat melihat imam dan altar tempat perjamuan dilangsungkan. Makanya gereja selalu dibangun dengan bentuk yang mendukung kondisi itu. Yang ideal ini terkadang sulit dilakukan di misa lingkungan yang kadang-kadang tempatnya digilir di antara warga lingkungan. Maka perlu dipertimbangkan beberapa hal.

Untuk menyelenggarakan misa diperlukan sebuah meja sebagai altar. Altar ini harus ditutupi kain putih polos dengan dua buah lilin di atasnya dan sebuah salib dengan sosok Yesus tersalib. Bila kebetulan pada hari itu dirayakan pesta atau hari raya, dapat dipasang empat buah lilin. Karena meja altar adalah tempat suci, maka yang tidak berhubungan langsung dengan perjamuan seperti hiasan bunga hendaknya tidak diletakkan di atas meja altar. Hiasan bunga dapat diletakkan di sekitar meja altar dan bukan di atasnya.

Meja altar sebaiknya diletakkan pada posisi dimana umat paling mudah melihat imam. Jika tidak mungkin semuanya melihat, paling tidak posisi itu yang paling memungkinkan sebanyak mungkin umat dapat melihat. Hal ini sehubungan dengan sebuah tindakan liturgis, dimana imam menunjukkan Tubuh dan Darah Kristus saat konsekrasi kepada umat, dan umat memandangnya.

Peralatan misa (piala, sibori, tempat anggur) dan bahan persembahan (hosti dan anggur) biasanya disiapkan oleh romo yang memimpin perayaan. Bila tidak, dapat minta ke koster gereja untuk minta disiapkan.

Apabila tempat misa dilangsungkan cukup besar dan umat yang hadir juga cukup banyak, diperlukan sound system. Misa adalah perayaan iman jemaat, sehingga setiap detail doa, nyanyian, bacaan dan homili, sebaiknya dapat dilihat dan didengar setiap umat yang hadir. Jangan sampai ada umat yang sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang berlangsung karena mereka memiliki hak untuk merayakan Ekaristi, dan adalah kewajiban penyelenggara untuk memenuhi hak tersebut. Kalau karena tempat tidak semua umat bisa melihat, jangan sampai mereka juga tidak bisa mendengar.

Bila diadakan pemberkatan rumah diperlukan air suci dan hisop untuk pemercikan. Air suci dapat dipakai air putih biasa dan diberkati oleh imam, sedangkan hisop bisa pinjam gereja atau prodiakon kadang juga punya. Air suci dan hisop juga bisa dipakai bila digunakan pemercikan (asperges me) sebagai pengganti seruan tobat.

Dalam tradisi liturgi juga dikenal bel sebagai penanda turunnya Roh Kudus saat konsekrasi. Alangkah baiknya jika setiap lingkungan punya bel sendiri yang dapat digunakan saat misa. Tidak perlu bel yang besar seperti di gereja, cukup bel dengan satu bandul saja seperti penjual es keliling. Umat yang pernah jadi misdinar pasti tahu cara pemakaiannya. Selain itu dalam misa arwah pada hari pemakaman, juga diperlukan wiruk/turibulum untuk mendupai jenazah. Biasanya hanya gereja yang punya alat ini, namun tidak ada salahnya lingkungan atau wilayah punya alat ini.

3. BACAAN DAN HOMILI

Penyelenggara misa di lingkungan juga perlu tahu kalender liturgi yang memuat bacaan harian sepanjang tahun. Biasanya misa lingkungan menggunakan pemilihan bacaan dari kalender liturgi. Dalam kesempatan khusus seperti pemberkatan rumah atau peringatan lainnya bisa menggunakan bacaan yang dipilih sendiri. Baik menggunakan bacaan dari kalender liturgi maupun memilih sendiri, harus sepersetujuan romo yang memimpin perayaan.

Salah satu bagian pokok dari Liturgi Sabda yang sering dihilangkan dengan semena-mena adalah Mazmur Tanggapan. Rumus bacaan di kalender liturgi selalu memuat mazmur tanggapan, sehingga harus dibacakan atau dinyanyikan, dan tidak boleh diganti dengan lagu atau bacaan lain. Bila memilih bacaan sendiri, pada bagian ini dapat dinyanyikan lagu di puji syukur yang teksnya diambil dari mazmur seperti PS 646, 677, 568, dll.

Homili utamanya bermanfaat untuk menguraikan isi bacaan pada hari itu dan mengaitkannya dalam hidup sehari-hari. Terkadang di umat basis sedang ada kondisi khusus misalnya perpecahan atau perdamaian, pengurus lingkungan juga dapat meminta romo untuk berhomili terkait kondisi tersebut.

4. RUMUS MISA DAN DOA-DOA

Rumus misa terkait dengan bagian-bagian yang tetap, yang selalu ada pada setiap misa.

Ada bagian-bagian yang harus mengikuti ketentuan dan tidak boleh membuat baru: seruan tobat memilih dari beberapa cara yang ada, kemuliaan dinyanyikan pada hari minggu dan hari raya, syahadat pada hari minggu dan hari raya, prefasi dan doa syukur agung memilih dari yang sudah ada.

Ada pula bagian yang dapat dibuat baru oleh imam namun seturut hakekatnya adalah doa pemimpin, sehingga hanya imam yang mengucapkannya sedangkan umat menghayatinya dan menyetujuinya lewat seruan “Amin”, yaitu : doa pembukaan, doa persiapan persembahan, doa damai, dan doa sesudah komuni. Pengurus lingkungan bisa meminta imam memasukkan dalam doa-doa ini ujud khusus menyangkut lingkungan tersebut, supaya lewat doa-doa ini umat merasa tersapa secara lebih khusus.

Doa umat sebaiknya disiapkan oleh pengurus lingkungan dan tidak spontanitas umat. Perlu dimasukkan ujud bagi kepentingan Gereja (Bapa Suci, Uskup dan para imam), kepentingan negara, dan kepentingan umat setempat. Ujud bagi kepentingan umat setempat dapat dimanfaatkan untuk mendoakan orang-orang tertentu di lingkungan tersebut, seperti mohon kesembuhan, syukur atas ulang tahun, lulus kuliah, dll. Namun hendaknya ujud-ujud khusus itu dibuat ringkas sehingga tidak makan terlalu banyak waktu.

5. NYANYIAN-NYANYIAN

Karena misa adalah perayaan Gereja, maka perlu mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja, diantaranya menggunakan lagu yang telah disahkan atau yang syairnya berasal dari Kitab Suci dan sumber-sumber liturgi. Pemilihan nyanyian perlu dilakukan dengan cermat, sesuai dengan tema dan bacaan pada hari itu, sehingga nyanyian benar-benar menunjang keseluruhan perayaan. Maka, untuk pemilihan nyanyian pada tempat pertama diambil dari Puji Syukur sebagai buku resmi yang disahkan KWI. Dalam misa dengan sedikit umat, sangat penting untuk melibatkan seluruh yang hadir untuk ikut menyanyi.

Lagu-lagu untuk misa adalah: Lagu Pembukaan, Tuhan Kasihanilah Kami, Kemuliaan (saat hari raya), Mazmur Tanggapan (bukan lagu antarbacaan), Bait Pengantar Injil, Lagu Persembahan, Kudus, Bapa Kami, Anakdomba Allah, Lagu Komuni, dan Lagu Penutup.

Sekali lagi, Mazmur Tanggapan adalah bagian pokok dari Liturgi Sabda yang tidak dapat dihilangkan atau diganti dengan lagu lain. Sehingga untuk bagian itu jika tidak dinyanyikan, menggunakan yang ada di kalender liturgi. Bila ingin dinyanyikan dapat melihat indeks di buku Mazmur Tanggapan Dan Alleluya.

6. FAKTOR LAIN

Latihan

Dalam rangka menyiapkan misa minggu, para petugas pastilah menyiapkan diri dengan latihan-latihan supaya dapat memberikan yang terbaik saat tugas nanti. Dengan demikian perayaan dapat berjalan lancar dan semua yang hadir terbantu dengan pelayanan yang diberikan para petugas.

Begitu pula misa di lingkungan, bila para petugas mempersiapkan diri dengan latihan-latihan tentu juga akan bisa memberikan yang terbaik. Petugas yang memerlukan latihan terutama adalah Lektor dan Pemandu Nyanyian. Agar bisa menyampaikan Sabda Allah dengan baik, seorang lektor dituntut dengan latihan yang baik pula.

Demikian juga pemandu nyanyian perlu menyiapkan diri, jangan sampai ia yang ditunjuk untuk memandu nyanyian malah kurang lancar menyanyikan, tentu yang seperti ini bisa malah mengganggu. Bila perlu dibuat kor kecil beranggota 5-7 orang sebagai pemandu nyanyian. Mereka yang nanti menjadi “motor” dalam setiap nyanyian. Kor kecil ini akan berfungsi maksimal bila melakukan latihan-latihan. Sebelum misa dimulai juga sebaiknya umat dilatih menyanyikan beberapa atau seluruh lagu.

Latihan juga bisa diadakan bagi pembaca doa umat, dan pengantar persembahan (bila ada), terutama jika petugas-petugas itu adalah anak-anak yang belum biasa terlibat dalam tugas-tugas liturgi.

Suasana Doa

Karena diadakan di rumah, suasana doa bisa tidak tercipta dengan kondusif, mengingat rumah memang bukan tempat doa seperti gereja. Oleh karena itu suasana doa perlu diciptakan dengan baik. Hindari kesibukan menyiapkan makanan ketika umat tengah bersiap mengikuti misa.

Sediakanlah waktu sekitar 15-30 menit sebelum misa dimulai untuk membawa umat ke dalam suasana doa. Waktu ini bisa diisi dengan latihan lagu yang akan dinyanyikan, informasi terkait tata gerak, dan terutama melalui doa.

Pendidikan Liturgi

Misa lingkungan bisa dijadikan sarana efektif untuk memberikan pendidikan liturgi karena diikuti sedikit umat. Para katekis, pengurus lingkungan dan prodiakon dapat memberikan petunjuk singkat sebelum misa atau pada pertemuan sebelum hari misa, tentang segala kebiasaan umat yang tidak sesuai dengan kaidah liturgi.

Misalnya yang masih sering terjadi, umat tidak membungkukkan badan saat Aku Percaya pada bagian “yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria.”; juga pada saat Doa Damai dimana umat masih mengucapkan bagian “Tuhan Yesus Kristus jangan memperhitungkan dosa kami dst” yang seharusnya hanya diucapkan oleh imam; juga untuk melatih umat memberikan salam damai hanya pada orang di kiri-kanan, depan-belakang saja dan tidak berjalan kesana kemari.

Kolekte

Kolekte adalah sumbangan umat untuk keperluan Gereja dan bagi kepentingan orang miskin. Dalam konteks misa lingkungan, dapat dipersembahkan dana yang dikumpulkan dari umat untuk kepentingan sosial tertentu, misalnya membantu warga yang kebanjiran, memberikan modal usaha bagi orang miskin, dll.

Anak-anak dan kaum muda juga bisa dilatih untuk mengumpulkan uang secara teratur untuk disumbangkan kepada orang miskin. Uang yang dikumpulkan ini akan bernilai rohani bagi mereka jika dipersembahkan kepada Tuhan pada saat kolekte di misa lingkungan. Anak-anak tentu akan merasa bangga bila usaha mereka diberi arti sebagai persembahan umat kepada Tuhan.

KESIMPULAN

Demikian artikel ini saya tuliskan untuk membantu siapa saja yang pernah, masih, atau akan terlibat dalam kepengurusan lingkungan yang pasti suatu saat akan berhubungan dengan pelaksanaan misa di lingkungan. Dalam persiapan, harus dikedepankan komunikasi antara semua yang terlibat, khususnya dengan romo yang memimpin perayaan.

Semoga bermanfaat....

MENYIAPKAN LITURGI PERKAWINAN

Banyak orang yang bingung menyiapkan saat perkawinan mereka, karena banyak yang harus mereka urus baik menyangkut unsur-unsur pokok sebuah perkawinan, maupun unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur pokok dalam sebuah perkawinan katolik adalah penerimaan Sakramen Perkawinan di hadapan pejabat Gereja, yang untuk menuju kesana pun ternyata harus melalui jalan yang sama sekali tidak mudah, dan seringkali membingungkan.

Terkadang banyak pasangan yang tidak terlalu memperdulikan unsur pokok ini, dan cenderung lebih memperhatikan unsur tambahan seperti resepsi dan bulan madu. Padahal tanpa yang pokok ini, yang tambahan tidak akan berarti apa-apa. Lewat yang pokok inilah cinta mereka disatukan oleh Tuhan sendiri.

Lewat tulisan ini saya ingin membagikan pengalaman saya kepada anda semua yang akan menikah atau diminta menjadi panitia perkawinan teman atau saudara anda. Pengalaman yang saya bagikan terbatas pada unsur-unsur pokok saja. Semoga tidak membuat anda tambah bingung.


APA YANG PERLU DISIAPKAN PERTAMA KALI

  1. Anda harus punya pasangan dulu yang akan anda ajak menikah. Disarankan: Pasangan ini harus berbeda kelamin dengan anda, dan harus berada dalam posisi bebas, alias masih lajang, atau sudah pernah menikah namun dimungkinkan oleh hukum Gereja untuk menikah lagi. Tidak disarankan: Pasangan dengan kelamin yang sama. Gereja Katolik sangat menentang perkawinan sejenis . Jangan pula menikahi anak di bawah umur, karena dapat membawa anda masuk penjara.
  2. Tentukan tanggal perkawinan anda dan romo yang akan memimpin liturgi perkawinan. Disarankan: Selama ini yang lazim dilakukan adalah misa khusus untuk perkawinan. Namun, Gereja memiliki beberapa aturan yang tidak memungkinkan pada hari-hari tertentu dilangsungkan misa perkawinan, yang terkadang tidak dipatuhi oleh para romo. Ada juga keuskupan tertentu yang melarang misa khusus untuk perkawinan, sehingga perkawinan dilangsungkan tanpa misa. Hal-hal seperti ini tentu perlu dikomunikasikan dengan romo yang akan memimpin perkawinan anda, atau romo paroki tempat anda domisili atau romo paroki tempat anda akan melangsungkan perkawinan. Terbuka pula kemungkinan melangsungkan perkawinan pada salah satu misa umat. Bisa juga dalam misa perkawinan memakai rumus bacaan dan doa hari Minggu supaya umat yang menghadiri perkawinan anda sekaligus memenuhi kewajiban misa Minggu. Sekali lagi, komunikasikan dengan romo paroki anda. Tidak disarankan: Menentukan tanggal perkawinan tanpa sebelumnya berkomunikasi dengan romo-romo tersebut di atas. Pernah terjadi sepasang calon pengantin menghadap romo, minta melangsungkan perkawinan pada tanggal tertentu. Ternyata pada tanggal tersebut jadwal perkawinan di gereja maupun jadwal romonya sendiri sudah penuh. Padahal calon pengantin ini sudah membooking gedung resepsi, catering, dekorasi, dll. Jadi sebelum mengurus unsur tambahan (resepsi dll) pastikan dulu unsur pokoknya terpenuhi dengan baik.
  3. Pilih gereja tempat melangsungkan perkawinan. Disarankan: Jika paroki anda sudah punya gedung gereja sendiri, pakailah itu saja. Terkadang ada pasangan yang memiliki memori tertentu di sebuah gereja kemudian memilih gereja tersebut. Atau bisa juga karena pertimbangan estetika dan keindahan, kemudian memilih gereja yang dapat memenuhinya. Seperti ini sama sekali tidak dilarang. Hanya juga perlu dipertimbangkan seberapa jauh lokasi gereja itu dari tempat domisili anda dan keluarga serta orang-orang yang akan anda undang untuk ikut menghadiri perkawinan anda. Jika terlalu jauh bukankah malah merepotkan? Tidak disarankan: Memilih gereja protestan, apalagi merayakan misa di situ.
  4. Penuhi semua persyaratan administrasi tanpa kecuali. Disarankan: Temui petugas sekretariat paroki untuk bertanya tentang apa saja yang harus dipenuhi dalam persiapan perkawinan. Sekretariat paroki tentu akan memberitahu langkah-langkah apa saja yang harus ditempuh. Jika anda dan pasangan anda berbeda paroki atau bahkan berbeda keuskupan, sering-seringlah bertanya karena sangat mungkin lain paroki/keuskupan lain pula aturan administrasinya. Biasanya yang harus dipenuhi adalah: surat pengantar ketua lingkungan domisili, surat baptis yang diperbarui (minta ke paroki tempat dibaptis), mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (untuk ini juga ada syarat administrasi tertentu), fotocopy akta kelahiran, kartu keluarga dll, pas foto, dan setelah semuanya itu selesai baru memasuki tahap penyelidikan kanonik. Setelah penyelidikan kanonik, dan oleh romo yang memeriksa dinyatakan boleh menikah, baru nama anda dan pasangan anda akan diumumkan 3 minggu berturut-turut di gereja. Bila pasangan anda beda gereja atau beda agama, proses dan syaratnya tentu akan lebih banyak dari yang saya paparkan ini. Tidak disarankan: Bertanya kepada teman atau orang tua jika tidak tahu. Tanyakan langsung kepada sekretariat paroki. Ingat kata pepatah, “Malu bertanya sesat dijalan.”

JENIS PERAYAAN PERKAWINAN

Jika semua persyaratan administrasi sudah anda penuhi, saatnya memikirkan liturgi perkawinan. Perayaan liturgi yang baik adalah perayaan yang bisa menghasilkan buah yang baik. Menghasilkan buah berarti dalam perayaan itu siapa saja yang hadir dapat memetik manfaat dan dari situ membuat hidup rohaninya menjadi lebih baik.

Dalam perayaan liturgi perkawinan, buah yang baik ini diharapkan pertama-tama dipetik oleh pasangan yang menikah, kemudian baru seluruh umat yang hadir. Untuk menghasilkan buah yang baik, sebuah perayaan liturgi tentu harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya pula.

Ada alternatif apa saja untuk melangsungkan perayaan perkawinan?

  1. Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa yang tidak memenuhi kewajiban hari Minggu
  2. Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa yang memenuhi kewajiban hari Minggu
  3. Penerimaan Sakramen Perkawinan di tengah misa umat hari Minggu
  4. Penerimaan Sakramen Perkawinan tanpa misa

Untuk bisa memahami istilah-istilah di atas, perlu dijabarkan secara sederhana:

  • Bagian pokok dari misa adalah Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, dengan Ritus Pembuka dan Ritus Penutup sebagai bagian pendukung.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa (baik yang memenuhi maupun tidak memenuhi kewajiban hari Minggu, maupun di tengah misa umat hari minggu) tetap terdiri dari dua bagian pokok tersebut, dengan ditambahkan Liturgi Perkawinan di tengahnya. Sehingga susunannya menjadi Ritus Pembuka-Liturgi Sabda-Liturgi Perkawinan-Liturgi Ekaristi-Ritus Penutup.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa yang tidak memenuhi kewajiban hari Minggu, berarti dalam perayaan tersebut semua doa, bacaan dan lagu memakai tema perkawinan. Kebanyakan perkawinan, khususnya di Jakarta, memakai jenis ini, dan dapat dilangsungkan pada hari apa saja kecuali hari-hari tertentu yang melarang dilangsungkan perkawinan.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa yang memenuhi kewajiban hari Minggu, hanya bisa dilangsungkan pada hari Minggu, dengan jam khusus yang berbeda dari misa reguler. Berarti doa, bacaan, dan lagu menggunakan rumus misa hari Minggu tersebut. Salah satu bacaan dapat dipilih dengan tema perkawinan. Begitu juga lagu-lagu setelah berkat penutup dapat memakai lagu tema perkawinan.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan di tengah misa umat hari Minggu, berarti mengambil jam dimana misa biasa dilangsungkan, dengan semua doa, bacaan, dan lagu dari rumus misa hari itu. Setelah homili dilangsungkan Liturgi Perkawinan untuk mempelai yang menikah. Dan setelah itu misa seperti biasa.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan tanpa misa menghilangkan Liturgi Ekaristi, sehingga susunannya: Ritus Pembuka-Liturgi Sabda-Liturgi Pernikahan-Ritus Penutup.
  • Manapun jenis yang anda pilih tidak berpengaruh apapun terhadap Sakramen Perkawinan yang akan anda terima.

Apa saja bagian pokok dan pelengkap dari Liturgi Perkawinan?

Bagian pokok dari Liturgi Perkawinan adalah:

  1. Pernyataan kesediaan mempelai, bahwa pernikahan yang akan dilangsungkan sungguh dengan ikhlas hati, dan bersedia menjadi orang tua yang baik serta mendidik anak-anak secara katolik. Bentuk pernyataan sendiri dapat berupa tanya jawab, bisa juga dengan satu pernyataan utuh.
  2. Kesepakatan pernikahan, dimana kedua mempelai saling mengucapkan janji nikah. Pengucapan janji nikah ini boleh memilih dari bentuk yang ada:
    • Dalam bentuk pengambilan sumpah,
    • Saling berjabat tangan,
    • Tanya jawab.
  3. Peneguhan oleh imam, bahwa pernikahan yang dilangsungkan adalah pernikahan katolik yang sah.
  4. Doa untuk mempelai. Bagian ini dapat dipindahkan setelah Bapa Kami.

Bagian pelengkap dari Liturgi Pernikahan adalah:

  1. Pemberkatan dan pemasangan cincin
  2. Pemberkatan dan pemberian kitab suci, salib, rosario, patung rohani.
  3. Sungkem kepada orang tua

PETUGAS LITURGI

Setelah anda memilih alternatif mana yang anda pilih dan disetujui oleh romo, saatnya anda memilih dan menentukan petugas-petugas untuk membantu kelancaran, kekhidmatan dan keagungan pernikahan anda. Inilah petugas yang anda butuhkan:

1. Romo. Tentu saja setiap perayaan sakramen memerlukan romo. Anda bisa pilih romo paroki anda, romo yang dekat dengan anda, atau romo yang kebetulan masih keluarga anda, atau bahkan romo paroki tetangga yang tidak anda kenal. Manapun yang anda pilih tetap utamakan komunikasi.

2. Saksi. Untuk sahnya pernikahan katolik diperlukan dua orang saksi untuk menyaksikan pernikahan. Identitas saksi ini biasanya harus sudah jelas saat penyelidikan kanonik. Kehadiran saksi sesuai dokumen kanonik mutlak perlu, karena mereka nanti juga akan menandatangani dokumen tersebut. Saksi harus beragama katolik dan sebaiknya memiliki hidup berkeluarga yang baik dan patut dicontoh.

3. Kelompok koor. Manapun kelompok yang anda pilih, sebaiknya pertimbangkan faktor kedekatan anda/pasangan atau keluarga anda/pasangan dengan kelompok tersebut. Mereka yang punya faktor ini tentu akan bernyanyi dengan lebih berperasaan, bukan karena diberi sesuatu tapi karena ingin memberikan yang terbaik.

4. Pemain musik. Kebanyakan kelompok koor memiliki organis sendiri. Jika koor yang anda pilih sudah punya organis, anda tidak perlu repot memikirkan lagi. Tapi jika anda menginginkan lebih dari sekedar organis (misalnya orkes), anda perlu menyiapkan dana besar untuk menyewa pemain orkes.

5. Prodiakon. Pernahkah anda menghadiri misa pernikahan yang dihadiri banyak sekali umat, sementara romo sendirian membagikan komuni, antrian masih panjang tapi koor sudah kehabisan lagu? Jangan sampai ini terjadi pada pernikahan anda. Perhitungkan dengan cermat berapa kira-kira jumlah umat yang menghadiri pernikahan anda. Dan sekiranya cukup banyak, anda memerlukan prodiakon untuk membantu romo membagi komuni. Prodiakon tidak diperlukan jika umat yang hadir tidak terlalu banyak.

6. Misdinar / Putra Altar. Bagaimanapun bentuk perayaan yang anda inginkan, tetap memerlukan kehadiran seorang atau sepasang misdinar untuk membantu romo di panti imam.

7. Lektor. Setiap paroki pasti memiliki orang-orang yang dikhususkan untuk pelayanan sebagai lektor, yang bertugas membacakan bacaan pertama dan kedua dan kalau perlu, mazmur tanggapan. Idealnya merekalah yang bertugas sebagai pembaca bacaan pertama, sekalipun dalam perayaan pernikahan. Tugas ini bukanlah tugas adik atau kakak atau sepupu anda, yang belum tentu dapat membacakan dengan baik. Tugas ini adalah tugas lektor yang memang dilatih untuk itu. Sabda Allah yang dihidangkan kepada umat (tidak hanya anda sebagai pengantin) tentu perlu dihidangkan dengan sebaik-baiknya, dan bukan sembarangan. Sama seperti tidak semua orang boleh membagi komuni dalam Liturgi Ekaristi, begitu pula tidak semua orang boleh membaca Sabda Allah dalam Liturgi Sabda.

8. Koster. Jika anda menginginkan pernikahan yang agak beda dari yang sudah lazim dirayakan, sangat perlu dikoordinasikan dengan koster yang menyiapkan perlengkapan perayaan. Misalnya jika anda ingin sungkem tidak hanya kepada orang tua tapi juga kepada kakek nenek, tentu koster perlu menyiapkan kursi lebih banyak. Ingat pula bahwa terkadang koster juga mengoperasikan sound system gereja.

9. Penghias Altar. Ada paroki yang tidak mengijinkan dekorator profesional untuk menghias altar, hal ini dikarenakan hiasan altar juga bagian dari liturgi dan oleh karena itu juga perlu disiapkan dengan baik. Karena bunga itu juga tidak gratis, jika anda ingin lebih dari hiasan mingguan, juga perlu membayar lebih. Alangkah baiknya jika bunga pernikahan anda juga dapat dipakai untuk hiasan misa Minggu, hitung-hitung menyumbang untuk gereja.

10. Satpam/Penjaga Parkir. Di gereja tertentu, dimana berbagi ruang parkir dengan sekolah yang ada di sampingnya, persoalan parkir dan keamanan bisa menimbulkan masalah. Tanpa koordinasi, potensial terjadi penumpukan kendaraan atau bahkan mobil pengantin tidak bisa masuk pelataran gereja.

11. Wakil Keluarga. Wakil keluarga nantinya bertugas untuk menyerahkan pasangan pengantin kepada romo untuk diresmikan di awal perayaan pernikahan. Sebaiknya wakil keluarga ini dari kerabat dekat atau ketua lingkungan.

12. Petugas Persembahan. Jika anda menghendaki diadakan misa, maka perlu petugas pengantar persembahan. Idealnya yang dihantar adalah roti dan anggur saja. Jika pernikahan tanpa misa tidak perlu ada perarakan bahan persembahan.

13. Petugas Kolekte (fakultatif). Tidak semua paroki mengadakan kolekte saat perayaan pernikahan di jam khusus. Maka komunikasikan dengan romo paroki tempat dilangsungkan pernikahan.

14. Koordinator liturgi. Sekalipun anda menyiapkan segala sesuatunya dengan matang, pada saat pernikahan, anda berada di depan altar, di situ saja dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika terjadi sesuatu. Untuk itu anda membutuhkan seseorang atau panitia kecil yang bertugas untuk mencek segala sesuatu yang sudah anda siapkan. Misalnya koornya sudah siap atau belum, saksi apakah sudah hadir, sound system apakah sudah siap, dll. Orang seperti ini haruslah yang berpengalaman menangani kegiatan liturgi, misalnya prodiakon atau seksi liturgi lingkungan.

PERLENGKAPAN

Selain menentukan petugas, anda juga perlu menyiapkan benda apa saja yang dibutuhkan untuk perayaan pernikahan anda. Biasanya dalam setiap pernikahan ada barang-barang ini:

Disiapkan koster:

  • Wireless; Terkadang masalah sound system berpengaruh terhadap khidmatnya suatu perayaan. Jumlah microphone / wireless yang terbatas bisa mengganggu juga. Untuk itu tanyakan ke koster bisa menyediakan berapa microphone / wireless untuk liturgi pernikahan. Jumlah yang ideal adalah 3 buah: satu untuk romo, satu untuk pengantin pria dan satu lagi untuk pengantin wanita. Namun bisa juga 2 buah saja: satu untuk romo dan satu lagi bergantian pengantin pria dengan wanita.
  • Tempat air suci dan hisop; Seperti lazimnya perayaan pernikahan ada pemberkatan benda-benda rohani yang diperciki dengan air suci.
  • Bahan persembahan Piala dan tempat anggur; Sama seperti misa hari minggu. Jika anda ingin melibatkan lebih banyak petugas pengantar persembahan, anda juga dapat meminta sibori untuk dihantar saat persembahan.

Disiapkan pengantin

  • Cincin
  • Kitab Suci, Salib, Rosario
  • Buku Panduan; walaupun tidak harus ada, namun bisa sangat membantu pengantin maupun umat yang hadir. Sebaiknya isi buku panduan ini diambil dari teks resmi dan disetujui oleh romo yang akan memimpin perayaan.
  • Lilin untuk doa kepada Bunda Maria

PEMILIHAN LAGU

Hendaknya sungguh dihindarkan pemilihan lagu-lagu profan yang dinyanyikan artis-artis pop. Gunakanlah lagu liturgis yang memang diciptakan untuk keperluan liturgi, atau lagu-lagu yang syairnya diambil dari Alkitab atau sumber-sumber liturgi. Pemilihan lagu yang sembarangan tidak hanya mencederai kualitas perayaan, tapi juga menjadi contoh yang tidak baik bagi umat yang hadir. Ingat, fokus perayaan pernikahan bukan hanya pada dua insan yang hendak menikah, tapi juga Allah yang mempersatukan, sehingga lagu-lagunya pun harus senantiasa terarah kepada Allah Bapa yang mempersatukan itu.

PEMILIHAN BACAAN

Berikut ini pilihan bacaan untuk perayaan pernikahan :

TEMA 1 PUJIAN CINTA

BACAAN I:

Pilihan 1:Pembacaan dari kitab Kidung Agung 2:8-10.14.16a; 8:6-7a
Pilihan 2: Pembacaan dari surat pertama rasul Yohanes: 4:7-12
Pilihan 3: Pembacaan dari surat pertama rasul Paulus kepada umat di Korintus 12:31-13:8a

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 15:9-12 Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 22:35-40

TEMA 2 PERJANJIAN SETIA

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab nabi Yeremia 31:31-32a.33-34a
Pilihan 2: Pembacaan dari surat rasul Paulus kepada umat di Efesus 5:2a.21-33
Pilihan 3: Pembacaan dari surat Rasul Paulus kepada umat di Roma 8:31b-35.37-39.
Pilihan 4: Pembacaan dari kitab Wahyu 19:1-9a

BACAAN INJIL : Inilah Injil Yesus Kristus menurut santo Matius 19:3-6

TEMA 3 KEBAHAGIAAN ITU BERKAT TUHAN DAN TANGGUNGJAWAB KITA

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Putera Sirakh 26:14.16-21
Pilihan 2: Pembacaan dari kitab Kejadian: 24:48-51.58-67
Pilihan 3: Pembacaan dari kitab Tobit: 8:5-10
Pilihan 4: Pembacaan dari surat rasul Paulus kepada umat di Kolose 3:12-17
Pilihan 5: Pembacaan dari surat pertama rasul Yohanes 3:18-24

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 15:12-16
Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 2:1-11


TEMA 4 CINTA MEMPERSATUKAN

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Kejadian 2:18-24
Pilihan 2:Pembacaan dari kitab Tobit 7:9c-10.11c-17
Pilihan 3: Pembacaan dari surat pertama rasul Petrus 3:1-9

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 17:20-26
Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Markus 10:6-9

TEMA 5: CINTA BERKURBAN

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Kejadian 1:26-28.31a
Pilihan 2: Pembacaan dari surat rasul Paulus kepada umat di Roma 12:1-2.9-18
Pilihan 3: Pembacaan dari surat pertama rasul Paulus kepada umat di Korintus 6:13c-15a.17-20

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 5:13-16
Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut santo Matius 7:21.24-29
Pilihan 3: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 5:1-12a


PERAYAAN PERNIKAHAN

Tinggal satu hal yang mungkin paling ribet, namun krusial, yaitu bagaimana perayaan berjalan. Berikut ini saya sajikan perincian perayaan pernikahan mulai dari awal sampai akhir:

Persiapan sebelum perayaan

MC memberikan petunjuk

Petunjuk apa yang diberikan? Patut diingat bahwa dalam perayaan pernikahan, yang hadir di gereja tidak hanya yang katolik saja, tapi juga terkadang anggota keluarga non katolik. Terkadang mereka tidak tahu sikap yang wajar di dalam gereja, dan untuk itu perlu diberitahukan. Pengumuman supaya jangan makan minum di dalam gereja, mematikan handphone, atau menjaga ketenangan tetap perlu diumumkan sebelum perayaan berlangsung. Selain itu juga perlu diumumkan agar umat mengikuti tata gerak yang lazim berlaku, tidak hanya sebagai penonton, tapi juga turut aktif lewat tata gerak dan jawaban umat.

Penyambutan dan penyerahan pengantin

Ada dua model acara ini:

Pertama, penyambutan di pintu gereja, dimana imam dan misdinar berjalan ke pintu untuk menyambut mempelai, kemudian semuanya kirab menuju altar. Kalau cara ini yang dipilih, penyerahan dari wakil keluarga dilakukan di pintu gereja.

Kedua, imam dan pengantin pria menunggu di bawah panti imam, kemudian pengantin wanita berjalan masuk didampingi ayah atau walinya. Kalau cara ini yang dipilih, penyerahan dari wakil keluarga dilakukan setibanya pengantin wanita di bawah panti imam.

Selain itu dalam acara ini juga lazim dilakukan pemercikan air suci, yang juga tidak apa-apa jika tidak dilakukan.

RITUS PEMBUKA

Tanda salib dan salam

Pengantin dan umat berdiri.

Pengantar oleh imam

Tobat

Seperti halnya misa pada umumnya, cara tobat bisa bermacam-macam, bisa dengan Saya mengaku, mendaraskan mazmur, lagu Tuhan kasihanilah kami yang diselingi doa, bisa juga pemercikan air suci (Asperges Me)

Kemuliaan (jika menggunakan rumus misa Minggu)

Doa Pembuka

Pengantin dan umat berdiri

LITURGI SABDA

Bacaan Pertama

Pengantin dan umat duduk.

Mazmur Tanggapan

Sekarang ini sudah lazim mengganti mazmur tanggapan dengan lagu antar bacaan. Kebiasaan ini sungguh tidak tepat. Mazmur tanggapan adalah bagian pokok dari liturgi sabda, dan karenanya tetap perlu dinyanyikan atau didaraskan. Memang sampai saat ini masih terasa aneh jika menyanyikan mazmur tanggapan, namun perasaan aneh itu hanya karena tidak biasa. Pengantin dapat memilih lagu mazmur tanggapan yang akrab di telinga dan siapapun pasti suka, seperti PS 646 Tuhanlah Gembalaku dan PS 677 Nyanyikanlah Nyanyian Baru. Juga bisa dipilih dari buku Mazmur Tanggapan yang diterbitkan KWI. Lagu-lagu ini dapat menjadi alternatif sementara sampai KWI mengeluarkan buku nyanyian mazmur untuk pernikahan.

Bacaan Kedua (jika menggunakan rumus misa Minggu)

Bait Pengantar Injil

Pengantin dan umat berdiri.

Bait Pengantar Injil pada hakikatnya harus dinyanyikan. Pengantin dapat meminta koor menyediakan solis untuk menyanyikan Alleluya, kemudian ayatnya diambil dari salah satu ayat Injil yang akan dibacakan.

Bacaan Injil

Homili

Pengantin dan umat duduk.

Walaupun bagi pengantin pernikahan adalah sekali seumur hidup, terkadang bagi romo hanya rutinitas belaka sehingga tidak terlalu istimewa. Sehingga ada romo yang setiap menyampaikan homili saat pernikahan selalu sama. Ada romo yang setiap homili selalu menanyakan ketemu di mana, berapa tahun pacaran, dll, kemudian ditutup dengan nasihat kalau ada masalah coba kembali ke tempat pertama bertemu. Selalu seperti itu homilinya.

Maka pengantin dapat meminta kepada romo untuk memberikan homili sesuai bacaan yang telah mereka pilih, agar melalui bacaan dan homili, mereka sungguh dapat memetik buah sebagai bekal perjalanan hidup berkeluarga.

LITURGI PERKAWINAN

Mohon restu orang tua (fakultatif)

Setiap pasangan pengantin maupun orang tua tentu menginginkan upacara sungkeman ini dilangsungkan dengan khidmat dan berkesan. Namun terkadang orang tua lupa maupun pengantin lupa, bahwa acara ini bukanlah termasuk inti perayaan, sehingga tidak ada alasan untuk berlama-lama pada saat ini. Terkadang orang tua memberikan nasihat-nasihat kepada anaknya yang akan menikah. Walaupun tidak sama sekali salah, pemberian nasihat yang terlalu lama bisa mengganggu juga. Berikanlah nasihat secukupnya, bila ingin panjang lebar bisa dilakukan di rumah atau dalam acara yang tersendiri.

Pernyataan mempelai

Pengantin berdiri didampingi para saksi, umat duduk.

Kesepakatan pernikahan / Janji Nikah

Umat berdiri.

Cara manapun yang dipilih (tanya jawab, bentuk sumpah, atau saling berjabat tangan) tetaplah sah, sehingga pengantin perlu memutuskan cara yang paling sesuai dan cocok. Walau demikian, menurut hemat saya, cara saling berjabat tangan adalah cara yang paling pas, karena dengan cara ini memungkinkan keduanya untuk saling menatap satu dengan yang lain sehingga cara ini dapat melibatkan mereka secara emosional. Selain itu karena pertimbangan praktis, dengan cara ini fotografer memiliki sudut pengambilan gambar yang lebih artistik.

Penerimaan Kesepakatan pernikahan

Doa untuk mempelai

Baik penerimaan kesepakatan pernikahan maupun doa untuk mempelai sebaiknya mengunakan rumus yang sudah ada.

Pemberkatan dan pengenaan cincin (fakultatif)

Pemberkatan dan pemberian kitab suci, salib dan rosario (fakultatif)

Syahadat (jika menggunakan rumus misa Minggu)

Doa Umat

Dalam doa umat hendaknya didoakan ujud-ujud bagi kepentingan Gereja dan umat setempat, juga bagi kedua mempelai, orang tua dan keluarga, serta pihak-pihak yang sudah membantu jalannya perayaan.

Bila tanpa misa, setelah Doa Umat langsung disambung doa Bapa Kami, doa penutup lalu Ritus Penutup.

LITURGI EKARISTI

Perarakan Persembahan

Bahan persembahan yang sebenarnya adalah roti dan anggur, pada saat ini juga dapat dihantar persembahan untuk orang miskin. Roti dan anggur nantinya akan dikonsekrir menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Kebanyakan peraya menambah bahan lain seperti buah, bunga, atau lilin yang sesungguhnya tidak punya nilai liturgi apapun. Buah biasanya akan diberikan kepada romo yang memimpin perayaan, bunga adalah bahan dekorasi bukan persembahan, lilin sedianya sudah ada di altar.

Pengantin dapat meminta siapa pun untuk menjadi petugas pengantar persembahan, perlu diperhatikan kesiapan mereka. Jangan sampai ketidaksiapan mengakibatkan perayaan menjadi kurang khidmat.

Persiapan Persembahan – Anakdomba Allah seperti misa biasa.

Hanya perlu diperhatikan pada bagian salam damai, seringkali pengantin dan keluarga ingin menyalami semua kerabat dan sahabat yang hadir. Seperti ini menciptakan suasana yang gaduh dan tidak khidmat. Pengantin, keluarga dan umat yang hadir cukup memberikan salam damai kepada orang-orang yang posisinya terdekat.

Penerimaan Komuni

Jika anda ingin menerima komuni dalam dua rupa roti dan anggur, ada yang perlu anda ketahui. Terkadang masih ada romo yang melanggar ketentuan dasar mengenai komuni dua rupa dimana awam tidak boleh mengambil hosti sendiri apalagi kemudian mencelupkan sendiri. Tidak boleh juga pengantin saling menyuapi Tubuh dan Darah Kristus. Beritahukanlah hal ini kepada romo pemimpin perayaan, mengingat belum semua romo paham aturan ini. Dengan mentaati peraturan, anda sudah memberikan penghormatan yang pantas kepada Sakramen Mahakudus. Bila perlu rujukan tentang aturan bisa lihat di http://www.imankatolik.or.id/kvii.php?d=Redemptionis+Sacramentum&q=100-107

Doa Sesudah Komuni

Pengantin dan umat berdiri

RITUS PENUTUP

Doa Penutup (khusus perayaan pernikahan tanpa misa)

Pengumuman dan sambutan

Berkat Penutup

Doa kepada Bunda Maria

Penandatanganan Berkas Kanonik

Foto Bersama

Sumber:

PARTISIPASI AKTIF UMAT BERIMAN DALAM PERAYAAN EKARISTI

Banyak umat katolik gamang menterjemahkan kata-kata "partisipasi aktif umat beriman" atau "keikutsertaan aktif umat beriman" dalam mengikuti perayaan Ekaristi. Kegamangan ini kerap kali berujung pada salah kaprah dalam memahami perayaan Ekaristi, dimana partisipasi aktif umat beriman yang dikehendaki Konsili Vatikan II diartikan sebagai pengurangan peran imam dan penambahan peran umat, baik dalam tata gerak maupun doa.

Masih segar di ingatan ketika umat katolik Indonesia ikut mengucapkan Doa Syukur Agung dan doa damai seturut TPE 1979. Sisa-sisa TPE 1979 (walau sudah digantikan TPE 2005) masih terjadi di banyak paroki dimana umat seringkali ikut mengucapkan doa damai. Masih pula sering terjadi imam mengajak umat untuk ikut mengucapkan doa-doa presidensial (Doa Pembuka, doa persiapan persembahan, dan doa sesudah komuni).

Terkadang atas nama "partisipasi aktif" umat sendiri ikut menambahkan acara sendiri dalam perayaan Ekaristi, seperti tepuk tangan yang berlebihan, dramatisasi bacaan dan homili, atau memberikan salam damai sampai jauh dari tempat duduk.

Pedoman Umum Misale Romawi Artikel 91 mengatakan:

Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus dan Gereja sebagai "sakramen kesatuan," yakni umat kudus yang berhimpun dan diatur di bawah para uskup. Oleh karena itu, perayaan Ekaristi berkaitan dengan seluruh Tubuh Gereja, mengungkapkan dan mempengaruhinya. Setiap orang yang turut merayakan Ekaristi mempunyai hak dan kewajiban untuk berpartisipasi secara aktif, masing-masing menurut cara yang sesuai dengan kedudukan dan tugasnya. Dengan cara ini, umat kristen,"bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang kudus, umat milik Allah sendiri", mengungkapkan keterpaduan dan tatanan hirarkisnya. Jadi semua orang entah pelayan tertahbis, entah umat beriman lainnya, hendaknya melakukan tugas yang menjadi bagiannya, tidak lebih dan tidak kurang.

Artikel di atas menjelaskan beberapa hal penting terkait partisipasi aktif, yaitu bahwa setiap orang beriman memiliki hak dan kewajiban untuk berpartisipasi secara aktif menurut cara yang sesuai dengan kedudukan dan tugasnya, tidak lebih dan tidak kurang. Bisa diartikan pula bahwa seorang imam tidak boleh mengambil jatah umat, dan umat tidak boleh mengambil jatah imam.

Lewat artikel ini saya mencoba untuk menguraikan bagaimana umat dapat berpartisipasi secara aktif pada setiap bagian perayaan Ekaristi sesuai tugas dan kedudukannya, tidak lebih dan tidak kurang. Umat berpartisipasi aktif dalam perayaan Ekaristi khususnya pada saat menyanyi, menjawab aklamasi dan jawaban umat atas salam dan doa imam, mendengarkan bacaan, hening, dan melakukan tata gerak tertentu.

RITUS PEMBUKA

-Nyanyian Pembukaan: Berdiri. Umat ikut menyanyikan lagu pembukaan. Nyanyian Pembukaan dimaksudkan untuk membantu menyiapkan hati dan pikiran supaya dapat mendengarkan Sabda Allah dan menyambut Ekaristi dengan layak.

-Tanda Salib dan Salam: Berdiri. Imam mengucapkan "Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus" sementara umat ikut membuat gerakan tanda salib, dan setelahnya bersama-sama mengucapkan/menyanyikan "Amin". Kemudian Imam mengucapkan salam "Tuhan sertamu/Tuhan bersamamu" dan umat menjawab "Dan sertamu juga/dan bersama rohmu". Seringkali Imam ikut menjawab sendiri "dan sertamu juga" oleh karena umat yang tidak dengan mantap menjawab seperti itu. Yang seperti itu kurang tepat, karena imam menggeser hak umat untuk menjawab.

-Pengantar dari Imam: Imam dapat memberikan pengantar singkat tentang tema perayaan hari itu, dengan mendengarkan, umat dapat lebih terbantu menyiapkan diri.

-Pernyataan Tobat: Berlutut, jika tidak ada tempat berlutut: berdiri. Ada berbagai rumus tobat yang bisa didoakan atau dinyanyikan. Umat haruslah menjawab bagian yang diperuntukkan padanya. Bila menggunakan rumusan "Saya Mengaku", pada bagian "saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa" imam dan seluruh umat menepuk dada.

-Madah Kemuliaan: Berdiri. Bersama imam dan kelompok kor menyanyikan Kemuliaan.

-Doa Pembuka: Berdiri. Doa Pembuka adalah salah satu Doa Presidensial yang hanya diucapkan oleh pemimpin perayaan atas nama seluruh umat. Setelah imam mengucapkan "Marilah berdoa" seharusnya ada saat hening sejenak untuk umat menyampaikan doa pribadi. Isi doa pembuka sendiri adalah doa seluruh umat, sehingga umat harus ikut aktif dengan cara mendengarkan dan menghayati isi doa tersebut. Setelah imam menyampaikan isi doa, umat menyetujuinya dengan mengucapkan "Amin".


LITURGI SABDA

Bacaan Pertama: Duduk. Gereja percaya, ketika kitab suci dibacakan dalam Liturgi Sabda, Allah sendiri bersabda kepada umatNya. Seperti layaknya seorang hamba dengan patuh mendengarkan tuannya berbicara, begitu pula kita dengan sikap hormat mendengarkan Allah yang berbicara melalui mulut para lektor. Pada saat ini harus dibiasakan sikap mendengarkan dan bukan membaca teks misa. Teks misa adalah sarana bantu untuk kita memahami bacaan ketika homili atau sebelum misa. Inti dari Liturgi Sabda adalah Allah yang bersabda kepada umat-Nya. Setelah bacaan, para petugas liturgi harus menyediakan saat hening sejenak yang cukup agar umat dapat meresapi bacaan yang baru saja dibacakan.

-Mazmur Tanggapan: Duduk. Umat hendaknya ikut mendaraskan/menyanyikan bagian ulangan yang merupakan jatahnya, sementara pemazmur mendaraskan/menyanyikan bagian ayat.

-Bacaan Kedua: Duduk. Sama seperti bacaan pertama, umat harus mendengarkan dengan sikap hormat dan tidak membaca dari teks misa. Sesudah bacaan juga harus ada saat hening sejenak.

-Bait Pengantar Injil: Berdiri. Sesuai namanya, bagian ini adalah pengantar kepada puncak Liturgi Sabda, yakni Bacaan Injil. Bait Pengantar Injil harus dinyanyikan mengingat hakekat kemeriahannya. Menyanyikan Bait Pengantar Injil dengan gegap gempita menunjukkan tanggapan kita akan Injil yang akan dibacakan.

-Bacaan Injil: Berdiri. Inilah puncak Liturgi Sabda. Pada bagian ini umat tidak hanya berdiri, melainkan berdiri sambil menghadap imam atau diakon yang membacakan bacaan Injil. Sama seperti bacaan sebelumnya, umat juga harus mendengarkan dengan sikap hormat Allah yang bersabda kepada umat-Nya.

-Homili: Duduk. Homili berfungsi untuk menjelaskan isi bacaan pada hari itu. Jika disediakan teks misa, dapat membantu umat untuk mengerti uraian yang disampaikan oleh imam.

-Syahadat: Berdiri. Pada bagian "yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria", imam dan seluruh umat membungkuk khidmat. Membungkuk ini untuk menghormati peristiwa inkarnasi, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Pada Hari Raya Natal dan Kabar Sukacita, bahkan berlutut.

-Doa Umat: Berdiri. Sesuai namanya, doa umat adalah doa seluruh umat. Sebagai bagian dari umat, kita menjadikan doa umat ini sebagai doa kita sendiri.

LITURGI EKARISTI

-Kolekte: Duduk. Kerapkali kolekte tidak lancar karena ada umat yang masih mencari-cari uang. Sebaiknya uang kolekte sudah disiapkan dari rumah dan ditaruh di kantong yang mudah dijangkau. Ini penting supaya tidak mengganggu ketika menyanyikan nyanyian persembahan.

-Nyanyian Persembahan: Duduk. Nyanyian persembahan berfungsi untuk mengiringi perarakan persembahan. Jika tidak ada perarakan persembahan, tidak perlu ada nyanyian persembahan.

-Ajakan imam untuk berdoa: Berdiri. Salah satu bagain paling "kacau" saat misa adalah bagian dimana umat menjawab "Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita dst." Bagian ini seringkali diucapkan dengan terburu-buru dan tidak kompak, sehingga terkesan tidak teratur. Maka penting untuk mengucapkan bagian ini dengan kecepatan yang sama seperti jawaban lain.

-Doa Persiapan Persembahan: Berdiri. Sama seperti Doa Pembuka, bagian ini adalah Doa Presidensial dimana pemimpin sendiri yang mengucapkan doa sementara umat mendengarkan dan menjadikan doa itu doanya sendiri, dan kemudian menjawab "Amin".

-Prefasi: Berdiri. Prefasi hakekatnya menunjukkan kemeriahan menjelang Doa Syukur Agung. Pada saat inilah imam menyanyikan alasan untuk beryukur yang diuraikan dalam prefasi.

-Kudus: Berdiri. Kudus adalah nyanyian para malaikat. Dengan ikut menyanyikan Kudus, umat yang berkumpul menggabungkan diri dengan himpunan malaikat dan orang kudus di surga memuji dan memuliakan Allah.

-Doa Syukur Agung: Berlutut. Jika tidak ada tempat berlutut: berdiri (bukan duduk). Inilah puncak perayaan Ekaristi, dimana roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Ketika imam selebran mengangkat Hosti/Piala, yang harus dilakukan umat adalah memandangnya, dan bukan malah menundukkan kepala. Kebiasaan umat mengatupkan tangan di depan dahi tidak boleh menghalangi untuk memandang Tubuh dan Darah Kristus. Setelah imam meletakkan Hosti/Piala, ia akan berlutut sebagai tanda penghormatan. Pada saat imam berlutut inilah seluruh umat juga memberikan penghormatan dengan membungkuk khidmat.

-Bapa Kami: Berdiri. Banyak umat yang menambahkan sendiri tata gerak menengadahkan tangan saat Bapa Kami, dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain seakan-akan memang perlu dan wajib. Ada pula yang bergandengan tangan, dan mengajarkannya pula kepada orang lain. Gereja sendiri tidak pernah mengajarkan umat harus demikian. Gereja menghendaki imam (bukan umat) untuk merentangkan tangan. Marilah kita mengingat lagi PUMR 91 untuk berpartisipasi aktif seturut kedudukan dan tugas masing-masing.

-Doa Damai: Berdiri. Umat masih sering kali terbawa kebiasaan lama untuk ikut mengucapakan doa damai pada bagian "Tuhan Yesus Kristus janganlah memperhitungkan dosa kami dst." yang seharusnya hanya diucapkan oleh imam selebran. Umat hanya menjawab "Amin".

-Salam Damai: Berdiri. KWI lewat TPE 2005 menuliskan cara untuk menyampaikan salam damai adalah dengan saling berjabat tangan dan mengatakan "Damai Kristus". Kegiatan saling memberikan salam damai ini seringkali menjadi kegaduhan karena ada umat yang saking bersemangatnya sehingga meninggalkan tempat duduknya untuk menyalami sebanyak mungkin orang. Gereja menghendaki supaya salam damai hanya diberikan kepada orang-orang terdekat duduknya (PUMR 82).

-Anakdomba Allah: Berlutut. Kalau tidak ada tempat berlutut: Berdiri.

-Menerima Komuni: Duduk. Pada saat ini, seluruh umat perlu untuk menjaga keheningan. Nyanyian komuni dapat dimulai ketika imam menyambut komuni. Lagu yang dinyanyikan hendaknya dapat mendukung suasana hening, dengan demikian, suasana hati umat dalam menyambut komuni dapat terjaga. Pada saat imam atau prodiakon menunjukkan Hosti dan mengatakan "Tubuh Kristus", berilah penghormatan sejenak dengan menundukkan kepala, kemudian menjawab "Amin". Setelah menyambut komuni tetap menjaga keheningan, dapat pula berdoa pribadi atau bersama kor ikut menyanyikan lagu komuni.

-Doa Sesudah Komuni: Berdiri. Sama seperti doa pembuka dan persembahan, doa ini diucapkan oleh pemimpin atas nama seluruh umat. Umat menyetujuinya dengan menjawab "Amin."

RITUS PENUTUP

-Pengumuman: Duduk. Mendengarkan pengumuman menyangkut kegiatan dan kepentingan umat.

-Berkat dan Pengutusan: Berlutut/Berdiri. Umat ikut menjawab salam, dan membuat tanda salib, serta menjawab "Amin." Setelah berkat, seluruh umat diutus untuk mewartakan kabar baik.

-Lagu penutup Berdiri.

Semoga membantu....

07 September 2010

Menyambut Bulan Rosario

Buat yang udah bosen dengan Ave Maria-nya Schubert, Bach-Gounod, Caccini, atau Nderek Dewi Mariyah... hehehe ini saya ada 2 lagu:
  1. Ya Namamu Maria (download di sini); lagu Madah Bakti yang saya aransemen ulang dengan sedikit variasi dan modulasi dari nada dasar G ke C. Kalau kesulitan dengan modulasi bisa dihilangkan modulasinya dan dari awal sampai akhir nyanyi di nada dasar G atau A. Bait 1 saya buat cantus firmus di sopran bersama alto dengan background suara tenor dan bas, bait 2 sebaliknya, baru bait 3 dinyanyikan empat suara. Kalau dirasa terlalu sulit, bisa dipermudah dengan cara bait 1 dinyanyikan sopran alto saja, bait 2 tenor bas saja, dan bait 3 empat suara.
  2. Ave Maria (download di sini); lagu ini cukup sederhana karena komposisinya yg homofon. Hanya ada sedikit not miring yang rasanya tidak terlalu menyulitkan. Lagu ini tercipta setelah melihat daftar lagu tugas kawinan beberapa bulan ke depan dimana semuanya menyanyikan Ave Maria ciptaan Schubert (wakakaka), kesannya tidak ada pilihan lain.
Kedua lagu ini saya aransemen, khususnya untuk koor-koor lingkungan yang kemampuannya terbatas. Belum lama saya menyadari bahwa koor-koor lingkungan juga ingin menyanyikan lagu-lagu baru yang 'aman', tidak comot dari gereja sebelah, dan terasa 'sangat katolik'. Semoga kedua lagu ini bisa memenuhi keinginan tersebut.

Selain itu juga cocok untuk koor-koor yang kualitasnya lebih baik, namun sedang gemar-gemarnya menyanyikan lagu-lagu sederhana, yang jika dinyanyikan dengan benar menjadi terdengar luar biasa.

Adoro Te Devote (revisi)



video di atas ini adalah instrumentalisasi lagu Adoro Te Devote yang setelah dipertimbangkan kembali ada sedikit revisi, teksnya bisa download di sini.

01 September 2010

Laus Deus In Deus Insula (Ave Maris Stella)



Kenangan Vincent Choir memuji Tuhan di gereja-gereja yang luar biasa dengan kisah-kisah yang luar biasa.

Foto oleh Dimas Handoko
Lagu instrumental Ave Maris Stella (Salam Bintang Samudera) oleh Onggo Lukito
Teks lagu bisa download di sini.

Jiwa Kristus



Video ini dibuat sebagai kenangan "Praise God in God's Island" - Vincent Choir, Paroki Keluarga Kudus - Pasar Minggu, Jakarta Selatan
=============================================
Teks: Download di sini

Sopran: Patricia Dewanti
Alto: Catharina Tri
Tenor & Bas: Christophorus Agung Baskoro
Musik: Onggo Lukito
Foto: Dimas Handoko
Pendamping Setia: Yuliyana dan Greg
=============================================
Jiwa Kristus, kuduskanlah kami
Tubuh Kristus, selamatkanlah kami
Darah Kristus, sucikanlah kami
Air lambung Kristus, basuhlah kami
Sengsara Kristus, kuatkanlah kami
Yesus yang murah hati, luluskanlah doa kami
Dalam luka-luka-Mu sembunyikanlah kami
Jangan kami dipisahkan dari pada-Mu, Tuhan
Terhadap musuh yang curang lindungilah kami
Di waktu ajal terimalah kami
Supaya bersama para kudus
kamipun memuji Engkau selama-lamanya
Amin.
-------------------------------------------------------------------------
Anima Christi, sanctifica me.
Corpus Christi, salva me.
Sanguis Christi, inebria me.
Aqua lateris Christi, lava me.
Passio Christi, conforta me.
O bone Jesu, exaudi me.
Intra tua vulnera absconde me.
Ne permittas me separari a te.
Ab hoste maligno defende me.
In hora mortis meae voca me.
Et iube me venire ad te,
Ut cum Sanctis tuis laudem te.
In saecula saeculorum.
Amen

Ave Maria - Bruckner

Tanpa basa-basi lagi.... silahkan download di sini...

Kembali Ke Jiwa Musik Liturgis


Saya sudah beli buku ini dan 2 kali membacanya. Sangat direkomendasikan untuk pencinta musik liturgi, dan terutama praktisi liturgi. Ditulis oleh Ambrosius Andi K. seorang praktisi liturgi, di bawah bimbingan pakar-pakar liturgi.

Untuk pemesanan bisa lihat di sini.

11 Agustus 2010

Mars Kanisius



MP3 ini adalah lagu wajib sekolah di Kolese Kanisius, tempat saya menimba ilmu antara tahun 1998-2001 di SMA tersebut. Lagu ini saya aransemen beberapa bulan yang lalu, dan belum sempat dibuat versi yang lebih 'real'. Daripada mengendap sia-sia di komputer, lebih baik saya bagikan saja.

Bisa langsung putar di atas atau download di sini.

20 Juli 2010

Proprium Gregorian Dengan Notasi Angka

Proprium adalah bagian dari teks misa yang berbeda-beda antara misa yang satu dengan yang lainnya, tergantung Kalender Liturgi. Proprium berbeda dengan ordinarium, yang merupakan bagian tetap dari misa. Ada juga yang menyebut ordinarium yang saya maksud di sini dengan Kyriale.

Termasuk dalam ordinarium adalah:
  • Kyrie (Tuhan kasihanilah kami)
  • Gloria (Kemuliaan)
  • Credo (Aku Percaya)
  • Sanctus (Kudus), ada komposisi tertentu yang memisahkan Sanctus dari Benedictus.
  • Agnus Dei (Anakdomba Allah)
Saya juga pernah melihat daftar lain yang memasukkan Pater Noster (Bapa Kami) ke dalam ordinarium.

Termasuk dalam proprium adalah:
  • Introit (Lagu pembuka)
  • Gradual (Mazmur tanggapan), bisa dalam bentuk nyanyian utuh atau bentuk ulangan-ayat.
  • Alleluia (Bait pengantar Injil), juga bisa berbentuk nyanyian utuh. Dalam masa tertentu dimana Alleluia tidak dinyanyikan, diganti dengan Tractus (bait pengantar Injil tanpa Alleluya)
  • Sequentia, liturgi sekarang ini hanya mengenal 5 sequentia: Victimae Paschali Laudes (wajib saat HR Paskah), Veni Sancte Spiritus (wajib saat HR Pentakosta), Lauda Sion (fakultatif saat HR Tubuh & Darah Kristus), Dies Irae (fakultatif saat misa Requiem), dan Stabat Mater (fakultatif saat misa Jalan Salib). Yang terakhir ini saya juga kurang paham hehehe.
  • Offertorium (Lagu persembahan)
  • Communio (Lagu komuni)
Dalam liturgi latin memang tidak mengenal lagu penutup. Pernah saya baca di sebuah artikel, di negara-negara Eropa, setelah "pergilah engkau diutus" umat langsung bubar.

Rencananya PS Archangeli akan bertugas di Misa berbahasa Latin di Kapel St. Yosep Matraman pada 1 Agustus 2010 yang akan datang. Untuk mendukung tugas tersebut, saya menyiapkan teks dalam notasi angka untuk proprium misa tersebut, tidak semuanya memang, hanya introit, offertorium dan communio. Teks tersebut bisa didownload di sini. Sumber yang saya pakai adalah sebuah website yang menyediakan proprium sepanjang tahun liturgi. Silahkan dikunjungi di sini. Kalau ingin mendapatkan ordinarium gregorian yang lengkap silahkan ke sini.

Setelah merasakan sendiri bernyanyi memakai notasi gregorian, saya menemukan bahwa bernyanyi gregorian memakai notasi angka tidak direkomendasikan. hehehe. Kalau bisa bernyanyilah memakai notasi gregorian. Saya mengetik ini untuk memudahkan anggota koor belajar menyanyikan gregorian. Setelah terbiasa baru saya kenalkan dengan notasi gregorian, yang sesungguhnya tidak sesulit notasi balok.

Semoga teks ini bisa berguna, kalau ada yang berminat menyanyikan lagu-lagu gregorian dan memerlukan notasi angka untuk memperkenalkan ke anggota koornya atau umat parokinya, jangan segan-segan untuk menghubungi saya yang siap membantu dengan senang hati :).

07 Juli 2010

Lagu Hasil Ngulik

Dulu waktu masih main band akrab dengan istilah "ngulik", yang berarti mencari notasi sebuah lagu dengan mengandalkan pendengaran. Caranya memutar lagu berulang kali untuk mendapatkan nada yang tepat, kalau ada satu bagian yang sulit maka bagian itu akan diputar berulang kali sampai ketemu nadanya.

Jaman masih SMA dulu pakai walkman sambil main orgen yamaha electone di rumah, tanpa alat lainnya. Sekarang makin canggih, sudah gak megang orgen lagi langsung puter di winamp dan tulis notasinya. Masalah harmoni belakangan dipikirnya.

Cara ngulik seperti ini selalu punya resiko salah nada, salah birama, atau salah lirik. Maka dari itu biasanya kalau sebuah band menyanyikan lagu orang lain lebih mudah diaransemen ulang daripada memainkan seperti aslinya, karena resiko salah nada tadi. Begitu juga dengan lagu paduan suara, rasanya lebih mudah mengaransemen ulang daripada ngulik nada per nada. Namun berhubung bidang pekerjaan selama tujuh tahun terakhir ini di bidang per-ngulik-an nada, tidak ada salahnya ngulik lagu paduan suara, hitung-hitung mengasah kemampuan.

Lagu yang saya pilih untuk dikulik ada dua:
1. Gift of Finest Wheat; pertama kali saya dengar lagunya di video ini :


Aransemen lagu ini saya kulik dari video lain yang saya lupa linknya. Kesulitan dasar lagu ini adalah pergantian birama 3/4 dan 4/4, yang saya tulis akhirnya berdasarkan insting saja.

2. Be Strong In The Lord,
Saya punya mp3 lagu ini sejak beberapa tahun lalu, kesulitannya karena suara alto dan tenornya yg kurang terdengar jelas, jadi harap maklum kalau ada kesalahan nada. Tapi sepertinya tidak terlalu bermasalah.

Akhir kata... selamat menikmati....

23 Juni 2010

Ave Maris Stella


Ave maris stella (Salam bintang laut) adalah doa yang sudah sangat lama, dipakai sejak abad ke-8 atau 9, dan sangat populer pada abad pertengahan di Eropa.

Ave maris stella,
Dei Mater alma
Atque semper Virgo,
Felix caeli porta.

Sumens illud ave,
Gabrielis ore,
Funda nos in pace,
Mutans Hevae nomen.

Solve vincla reis,
Profer lumen caecis,
Mala nostra pelle,
Bona cuncta posce.

Monstra te esse matrem,
Sumat per te preces,
Qui pro nobis natus,
Tulit esse tuus.

Virgo singularis,
Inter omnes mitis,
Nos culpis solutos,
Mites fac et castos.

Vitam praesta puram,
Iter para tutum,
Ut videntes Jesum,
Semper collaetemur.

Sit laus Deo Patri,
Summo Christo decus,
Spiritui sancto,
Tribus honor unus.

Amen.

Terjemahan bebasnya :
Salam bintang laut, sungguh Bunda Allah, perawan selalu, pintu surga bah'gia.
Dikau t'rima salam yang Gabriel bawa, beri hidup tentram, ubah nama Hawa.
Tolonglah yang papa, bimbinglah yang buta, hiburlah yang duka, sembuhkan yang luka.
Tunjukkanlah ibu, antarlah doaku kepada Putramu yang lahir bagiku.
P'rawan tanpa tara, elok antar dara, lepas dari dosa, buatku sempurna.
Beri hidup murni, mohon jalan aman, lihat Yesus nanti agar selalu riang.
Terpujilah Bapa, hormat bagi Putra, Roh Kudus dipuja, esa selamanya.
Amin.
(terima kasih untuk Adrianus Ramon yang membantu menerjemahkan)

Saya lagi senang membuat lagu yang sederhana, dengan melodi yang mudah diingat, dan dinyanyikan berulang-ulang. Aransemen hanya soal variasi saja. Sebelum lagu ini saya membuat Adoro Te Devote, yang sesungguhnya juga lagu yang sederhana, hanya aransemennya yang tidak sederhana. Maka saya buat lagu ini (download di sini) dengan proses sekitar 20 menit. Seperti biasa, proses ngetiknya yang makan waktu agak banyak.


Niat awal saya tadinya adalah membuat lagu untuk Hari Raya Santa Maria Diangkat Ke Surga yang pada tahun ini akan jatuh pada hari Minggu 15 Agustus 2010, yang sangat layak untuk dirayakan dengan sangat meriah. Lirik yang saya rencanakan tadinya juga bukan Ave Maris Stella, tapi dari syair lain. Namun ketika saya tidak sengaja melihat teks Ave maris stella, langsung muncul melodi dan ide komposisi. Saat itu juga langsung saya kerjakan dan jadilah lagu ini.

Selamat menikmati.

Kompilasi Lagu-Lagu Gregorian Volume I


Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, akhirnya saya berhasil menyelesaikan sebuah buku berisi kompilasi lagu-lagu gregorian dalam bahasa Latin. Isi buku ini semuanya sudah ada di Puji Syukur, saya hanya memisahkan bahasa Indonesia dari notasi angkanya, yang untuk beberapa lagu gregorian di Puji Syukur terasa mengganggu. Alasan lainnya adalah karena saya menemukan beberapa kesalahan kecil di Puji Syukur yang berbeda dengan sumber-sumber lainnya, seperti pada lagu Credo (PS 374) dan Veni Creator Spiritus (PS 566).

Silahkan download di sini.

God Will Provide

Seorang teman akan menikah bulan depan dan request sebuah lagu yang judulnya God Will Provide, lagunya bagus dan menyentuh. Masalahnya ketika itu dia tidak menyediakan mp3 atau apapun yang bisa didengar, dan hanya menyediakan syairnya. Jadi saya cari sendiri di youtube, ternyata banyak sekali lagu dengan judul itu. Hanya ketemu satu video yang syairnya sama persis, namun dengan kualitas rekaman yang bisa dibilang jelek. Alhasil melodinya pun terdengar samar-samar.

Dengan modal lagu yang seperti itu saya mengetik dan mengaransemen lagu tersebut untuk paduan suara (silahkan download di sini). Kalau ada yang lebih paham lagu tersebut dan menemukan kesalahan baik syair maupun melodi, saya sungguh terbuka untuk menerima koreksi.

11 Mei 2010

Meng-umat-kan gregorian, meng-gregorian-kan umat

Sudah bukan rahasia lagi kalau umat Katolik di Indonesia sudah mulai melupakan lagu-lagu gregorian, khususnya di kalangan anak muda. Di paroki saya sendiri (St. Robertus Bellarminus - Cililitan), lagu-lagu gregorian hanya dinyanyikan saat masa Adven dan Prapaskah. Selama Pekan Suci juga banyak lagu-lagu gregorian yang dinyanyikan, khususnya saat Minggu Palma dan Kamis Putih dan Exultet saat Malam Paskah.

Patut disyukuri pada Pekan Suci yang lalu di paroki kami menambah "koleksi" dengan menyanyikan Pater Noster dan Popule Meus saat Jumat Agung. Petugas Minggu Paskah juga berhasil dipaksa menyanyikan Sekuensia Paskah. Saya yakin di banyak paroki hanya pada kesempatan-kesempatan seperti inilah lagu gregorian banyak dinyanyikan, yang mungkin lebih banyak disebabkan karena keterbatasan pilihan lagu untuk perayaan-perayaan itu.

Pertanyaan sederhananya, kenapa saat ini koor-koor di Jakarta khususnya terkesan sulit sekali menyanyikan lagu-lagu gregorian? Paling tidak ada beberapa alasan :
  1. Umat memang tidak dibiasakan menyanyikan lagu gregorian; gaung gregorian kalah dengan lagu daerah dan (sayangnya) lagu pop rohani. Selama puluhan tahun harta warisan yang tak ternilai ini kalah bersinar dibandingkan barang-barang baru. Kita semua patut bertanya kapan terakhir kali Credo dinyanyikan di paroki anda masing-masing? Di St. Robertus sekitar 20 tahun lalu. Padahal Gereja menganjurkan sekurang-kurangnya Credo dan Pater Noster dinyanyikan dalam bahasa Latin, bukan dibacakan atau dinyanyikan dalam bahasa lokal.
  2. Tidak diterbitkannya lagi buku-buku gregorian. Paling tidak yang saya alami, sejak Puji Syukur terbit, tidak ada lagi buku nyanyian dengan citarasa khas Katolik ini. Memang kita terbiasa dengan not angka, dan itulah yang ditulis dalam Puji Syukur. Hanya sayangnya setelah Puji Syukur tidak ada terbitan lagi.
  3. Senada dengan tidak diterbitkannya buku-buku gregorian, di era digital ini juga tidak dimanfaatkan untuk menerbitkan sebuah rekaman lagu-lagu gregorian. Bayangkan jika ada yang mau merekam lagu-lagu sederhana ini kemudian menyebarluaskannya dalam bentuk mp3, yang mudah didownload dan mudah disebarluaskan, niscaya akan semakin banyak umat yang sadar akan harta terpendam ini.
  4. Sekalipun ada buku dan ada rekaman audio, masih tetap perlu seorang pakar lagu gregorian. Siapakah yang saat ini layak disebut pakar gregorian sehingga bisa mengajari, membimbing, mengarahkan, dan memajukan koor-koor paroki supaya bisa menyanyikan lagu gregorian? Saya tidak tahu apakah ada yang peduli tentang masalah ini, tapi kalau ada orangnya, saya ingin berguru pada orang tersebut, kalau bisa berguru online. hehehe.
Atas dasar alasan-alasan ini, saya berinisiatif mengumpulkan file-file audio dari berbagai sumber, sedikit merapikannya, dan membagi kepada anda semua untuk didownload. Sengaja yang saya share adalah lagu-lagu yang ada di Puji Syukur, supaya bisa menjadi bahan belajar. Saya sudah membagi lagu-lagu ini kepada para dirigen koor untuk menjadi bahan belajar mereka, khususnya untuk mulai menyanyikan lagu Credo dalam tugas-tugas rutin.

Selamat menikmati, jika ada yang punya koleksi lebih baik, dengan senang hati saya akan menampung hehehe. Angka dalam kurung adalah nomer lagu di Puji Syukur.
  1. Regina Caeli (624)
  2. Ave Maria (625)
  3. Ave Regina Caelorum (626)
  4. Alma Redemptoris Mater (627)
  5. Asperges Me (233)
  6. Pater Noster (402)
  7. Victimae Paschali Laudes (518)
  8. Popule Meus (506)
  9. Veni Creator Spiritus (566)
  10. Pange Lingua Gloriosi (502)
  11. Credo (374)
  12. Kyrie - Missa De Angelis (342)
  13. Gloria - Missa De Angelis (343)
  14. Credo (374)
  15. Sanctus - Missa De Angelis (387)
  16. Agnus Dei - Missa De Angelis (408)
  17. Kyrie - Adven & Prapaskah (339)
  18. Sanctus - Adven & Prapaskah (385)
  19. Agnus Dei - Adven & Prapaskah (406)
  20. Te Deum (669)
  21. Salve Regina (623)
Saya juga sedang mengetik ulang 21 lagu-lagu ini. Saya khususkan menuliskan notasi angka dengan bahasa latin. Ini saya lakukan karena melihat kesalahan notasi pada Credo yang ada di Puji Syukur no. 374. Tidak fatal memang, tapi terasa mengganggu. Untuk itu semua lagu di daftar ini saya ketik ulang berdasarkan Liber Usualis, dengan memakai cara yang sama dengan Puji Syukur untuk penulisan not angkanya.

Kalau anda merasa langkah kecil yang saya lakukan ini akan bermanfaat, anda bisa membantu saya dengan doa untuk menyelesaikan penulisan ulang ini.

Pengikut