07 Desember 2007

Susahnya ngurus paduan suara..... (part 2)

Berbekal pengalaman-pengalaman tersebut, saya pun bersama beberapa teman memberanikan diri untuk mengumpulkan orang-orang paroki yg masih ingin belajar bernyanyi (walau mungkin ada yg sudah jago).

Inilah hasil refleksi pengalaman. Inilah idealisme saya dalam ber-paduan suara (khususnya di lingkup gereja). Hal-hal ini yang saya coba terapkan di PS yg baru dibentuk di Paroki Cililitan yg bernama Archangeli, artinya Para Malaikat Agung. Yang rutin latihan ada 11 orang, dengan komposisi 3 sopran, 3 alto, 2 tenor, 1 bas, 1 pelatih/dirigen, dan 1 organis.

Personelnya adalah orang-orang yg kita dekati secara personal, untuk meyakinkan keseriusan kita, dan kemudian berharap mereka serius juga, bukan orang-orang yg bergabung karena banci tampil atau mau nikah (biar fee-nya bisa ditekan).

Latihannya hanya seminggu sekali setiap minggu malam, karena masih ada yg sekolah, kuliah, atau bekerja, jadi kita pilih hari libur yg semuanya bisa. Percuma latihan seminggu dua atau tiga kali tapi tidak bisa terus hadir. Lebih baik seminggu sekali tapi hadir terus, sehingga tidak ketinggalan, dan latihan tidak perlu diulang-ulang.

Waktu latihannya dibuat paling lama jam 9 malam harus sudah kelar. Walau misalnya mulai latihan setengah 9, pokoknya jam 9 harus kelar. Jika lebih dari itu pasti sudah lelah dan energinya sudah terkuras untuk aktivitas sepanjang hari. Dengan diberi batasan waktu, sejauh ini terbukti latihan menjadi lebih efektif dan efisien.

Untuk setiap tugas harus ada lagu baru, paling tidak aransemen baru. Karena jika lagunya itu2 terus, otomatis kemampuannya juga tidak bertambah.

Pelatih tugasnya melatih saja, tidak mengurus lagu, fotocopy, dll. Sudah ada orang yg mengurus tetek bengek semacam itu. Jangan sampai sudah melatih, masih milih lagu, masih megang duit, masih koordinasi sama romo/pengantin. Kasian kaleeee.....

Sering kali di kebanyakan PS, untuk bagian solis orangnya itu2 terus. Maka dalam latihan, tidak ada yang menjadi solis. Semuanya berlatih menjadi solis, sehingga menjelang tugas kita tinggal memilih siapa yang menjadi solis, dan karena sudah dilatih semuanya harus siap.

Karena hanya berlatih seminggu sekali, tugasnya pun hanya dua bulan sekali, minggu terakhir, pada misa minggu sore. Setiap tugas harus maksimal, maka latihannya harus maksimal. Mungkin seiring berjalannya waktu bisa tugas sebulan sekali. Kenapa bukan minggu siang yg jadi semacam primetime, umatnya banyak? Karena PS ini dibentuk bukan untuk menjadi populer di kalangan umat (kebetulan orang2nya udah populer duluan :))).

Setiap tugas harus punya perencanaan yang jelas. Tidak hanya urutan dan teks lagunya, tapi juga jadwal latihannya, disosialisasikan kepada anggota jauh2 hari. Untuk perkawinan di hari sabtu, juga dirinci siapa2 saja yang pasti ikut (berhubung ada juga yg masih sekolah/kuliah), jika personelnya kurang harus segera dicari penggantinya. Sebagai gambaran saja, kalau kami sudah mulai menyiapkan lagu2 apa saja yg akan dinyanyikan untuk tugas bulan januari dan maret. :))

Latihan paduan suara paling nyaman jika diiringi organis. Masalahnya tidak semua PS punya organis. Maka sebelum mulai latihan, saya melatih organ untuk beberapa orang. Harapan saya mereka yg belajar organ juga tertarik untuk mengiringi latihan. Dengan banyak mengiringi latihan PS, seorang organis juga semakin berkembang.

Walau Archangeli masih bayi baru lahir, semoga dapat berkembang terus dan menjadi lebih baik lagi. Amin.
Ingat!!!!! Dulu Umat Gereja dibangun oleh 12 Rasul, sampai sekarang ini. Lah kita 12 orang aja gak nyampe, lagian kita kan bukan rasul. Hahahahaha......
Panjang juga ceritanya... semoga bermanfaat....

2 komentar:

Cappella Victoria Jakarta mengatakan...

Sabar... sabar... Hehe... Salam kenal buat Bapak-nya GREG. Semoga terus diberkati dan menadi berkat...

Salam,

CAPPELLA VICTORIA JAKARTA
http://cappellavictoriajakarta.blogspot.com
http://youtube.com/user/ijusmanis
http://cappellavictoriajkt.multiply.com
Search Cappella Victoria Jakarta group di FB
cappella_victoria@yahoo.com

teguh santoso mengatakan...

Cerita yg sangat menarik, dan inspiratif. Semangat terus pak.

Pengikut