25 Mei 2011

Veni Creátor Spíritus / Datanglah Ya Roh Pencipta

Tahun ini kebagian tugas Hari Raya Pentakosta. Lagu wajibnya jelas Veni Creator Spiritus yang ada di PS 565/566, juga ada Utuslah Roh-Mu ya Tuhan untuk mazmur tanggapan. Selain itu rasanya tidak banyak pilihan yang 'enak' walaupun sebenarnya cukup banyak juga.

Banyak kelompok koor mencari lagu baru untuk dijadikan alternatif, pertama karena stok yang ada dirasa "kurang menantang" sehingga dibutuhkan penyegaran. Dalam banyak kasus, kurangnya tantangan ini bisa ditangkal dengan mengaransemen ulang lagu yang sudah ada agar lebih fresh. Bisa juga dengan mencari versi asli dari lagu yang sudah ada, seperti O Esca Viatorum yang merupakan versi asli dari PS 434 Santapan Peziarah, atau Veni Veni Emmanuel yang merupakan versi asli PS 443 O Datanglah Imanuel.

Cara lainnya adalah membuat lagu baru dengan menggunakan syair yang sudah ada, dan inilah yang saya lakukan kali ini. Berdasar pengalaman menggunakan syair bahasa Latin, biasanya akan menemukan kesulitan ketika ingin dibuat versi bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Hal ini terjadi karena ketika membuat tidak memperhatikan aksentuasi kata. Aksentuasi ternyata tidak bisa diabaikan dalam proses pembuatan lagu karena sangat berperan pada penekanan sukukata pada kata-kata penting yang akan berpengaruh pada kejelasan artikulasi ketika dinyanyikan.

Dalam bahasa Indonesia memang tidak banyak orang yang paham bagaimana aksentuasi yang tepat, namun dalam bahasa Latin hal ini lebih mudah diketahui dengan penulisan tanda petik ( ' ) di atas huruf vokal pada sukukata yang mendapat penekanan. Maka kita bisa melihat alasan kenapa di Puji Syukur, bukan ditulis "veni creator Spiritus" melainkan "veni Creátor Spíritus".

Belajar dari kesalahan di masa lampau, saya mencoba membuat Veni Creátor Spíritus (klik untuk download) dengan memperhatikan aksentuasi, walau mungkin belum sempurna. Dengan memperhatikan aksentuasi pada nada-nada yang diberikan tekanan, dengan mudah pula bisa dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia sesuai terjemahan di Puji Syukur menjadi Datanglah Ya Roh Pencipta (klik untuk download).

Pola nyanyian tetap berusaha mengikuti bentuk tradisional, yakni menggunakan melodi yang sama pada setiap bait. Improvisasi dilakukan pada setiap bait.

Selain itu, dulu juga pernah membuat lagu tema Roh Kudus berjudul Roh Kudus, Datanglah yang syairnya berdasarkan sekuensia Pentakosta Veni Sancte Spiritus.

Silahkan didownload dan dicoba, semoga berkenan.

23 Mei 2011

Anima Christi (Jiwa Kristus)

Anima Christi by onggolukito

Pernah suatu waktu di gereja paroki saya, St. Robertus Bellarminus - Cililitan, doa ini (lihat PS 212) menjadi doa favorit yang sering didoakan bersama seluruh umat pada waktu sesudah komuni. Doa ini seakan menjadi respon umat atas Tubuh Kristus yang baru saja disambut.

Dan memang isi doa ini dapat dijadikan doa pribadi setelah menyambut komuni, karena lewat doa itu kita menyatakan iman akan Tubuh Kristus yang menyelamatkan dan Darah Kristus yang menyucikan, Yesus yang menyerahkan jiwa dan raga sebagai kurban kudus yang menguduskan kita, umat-Nya.

Dulu pernah saya buat lagu Jiwa Kristus (klik untuk download), beserta iringannya. Lagu ini masih menjadi favorit bagi koor Archangeli yang saya dan teman-teman bina di paroki. Aslinya, lagu itu dibuat dengan bahasa Latin, tapi rasanya dengan bahasa Indonesia lebih cocok.

Hari-hari belakangan ini saya buat sebuah versi lain, kali ini dengan bahasa Latin. Sudah dicoba menggunakan bahasa Indonesia tapi malah kurang cocok. Jadi, tetap memakai bahasa Latin: Anima Christi (klik untuk download).

Lagu ini dibuat dengan konsep bersahut-sahutan antara dua kelompok. Pada teks yang dapat didownload dibuat untuk paduan suara, tapi sebenarnya dapat juga dibuat lebih sederhana untuk dua kelompok wanita dan pria kemudian di bagian akhir (Et iube me... dst.) dinyanyikan bersama-sama. Rasanya cocok juga untuk pertemuan orang muda, sebagai alternatif lagu rohani sekaligus mengenal doa-doa Gereja dalam bahasa aslinya.

Teks lengkap:

Anima Christi sanctifica me
Corpus Christi salva me
Sanguis Christi inebria me
Aqua lateris Christi lava me
Passio Christi conforta me
O bone Jesus exaudi me
Intra tua vulnera absconde me
Ne permittas me separari a te
Ab hoste maligno defende me
In hora mortis meae voca me
Et iube me venire ad te
Ut cum sanctis tuis laudem te
in saecula saeculorum
Amen.

========================
Terjemahan dari PS 212:
Jiwa Kristus, kuduskanlah kami
Tubuh Kristus, selamatkanlah kami
Darah Kristus, sucikanlah kami
Air lambung Kristus, basuhlah kami
Sengsara Kristus, kuatkanlah kami
Yesus yang murah hati, luluskanlah doa kami
Dalam luka-luka-Mu sembunyikanlah kami
Jangan kami dipisahkan dari pada-Mu, Tuhan
Terhadap seteru yang curang lindungilah kami
Di waktu ajal terimalah kami
Supaya bersama para kudus
Kami memuji Engkau untuk selama-lamanya
Amin.

Semoga lagu ini dapat memperkaya khazanah nyanyian gerejani, khususnya nyanyian berbahasa Latin yang dibuat dengan konsep lebih modern. Bisa juga mendownload teks Anima Christi gregorian yang juga sederhana dan mudah dipelajari.

02 Mei 2011

Lagu-lagu Maria di blog ini

Dalam rangka bulan Maria, berikut ini adalah lagu-lagu bertema Maria baik yang saya buat sendiri, aransemen, atau sekedar menulis ulang, silahkan klik untuk download:
Untuk lagu-lagu ini bisa dinyanyikan pada perayaan-perayaan devosi. Penggunaan pada perayaan Ekaristi sebaiknya pada nyanyian penutup, sedangkan pada nyanyian pembuka, persembahan, dan komuni sebaiknya tetap menggunakan lagu dengan tema perayaan hari itu atau yang sesuai penggunaannya dengan bagian misa dimaksud.


25 Maret 2011

TIPS LITURGI: Menyanyikan Aransemen Puji Syukur


Semua lagu yang ada di Puji Syukur, kecuali nyanyian resitatif, memliki aransemen untuk dua, tiga, atau empat suara. Malah ada lagu-lagu tertentu yang menyediakan lebih dari satu alternatif aransemen.

Perancang Puji Syukur sebenarnya memberikan tawaran tentang cara-cara menyanyikan aransemen tersebut agar lebih anggun dan menarik, namun tawaran ini seringkali diabaikan oleh praktisi paduan suara paroki. Pengabaian ini biasanya terjadi karena mereka memang jarang atau tidak pernah membuka buku koor Puji Syukur di bagian-bagian awal. Bahkan banyak anggota koor yang terbiasa menyanyikan teks hasil fotocopy sehingga tidak tahu tawaran apa yang tersedia.

Sayang sekali. Padahal bagian pengantar buku koor Puji Syukur memuat informasi sangat berharga tentang tawaran menyanyikan lagu-lagu di dalamnya. Apalagi bila ditambah pengantar buku iringan Puji Syukur, niscaya pengetahuan musik liturgi anda akan ter-upgrade dengan sendirinya.

Jika di dekat anda ada buku koor Puji Syukur, sebaiknya anda buka bagian-bagian awal, disana ada informasi yang lengkap. Kalau demikian, anda sudah tidak perlu membaca lanjutan artikel ini (karena jujur saja, artikel ini pastinya diselipi pendapat pribadi sengaja atau tidak). Tapi jika tidak ada, atau malah tidak punya, anda bisa lanjut membaca artikel ini. Apa yang saya sampaikan di artikel ini tidak ada yang baru, bukan gagasan baru. Saya hanya berusaha menuliskan apa yang saya ketahui dan manfaatkan dari buku koor Puji Syukur.


Mitos unisono tidak lebih bagus dari banyak suara

Seorang praktisi koor pernah tertawa ketika saya mengungkapkan mitos ini, karena menurutnya saya mengada-ada. Tapi mitos ini nyata, tidak mengada-ada, dan sudah merasuk sedemikian dalam ke dalam pola pikir banyak dirigen/pelatih koor lingkungan.

Persoalan ini di paroki-paroki tertentu menjadi serius karena lingkungan dengan sedikit anggota koor tidak berani membentuk koor sendiri karena “kekurangan orang”. Kekurangan yang dimaksud adalah tidak ada alto, tidak ada tenor, atau malah karena anggotanya kebanyakan suara bas. Saya pernah ditertawakan rekan satu paroki ketika ia beralasan demikian, dan saya menyarankan padanya “Nyanyi satu suara saja”.

Kalau anda buka dokumen-dokumen liturgi tentang paduan suara, misalnya Musicam Sacram, tidak akan anda temukan sebuah anjuran untuk bernyanyi dalam empat suara. Bahkan nyanyian gregorian, yang diutamakan dalam liturgi, justru dinyanyikan dengan satu suara. Cobalah sesekali misa di Katedral Jakarta, coba ikuti misa yang diiringi koor seperti St. Caecilia atau Exsultate, anda akan temukan koor yang bisa bernyanyi unisono dengan sangat bagus, menggetarkan, dan berdayaguna.

Salah satu tujuan utama koor dalam perayaan Ekaristi adalah melibatkan umat untuk ikut bernyanyi, supaya mereka dapat turut serta memuji Tuhan dengan suaranya. Kalau tujuan ini tidak dapat dicapai, walau selalu bernyanyi dengan delapan suara harmonis sekalipun, koor seperti itu sudah melenceng dari tujuan liturginya.

Bagaimana aransemen Puji Syukur dapat menyemarakkan perayaan?

Kebanyakan lagu Puji Syukur (kecuali kyriale*) adalah nyanyian berbait (Misalnya PS 320 Awalilah Kurbanmu). Selain itu juga banyak tipe nyanyian ulangan-ayat (misalnya PS 322 Saudara Mari Semua) atau ayat-ulangan (misalnya PS 443 O Datanglah Imanuel). Yang lebih sedikit adalah nyanyian utuh tanpa ulangan (misalnya PS 319 Wahai Saudara).

Pertama-tama perlu diketahui bahwa aransemen Puji Syukur dapat dinyanyikan tanpa iringan. Komposisi-komposisinya memang dibuat untuk dinyanyikan tanpa iringan. Hal ini diperlukan mengingat situasi di macam-macam tempat yang berbeda, misalnya tidak ada organ atau listrik, atau paling sialnya sedang misa lalu mati lampu. Pada kondisi ini bila dinyanyikan dengan tepat komposisi Puji Syukur tetap terdengar indah.

Berbagai variasi yang dimungkinkan untuk nyanyian berbait atau ayat supaya lebih semarak:

  1. Bergantian antara laki-laki dan perempuan
  2. Bergantian antara koor dan organ
  3. Bergantian antara unisono dan 2 atau 4 suara
  4. Kombinasi semuanya
  5. Bila punya organis yang cukup baik, bisa modulasi nada dasar

Pada praktiknya, variasi seperti ini paling tidak punya beberapa efek positif, misalnya: bernyanyi menjadi tidak melelahkan karena bergantian, umat menjadi lebih tertarik untuk ikut bernyanyi, lagu biasa menjadi serasa luar biasa, dan bahkan setiap kelompok suara menjadi punya tanggungjawab lebih.


Contoh 1 PS 320 Awalilah Kurbanmu:

Bait 1 satu suara perempuan,

bait 2 satu suara laki-laki,

bait 3 empat suara SATB.

atau;

Bait 1 satu suara perempuan dan laki-laki dengan iringan,

bait 2 SATB tanpa iringan,

bait 3 SATB dengan iringan.


Contoh 2 PS 322 Saudara Mari Semua:

Ulangan satu suara perempuan dan laki-laki,

bait 1 satu suara perempuan,

ulangan SATB,

bait 2 satu suara laki-laki,

ulangan SATB,

bait 3 SATB tanpa iringan,

ulangan SATB dengan iringan.


Contoh 3 PS 443 O Datanglah Imanuel:

Bait 1 satu suara perempuan, ulangan satu suara perempuan dan laki-laki

Bait 2 satu suara laki-laki, ulangan satu suara perempuan dan laki-laki

Bait 3 dan ulangan satu suara perempuan dan laki-laki

Bait 4 dan ulangan empat suara SATB tanpa iringan

Bait 5 dan ulangan empat suara SATB dengan iringan


Selain itu juga ada nyanyian gregorian yang bisa dinyanyikan dengan cara serupa, misalnya PS 565 Datanglah Ya Roh Pencipta:

Bait 1,3,5 suara perempuan,

Bait 2,4,6 suara laki-laki

Bait 7 suara perempuan dan laki-laki

Bisa juga antara bait ke-4 dan ke-5 diselingi organ instrumental satu nyanyian utuh.


Jika ada waktu lebih, bisa saja sebelum misa diumumkan ke umat misalnya lagu pembuka bait 1 dinyanyikan perempuan, bait 2 dinyanyikan laki-laki, dan bait 3 dinyanyikan bersama-sama. Tentu sebaiknya perlu koordinasi dengan imam yang memimpin perayaan, karena pastinya perarakan pembuka menjadi sedikit lebih lama. Menyanyi bergantian seperti ini cocok untuk misa dengan umat yang lebih sedikit, misalnya misa lingkungan, misa kelompok kategorial, atau misa sekolah.

Tips ini rasanya akan bermanfaat lebih lagi, khususnya untuk mengiringi misa yang perlu banyak lagu, misalnya misa penerimaan Sakramen Krisma atau Rabu Abu. Daripada setiap bait menyanyikan empat suara, yang terkadang malah menjadi monoton dan melelahkan, lebih baik selang-seling agar stamina terjaga dan nyanyian lebih variatif dan menarik.

Semua variasi dan kemungkinan yang saya sebutkan ini bertujuan untuk memeriahkan perayaan, agar umat bisa lebih tertarik lagi untuk bernyanyi bersama koor. Sekali lagi, ini adalah tawaran seperti halnya penyusun buku koor Puji Syukur juga memberikan tawaran. Silahkan memutuskan dan mencoba.

*) Kyriale adalah paket Kyrie, Gloria, Sanctus, & Agnus Dei. Istilah ini rasanya lebih tepat daripada ordinarium yang punya arti lebih luas.


11 Maret 2011

Medley untuk Hari Raya Paskah



Ternyata, punya banyak stok lagu tidak menjamin bebas bingung ketika menyiapkan tugas Malam Paskah. Kebingungan ini disebabkan terlalu banyak pilihan, yang terkadang tidak sesuai dengan kondisi dan minat anggota koor. Apalagi kalau anggotanya bukan banci tampil yang maunya tampil meriah dan mewah waktu tugas hari besar, namun sebaliknya malah lebih senang gak tugas atau yang bebannya tidak terlalu berat. Namun apa mau dikata, rupanya romo dan umat juga rindu koor yang bisa memeriahkan misa hari besar.

Dari situasi ini muncul ide untuk membuat lagu meriah. Tadinya mau membuat rangkaian medley PS 519, 521, dan 528; yang kalau jadi pasti benar-benar meriah. Tapi persoalannya, saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan lagu yang meriah. Saya lebih suka lagu yang solemn (di dokumen liturgi malah diterjemahkan jadi meriah), yang megah, agung, dan tidak mengundang tepuk tangan. Sebaliknya umat dapat merasakan keagungan upacara liturgi dan tidak merasa sedang menonton konser.

Kemarin tidak sengaja saya dengar lagu "All Creation of Our God and King" aransemen John Rutter yang walaupun lagunya sederhana tapi bisa dibuat megah. Dari situ saya terinspirasi memadukan lagu ini yang kebetulan ada padanannya di PS 525, walaupun berbeda sedikit. Kebetulan nyambung dengan lagu favorit saya, Regina Caeli, lagu gregorian pertama yang bisa saya hafal :)). Jujur saja, memang ada sedikit adaptasi di bagian akhir lagu yang berasal dari aransemen John Rutter (ngaku duluan aja sebelum dituduh hahaha)

Kalau anda mendapat tugas Paskah dan masih bingung nyanyi lagu apa, silahkan coba medley PS 624 Regina Caeli dengan PS 525 Mari, Bersukacitalah. Lagu ini saya buat lengkap dengan iringan dengan register pipe organ. Kalau yang sudah terbiasa mengiringi dengan iringan Puji Syukur pasti tidak terlalu bermasalah.

Seperti biasa, walaupun cukup panjang, teks ini tidak dilengkapi tanda dinamika dan tempo (kecuali sedikit di bagian akhir), sehingga memberi peluang bagi para dirigen mengkreasikan lagu ini.

Di teks ini Regina Caeli dinyanyikan dua kali: pertama, dinyanyikan gregorian unison; kedua, diulangi lagi dengan variasi paduan suara homofon. Iringan disediakan untuk mengiringi bagian kedua Regina Caeli, namun sesungguhnya akan lebih baik tanpa iringan. Jadi iringan bersifat opsional saja. Harapan saya, Regina Caeli baik gregorian maupun koornya bisa dinyanyikan dengan megah dan agung. Berhubung saya bukan seorang juru ketik yang rapi :D, jadi teks not angka saya buat tanpa birama. Kalau digunakan garis birama malah jadi kurang rapi.

Lagu kedua Mari Bersukacitalah bisa dinyanyikan dengan lebih ringan tanpa meninggalkan kesan megah dan agung yang sudah dibangun dari lagu sebelumnya. Kalau melihat teks dari Puji Syukur, lagu ini tanpa birama. Saya tambahkan birama walaupun gonta-ganti untuk memudahkan.

Dua lagu free rhythm digabungkan, benar-benar bebas interpretasi, jadi tergantung para dirigen mengkreasikan lagu ini.

Silahkan mencoba, dan selamat mempersiapkan Hari Raya Paskah....

NB: kalau link di atas tidak bisa, coba di-refresh :D

28 Februari 2011

Tuhanlah Terang, Penyelamatku

Syair lagu "Tuhanlah Terang, Penyelamatku" ini diambil berdasarkan Mazmur 27, yang merupakan mazmur tanggapan Minggu Paskah VII tahun A. Tadinya saya pikir lagu ini bisa dipakai untuk Minggu Paskah VII itu pada bagian mazmur tanggapan, tapi setelah dipikir lagi, kalau mau seperti itu perlu juga konsultasi dengan romo paroki, karena cara ini tidak biasa.

Salah satu motivasi saya membuat lagu berdasarkan mazmur adalah untuk memperbanyak stok pilihan lagu liturgis untuk misa-misa selain hari Minggu, yang sering terbentur masalah "nyanyi mazmur tanggapan apa". Sudah banyak orang yang sadar liturgi, yang selalu berusaha menyanyikan mazmur tanggapan dan bukan lagu antarbacaan antah-berantah pada misa-misa selain hari Minggu. Maka lagu ini diharapkan bisa jadi solusi sementara, walau tetap bukan yang paling baik.

Semoga bermanfaat...

24 Januari 2011

Santapan Peziarah / O Esca Viatorum

Salah satu lagu favorit saya di Puji Syukur adalah Santapan Peziarah (PS 434). Lagu itu sederhana dan indah sekali, baik dinyanyikan 4 suara maupun unisono sekalipun. Siapa sangka beberapa minggu lalu tidak sengaja saya menemukan teks lagu tersebut dalam bahasa Latin. Memang sebelumnya luput dari perhatian ternyata lagu Santapan Peziarah bersumber dari teks Latin berjudul O Esca Viatorum.

Saya salin dari notasi balok ke notasi angka, bisa download di sini.

Pengikut