21 Oktober 2010

ANTIFON MARIA

Dalam pengertian yang umum sekarang ini, antifon terdiri dari satu atau lebih ayat mazmur atau bagian lain dari Kitab Suci. Dalam misa, antifon dipakai untuk mengiringi sebuah perarakan. Antifon pembukaan untuk mengiringi perarakan pembukaan, antifon persembahan untuk mengiringi perarakan persembahan dan antifon komuni untuk mengiringi perarakan komuni. Saat misa harian dimana biasanya tidak ada nyanyian pembuka, persembahan dan komuni, dibacakanlah antifon untuk pengganti nyanyian.

Antifon Maria, walaupun menggunakan istilah yang sama, berbeda dalam arti dan penggunaannya. Antifon Maria adalah kumpulan doa devosi kepada Maria yang biasanya dinyanyikan sesudah completorium (ibadat penutup hari) atau sesudah Laudes (ibadat pagi) atau pada akhir doa rosario. Antifon Maria juga dapat dinyanyikan sebagai lagu penutup misa, karena liturgi Latin sebenarnya tidak mengenal lagu/antifon penutup.

Ada empat Antifon Maria yang penggunaannya berdasarkan waktu tertentu. Hal ini terkait dengan misteri iman yang tertuang dalam teks antifon tersebut. Berikut ini pembagian, teks, dan terjemahan bebasnya:

  • Masa Adven sampai Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah (2 Februari)

Alma Redemptoris Mater

Alma Redemptóris Mater, quae pérvia caeli porta manes,

et stella maris, succúrre cadénti, súrgere qui curat, pópulo;

tu quae genuísti, natúra miránte, tuum sanctum Genitórem,

Virgo prius ac postérius, Gabriélis ab ore

sumens illud Ave, peccatórum miserére.

Terjemahan dari PS 627 :

Salam, Bunda Sang Penebus, pintu surga yang tetap terbuka,

bintang samud'ra tolonglah manusia yang jatuh dan berhasrat bangun.

Dengan mengagumkan engkau melahirkan Sang Penciptamu yang kudus.

Kauterima salam Gabriel, dikau tetap perawan

untuk selamanya, doakan orang berdosa.

  • Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah sampai Jumat Agung

Ave Regina Cælorum

Ave, Regína caelórum, ave Domina angelórum,

salve, radix, salve, porta, ex qua mundo lux est orta.

Gaude, Virgo gloriósa, super omnes speciósa;

vale, o valde decóra, et pro nobis Christum exóra.

Terjemahan dari PS 626:

Salam, ya Ratu surgawi, salam, kau junjungan malaikat,

dikau bagai pintu gerbang tempat munculnya Sang Terang.

Bersukalah, ya Maria, bunda yang paling jelita.

Salam, kau bunda mulia, doakanlah kami semua.

  • Sabtu Suci sampai Pentakosta. Pada masa ini dipakai sebagai pengganti doa Angelus.

Regina Coeli

Regina coeli, lætare, alleluia:

Quia quem meruisti portare, alleluia.

Resurrexit, sicut dixit, alleluia.

Ora pro nobis Deum, alleluia.

Terjemahan dari PS 624:

Ratu surgawi, giranglah, alleluya.

Sebab Dia yang sudi kaukandung, alleluya.

Telah bangkit dari mati, alleluya.

Kami mohon doamu, alleluya.

  • Hari Raya Tritunggal Mahakudus sampai sebelum masa adven. Sepanjang tahun digunakan untuk menutup doa rosario.

Salve Regina

Salve, Regína, mater misericórdiae;

vita dulcédo et spes nostra, salve.

Ad te clamámus, éxsules fílii Hevae.

Ad te suspirámus, geméntes et flentes, in hac lacrimárum valle.

Eja ergo, advocáta nostra,

illos tuos misericórdes óculos ad nos convérte.

Et Jesum, benedíctum fructum ventris tui,

nobis post hoc exsílium osténde.

O clemens, o pia, o dulcis Virgo María.

Terjemahan dari PS 623:

Salam, ya Ratu, bunda yang berbelas kasih,

hidup, hiburan, dan harapan kami,

dengarkan kami, anak Hawa yang terbuang.

Bunda, perhatikan keluh kesah kami dalam lembah duka ini.

Ya Ibunda, ya penolong kami,

dengan mata yang memancarkan kasihan pandanglah kami.

Dan kelak tunjukkanlah kepada kami

Yesus, buah rahimmu yang terpuji.

Maria, yang pemurah, ya Perawan yang baik hati.

MENYIAPKAN MISA LINGKUNGAN

Misa Lingkungan seringkali dipandang sebagai sebuah kegiatan wajib belaka, sehingga kerap kali tidak disiapkan dengan baik. Padahal misa Lingkungan bila disiapkan dengan baik dapat bermanfaat untuk memupuk iman lebih dalam lagi bagi umat basis.

Dalam mempersiapkannya pun, umat dapat belajar untuk saling bekerja sama, saling menghargai, dan terutama belajar untuk lebih mencintai Ekaristi. Dengan umat yang lebih sedikit, imam yang memimpin perayaan dapat menyapa umat lebih dekat lagi dalam doa dan homili sehingga lebih mengena bagi mereka yang hadir.

Apa saja yang perlu disiapkan dalam menyelenggarakan misa di lingkungan? Lewat tulisan ini saya akan berusaha menjawab. Dalam misa apapun dan dimanapun, sebuah misa pasti memiliki faktor-faktor penunjang perayaan:

  1. Para pelayan
  2. Tempat pelaksanaan dan peralatan misa
  3. Bacaan dan homili
  4. Rumus Misa dan Doa-doa
  5. Nyanyian-nyanyian
  6. Faktor lain.

Berikut ini adalah penjabarannya sehubungan dengan Misa Lingkungan :

1. PARA PELAYAN

Pelayan utama dalam sebuah misa adalah pemimpin perayaan yaitu imam. Misa tidak dapat berlangsung tanpa kehadiran seorang imam. Misa lingkungan kadang diadakan bersamaan kunjungan romo paroki ke lingkungan, sehingga umat lingkungan tidak bisa memilih romo sendiri. Dalam kesempatan lain seperti misa pemberkatan rumah, misa arwah, atau misa dalam ujud tertentu, umat lingkungan dapat meminta romo manapun. Namun demikian hendaknya diprioritaskan romo paroki karena merekalah yang diserahi tugas oleh Uskup untuk menjadi gembala di paroki. Sangat penting untuk meminta persetujuan romo paroki jika ingin meminta romo selain romo paroki.

Selain itu juga ada pelayan lain untuk menunjang kelancaran misa di lingkungan. Pada tempat pertama adalah Lektor yang kepada mereka telah diberikan tugas untuk membaca Sabda Allah dalam perayaan Ekaristi. Memberikan tugas membaca Sabda Allah kepada Lektor, adalah langkah pertama untuk lebih mencintai Sabda Allah yang dihidangkan dalam perayaan Ekaristi. Bila di lingkungan tidak ada Lektor, tugas ini dapat diberikan kepada orang lain yang paling cakap membaca, dan harus disiapkan dengan baik jauh hari sebelumnya, tidak ditunjuk tepat sebelum misa dimulai.

Juga diperlukan seorang pemandu nyanyian, yang bisa ditugaskan kepada warga yang paling terampil menyanyi. Ia tidak harus menjadi dirigen yang mengaba-aba dengan tangan. Bisa menyanyikan lagu dengan baik dan benar sudah lebih dari cukup sehingga umat yang lain bisa mengikutinya.

Tidak semua lingkungan memiliki organis. Jika punya, sebaiknya mereka menjalankan tugasnya. Misa lingkungan dapat juga dijadikan sarana “uji coba” bagi calon organis yang belum berani tugas misa minggu di gereja. Walaupun uji coba tentu juga harus disiapkan dengan baik supaya tidak malah mengganggu kekhidmatan misa.

Kaum muda dan anak-anak bisa dilibatkan sebagai pembaca doa umat. Tugas membaca doa umat bisa diberikan kepada siapa saja di antara umat beriman sehingga kaum muda dan anak-anak pun boleh membaca doa umat.

Mereka juga bisa dilibatkan sebagai pengantar persembahan. Walaupun jarang dilakukan dalam misa lingkungan, mengantar persembahan bukanlah tidak mungkin dilakukan. Bahan persembahan adalah roti dan anggur, serta kolekte.

Kalau umat yang hadir cukup banyak, juga diperlukan prodiakon. Tugas utama prodiakon adalah membantu imam membagi komuni jika umat yang hadir terlalu banyak sehingga kalau imam sendirian membagi komuni dikhawatirkan prosesi komuni memakan waktu yang cukup lama. Maka, jika umat yang hadir tidak terlalu banyak, tidak diperlukan prodiakon. Jika memungkinkan, memang sebaiknya Komuni Kudus diterima dari tangan imam.

2. TEMPAT PELAKSANAAN DAN PERALATAN MISA

Untuk melaksanakan sebuah perayaan tentu memerlukan tempat yang bisa menampung umat yang hadir. Idealnya semua umat dapat melihat imam dan altar tempat perjamuan dilangsungkan. Makanya gereja selalu dibangun dengan bentuk yang mendukung kondisi itu. Yang ideal ini terkadang sulit dilakukan di misa lingkungan yang kadang-kadang tempatnya digilir di antara warga lingkungan. Maka perlu dipertimbangkan beberapa hal.

Untuk menyelenggarakan misa diperlukan sebuah meja sebagai altar. Altar ini harus ditutupi kain putih polos dengan dua buah lilin di atasnya dan sebuah salib dengan sosok Yesus tersalib. Bila kebetulan pada hari itu dirayakan pesta atau hari raya, dapat dipasang empat buah lilin. Karena meja altar adalah tempat suci, maka yang tidak berhubungan langsung dengan perjamuan seperti hiasan bunga hendaknya tidak diletakkan di atas meja altar. Hiasan bunga dapat diletakkan di sekitar meja altar dan bukan di atasnya.

Meja altar sebaiknya diletakkan pada posisi dimana umat paling mudah melihat imam. Jika tidak mungkin semuanya melihat, paling tidak posisi itu yang paling memungkinkan sebanyak mungkin umat dapat melihat. Hal ini sehubungan dengan sebuah tindakan liturgis, dimana imam menunjukkan Tubuh dan Darah Kristus saat konsekrasi kepada umat, dan umat memandangnya.

Peralatan misa (piala, sibori, tempat anggur) dan bahan persembahan (hosti dan anggur) biasanya disiapkan oleh romo yang memimpin perayaan. Bila tidak, dapat minta ke koster gereja untuk minta disiapkan.

Apabila tempat misa dilangsungkan cukup besar dan umat yang hadir juga cukup banyak, diperlukan sound system. Misa adalah perayaan iman jemaat, sehingga setiap detail doa, nyanyian, bacaan dan homili, sebaiknya dapat dilihat dan didengar setiap umat yang hadir. Jangan sampai ada umat yang sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang berlangsung karena mereka memiliki hak untuk merayakan Ekaristi, dan adalah kewajiban penyelenggara untuk memenuhi hak tersebut. Kalau karena tempat tidak semua umat bisa melihat, jangan sampai mereka juga tidak bisa mendengar.

Bila diadakan pemberkatan rumah diperlukan air suci dan hisop untuk pemercikan. Air suci dapat dipakai air putih biasa dan diberkati oleh imam, sedangkan hisop bisa pinjam gereja atau prodiakon kadang juga punya. Air suci dan hisop juga bisa dipakai bila digunakan pemercikan (asperges me) sebagai pengganti seruan tobat.

Dalam tradisi liturgi juga dikenal bel sebagai penanda turunnya Roh Kudus saat konsekrasi. Alangkah baiknya jika setiap lingkungan punya bel sendiri yang dapat digunakan saat misa. Tidak perlu bel yang besar seperti di gereja, cukup bel dengan satu bandul saja seperti penjual es keliling. Umat yang pernah jadi misdinar pasti tahu cara pemakaiannya. Selain itu dalam misa arwah pada hari pemakaman, juga diperlukan wiruk/turibulum untuk mendupai jenazah. Biasanya hanya gereja yang punya alat ini, namun tidak ada salahnya lingkungan atau wilayah punya alat ini.

3. BACAAN DAN HOMILI

Penyelenggara misa di lingkungan juga perlu tahu kalender liturgi yang memuat bacaan harian sepanjang tahun. Biasanya misa lingkungan menggunakan pemilihan bacaan dari kalender liturgi. Dalam kesempatan khusus seperti pemberkatan rumah atau peringatan lainnya bisa menggunakan bacaan yang dipilih sendiri. Baik menggunakan bacaan dari kalender liturgi maupun memilih sendiri, harus sepersetujuan romo yang memimpin perayaan.

Salah satu bagian pokok dari Liturgi Sabda yang sering dihilangkan dengan semena-mena adalah Mazmur Tanggapan. Rumus bacaan di kalender liturgi selalu memuat mazmur tanggapan, sehingga harus dibacakan atau dinyanyikan, dan tidak boleh diganti dengan lagu atau bacaan lain. Bila memilih bacaan sendiri, pada bagian ini dapat dinyanyikan lagu di puji syukur yang teksnya diambil dari mazmur seperti PS 646, 677, 568, dll.

Homili utamanya bermanfaat untuk menguraikan isi bacaan pada hari itu dan mengaitkannya dalam hidup sehari-hari. Terkadang di umat basis sedang ada kondisi khusus misalnya perpecahan atau perdamaian, pengurus lingkungan juga dapat meminta romo untuk berhomili terkait kondisi tersebut.

4. RUMUS MISA DAN DOA-DOA

Rumus misa terkait dengan bagian-bagian yang tetap, yang selalu ada pada setiap misa.

Ada bagian-bagian yang harus mengikuti ketentuan dan tidak boleh membuat baru: seruan tobat memilih dari beberapa cara yang ada, kemuliaan dinyanyikan pada hari minggu dan hari raya, syahadat pada hari minggu dan hari raya, prefasi dan doa syukur agung memilih dari yang sudah ada.

Ada pula bagian yang dapat dibuat baru oleh imam namun seturut hakekatnya adalah doa pemimpin, sehingga hanya imam yang mengucapkannya sedangkan umat menghayatinya dan menyetujuinya lewat seruan “Amin”, yaitu : doa pembukaan, doa persiapan persembahan, doa damai, dan doa sesudah komuni. Pengurus lingkungan bisa meminta imam memasukkan dalam doa-doa ini ujud khusus menyangkut lingkungan tersebut, supaya lewat doa-doa ini umat merasa tersapa secara lebih khusus.

Doa umat sebaiknya disiapkan oleh pengurus lingkungan dan tidak spontanitas umat. Perlu dimasukkan ujud bagi kepentingan Gereja (Bapa Suci, Uskup dan para imam), kepentingan negara, dan kepentingan umat setempat. Ujud bagi kepentingan umat setempat dapat dimanfaatkan untuk mendoakan orang-orang tertentu di lingkungan tersebut, seperti mohon kesembuhan, syukur atas ulang tahun, lulus kuliah, dll. Namun hendaknya ujud-ujud khusus itu dibuat ringkas sehingga tidak makan terlalu banyak waktu.

5. NYANYIAN-NYANYIAN

Karena misa adalah perayaan Gereja, maka perlu mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja, diantaranya menggunakan lagu yang telah disahkan atau yang syairnya berasal dari Kitab Suci dan sumber-sumber liturgi. Pemilihan nyanyian perlu dilakukan dengan cermat, sesuai dengan tema dan bacaan pada hari itu, sehingga nyanyian benar-benar menunjang keseluruhan perayaan. Maka, untuk pemilihan nyanyian pada tempat pertama diambil dari Puji Syukur sebagai buku resmi yang disahkan KWI. Dalam misa dengan sedikit umat, sangat penting untuk melibatkan seluruh yang hadir untuk ikut menyanyi.

Lagu-lagu untuk misa adalah: Lagu Pembukaan, Tuhan Kasihanilah Kami, Kemuliaan (saat hari raya), Mazmur Tanggapan (bukan lagu antarbacaan), Bait Pengantar Injil, Lagu Persembahan, Kudus, Bapa Kami, Anakdomba Allah, Lagu Komuni, dan Lagu Penutup.

Sekali lagi, Mazmur Tanggapan adalah bagian pokok dari Liturgi Sabda yang tidak dapat dihilangkan atau diganti dengan lagu lain. Sehingga untuk bagian itu jika tidak dinyanyikan, menggunakan yang ada di kalender liturgi. Bila ingin dinyanyikan dapat melihat indeks di buku Mazmur Tanggapan Dan Alleluya.

6. FAKTOR LAIN

Latihan

Dalam rangka menyiapkan misa minggu, para petugas pastilah menyiapkan diri dengan latihan-latihan supaya dapat memberikan yang terbaik saat tugas nanti. Dengan demikian perayaan dapat berjalan lancar dan semua yang hadir terbantu dengan pelayanan yang diberikan para petugas.

Begitu pula misa di lingkungan, bila para petugas mempersiapkan diri dengan latihan-latihan tentu juga akan bisa memberikan yang terbaik. Petugas yang memerlukan latihan terutama adalah Lektor dan Pemandu Nyanyian. Agar bisa menyampaikan Sabda Allah dengan baik, seorang lektor dituntut dengan latihan yang baik pula.

Demikian juga pemandu nyanyian perlu menyiapkan diri, jangan sampai ia yang ditunjuk untuk memandu nyanyian malah kurang lancar menyanyikan, tentu yang seperti ini bisa malah mengganggu. Bila perlu dibuat kor kecil beranggota 5-7 orang sebagai pemandu nyanyian. Mereka yang nanti menjadi “motor” dalam setiap nyanyian. Kor kecil ini akan berfungsi maksimal bila melakukan latihan-latihan. Sebelum misa dimulai juga sebaiknya umat dilatih menyanyikan beberapa atau seluruh lagu.

Latihan juga bisa diadakan bagi pembaca doa umat, dan pengantar persembahan (bila ada), terutama jika petugas-petugas itu adalah anak-anak yang belum biasa terlibat dalam tugas-tugas liturgi.

Suasana Doa

Karena diadakan di rumah, suasana doa bisa tidak tercipta dengan kondusif, mengingat rumah memang bukan tempat doa seperti gereja. Oleh karena itu suasana doa perlu diciptakan dengan baik. Hindari kesibukan menyiapkan makanan ketika umat tengah bersiap mengikuti misa.

Sediakanlah waktu sekitar 15-30 menit sebelum misa dimulai untuk membawa umat ke dalam suasana doa. Waktu ini bisa diisi dengan latihan lagu yang akan dinyanyikan, informasi terkait tata gerak, dan terutama melalui doa.

Pendidikan Liturgi

Misa lingkungan bisa dijadikan sarana efektif untuk memberikan pendidikan liturgi karena diikuti sedikit umat. Para katekis, pengurus lingkungan dan prodiakon dapat memberikan petunjuk singkat sebelum misa atau pada pertemuan sebelum hari misa, tentang segala kebiasaan umat yang tidak sesuai dengan kaidah liturgi.

Misalnya yang masih sering terjadi, umat tidak membungkukkan badan saat Aku Percaya pada bagian “yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria.”; juga pada saat Doa Damai dimana umat masih mengucapkan bagian “Tuhan Yesus Kristus jangan memperhitungkan dosa kami dst” yang seharusnya hanya diucapkan oleh imam; juga untuk melatih umat memberikan salam damai hanya pada orang di kiri-kanan, depan-belakang saja dan tidak berjalan kesana kemari.

Kolekte

Kolekte adalah sumbangan umat untuk keperluan Gereja dan bagi kepentingan orang miskin. Dalam konteks misa lingkungan, dapat dipersembahkan dana yang dikumpulkan dari umat untuk kepentingan sosial tertentu, misalnya membantu warga yang kebanjiran, memberikan modal usaha bagi orang miskin, dll.

Anak-anak dan kaum muda juga bisa dilatih untuk mengumpulkan uang secara teratur untuk disumbangkan kepada orang miskin. Uang yang dikumpulkan ini akan bernilai rohani bagi mereka jika dipersembahkan kepada Tuhan pada saat kolekte di misa lingkungan. Anak-anak tentu akan merasa bangga bila usaha mereka diberi arti sebagai persembahan umat kepada Tuhan.

KESIMPULAN

Demikian artikel ini saya tuliskan untuk membantu siapa saja yang pernah, masih, atau akan terlibat dalam kepengurusan lingkungan yang pasti suatu saat akan berhubungan dengan pelaksanaan misa di lingkungan. Dalam persiapan, harus dikedepankan komunikasi antara semua yang terlibat, khususnya dengan romo yang memimpin perayaan.

Semoga bermanfaat....

MENYIAPKAN LITURGI PERKAWINAN

Banyak orang yang bingung menyiapkan saat perkawinan mereka, karena banyak yang harus mereka urus baik menyangkut unsur-unsur pokok sebuah perkawinan, maupun unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur pokok dalam sebuah perkawinan katolik adalah penerimaan Sakramen Perkawinan di hadapan pejabat Gereja, yang untuk menuju kesana pun ternyata harus melalui jalan yang sama sekali tidak mudah, dan seringkali membingungkan.

Terkadang banyak pasangan yang tidak terlalu memperdulikan unsur pokok ini, dan cenderung lebih memperhatikan unsur tambahan seperti resepsi dan bulan madu. Padahal tanpa yang pokok ini, yang tambahan tidak akan berarti apa-apa. Lewat yang pokok inilah cinta mereka disatukan oleh Tuhan sendiri.

Lewat tulisan ini saya ingin membagikan pengalaman saya kepada anda semua yang akan menikah atau diminta menjadi panitia perkawinan teman atau saudara anda. Pengalaman yang saya bagikan terbatas pada unsur-unsur pokok saja. Semoga tidak membuat anda tambah bingung.


APA YANG PERLU DISIAPKAN PERTAMA KALI

  1. Anda harus punya pasangan dulu yang akan anda ajak menikah. Disarankan: Pasangan ini harus berbeda kelamin dengan anda, dan harus berada dalam posisi bebas, alias masih lajang, atau sudah pernah menikah namun dimungkinkan oleh hukum Gereja untuk menikah lagi. Tidak disarankan: Pasangan dengan kelamin yang sama. Gereja Katolik sangat menentang perkawinan sejenis . Jangan pula menikahi anak di bawah umur, karena dapat membawa anda masuk penjara.
  2. Tentukan tanggal perkawinan anda dan romo yang akan memimpin liturgi perkawinan. Disarankan: Selama ini yang lazim dilakukan adalah misa khusus untuk perkawinan. Namun, Gereja memiliki beberapa aturan yang tidak memungkinkan pada hari-hari tertentu dilangsungkan misa perkawinan, yang terkadang tidak dipatuhi oleh para romo. Ada juga keuskupan tertentu yang melarang misa khusus untuk perkawinan, sehingga perkawinan dilangsungkan tanpa misa. Hal-hal seperti ini tentu perlu dikomunikasikan dengan romo yang akan memimpin perkawinan anda, atau romo paroki tempat anda domisili atau romo paroki tempat anda akan melangsungkan perkawinan. Terbuka pula kemungkinan melangsungkan perkawinan pada salah satu misa umat. Bisa juga dalam misa perkawinan memakai rumus bacaan dan doa hari Minggu supaya umat yang menghadiri perkawinan anda sekaligus memenuhi kewajiban misa Minggu. Sekali lagi, komunikasikan dengan romo paroki anda. Tidak disarankan: Menentukan tanggal perkawinan tanpa sebelumnya berkomunikasi dengan romo-romo tersebut di atas. Pernah terjadi sepasang calon pengantin menghadap romo, minta melangsungkan perkawinan pada tanggal tertentu. Ternyata pada tanggal tersebut jadwal perkawinan di gereja maupun jadwal romonya sendiri sudah penuh. Padahal calon pengantin ini sudah membooking gedung resepsi, catering, dekorasi, dll. Jadi sebelum mengurus unsur tambahan (resepsi dll) pastikan dulu unsur pokoknya terpenuhi dengan baik.
  3. Pilih gereja tempat melangsungkan perkawinan. Disarankan: Jika paroki anda sudah punya gedung gereja sendiri, pakailah itu saja. Terkadang ada pasangan yang memiliki memori tertentu di sebuah gereja kemudian memilih gereja tersebut. Atau bisa juga karena pertimbangan estetika dan keindahan, kemudian memilih gereja yang dapat memenuhinya. Seperti ini sama sekali tidak dilarang. Hanya juga perlu dipertimbangkan seberapa jauh lokasi gereja itu dari tempat domisili anda dan keluarga serta orang-orang yang akan anda undang untuk ikut menghadiri perkawinan anda. Jika terlalu jauh bukankah malah merepotkan? Tidak disarankan: Memilih gereja protestan, apalagi merayakan misa di situ.
  4. Penuhi semua persyaratan administrasi tanpa kecuali. Disarankan: Temui petugas sekretariat paroki untuk bertanya tentang apa saja yang harus dipenuhi dalam persiapan perkawinan. Sekretariat paroki tentu akan memberitahu langkah-langkah apa saja yang harus ditempuh. Jika anda dan pasangan anda berbeda paroki atau bahkan berbeda keuskupan, sering-seringlah bertanya karena sangat mungkin lain paroki/keuskupan lain pula aturan administrasinya. Biasanya yang harus dipenuhi adalah: surat pengantar ketua lingkungan domisili, surat baptis yang diperbarui (minta ke paroki tempat dibaptis), mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (untuk ini juga ada syarat administrasi tertentu), fotocopy akta kelahiran, kartu keluarga dll, pas foto, dan setelah semuanya itu selesai baru memasuki tahap penyelidikan kanonik. Setelah penyelidikan kanonik, dan oleh romo yang memeriksa dinyatakan boleh menikah, baru nama anda dan pasangan anda akan diumumkan 3 minggu berturut-turut di gereja. Bila pasangan anda beda gereja atau beda agama, proses dan syaratnya tentu akan lebih banyak dari yang saya paparkan ini. Tidak disarankan: Bertanya kepada teman atau orang tua jika tidak tahu. Tanyakan langsung kepada sekretariat paroki. Ingat kata pepatah, “Malu bertanya sesat dijalan.”

JENIS PERAYAAN PERKAWINAN

Jika semua persyaratan administrasi sudah anda penuhi, saatnya memikirkan liturgi perkawinan. Perayaan liturgi yang baik adalah perayaan yang bisa menghasilkan buah yang baik. Menghasilkan buah berarti dalam perayaan itu siapa saja yang hadir dapat memetik manfaat dan dari situ membuat hidup rohaninya menjadi lebih baik.

Dalam perayaan liturgi perkawinan, buah yang baik ini diharapkan pertama-tama dipetik oleh pasangan yang menikah, kemudian baru seluruh umat yang hadir. Untuk menghasilkan buah yang baik, sebuah perayaan liturgi tentu harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya pula.

Ada alternatif apa saja untuk melangsungkan perayaan perkawinan?

  1. Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa yang tidak memenuhi kewajiban hari Minggu
  2. Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa yang memenuhi kewajiban hari Minggu
  3. Penerimaan Sakramen Perkawinan di tengah misa umat hari Minggu
  4. Penerimaan Sakramen Perkawinan tanpa misa

Untuk bisa memahami istilah-istilah di atas, perlu dijabarkan secara sederhana:

  • Bagian pokok dari misa adalah Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, dengan Ritus Pembuka dan Ritus Penutup sebagai bagian pendukung.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa (baik yang memenuhi maupun tidak memenuhi kewajiban hari Minggu, maupun di tengah misa umat hari minggu) tetap terdiri dari dua bagian pokok tersebut, dengan ditambahkan Liturgi Perkawinan di tengahnya. Sehingga susunannya menjadi Ritus Pembuka-Liturgi Sabda-Liturgi Perkawinan-Liturgi Ekaristi-Ritus Penutup.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa yang tidak memenuhi kewajiban hari Minggu, berarti dalam perayaan tersebut semua doa, bacaan dan lagu memakai tema perkawinan. Kebanyakan perkawinan, khususnya di Jakarta, memakai jenis ini, dan dapat dilangsungkan pada hari apa saja kecuali hari-hari tertentu yang melarang dilangsungkan perkawinan.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan dengan misa yang memenuhi kewajiban hari Minggu, hanya bisa dilangsungkan pada hari Minggu, dengan jam khusus yang berbeda dari misa reguler. Berarti doa, bacaan, dan lagu menggunakan rumus misa hari Minggu tersebut. Salah satu bacaan dapat dipilih dengan tema perkawinan. Begitu juga lagu-lagu setelah berkat penutup dapat memakai lagu tema perkawinan.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan di tengah misa umat hari Minggu, berarti mengambil jam dimana misa biasa dilangsungkan, dengan semua doa, bacaan, dan lagu dari rumus misa hari itu. Setelah homili dilangsungkan Liturgi Perkawinan untuk mempelai yang menikah. Dan setelah itu misa seperti biasa.
  • Penerimaan Sakramen Perkawinan tanpa misa menghilangkan Liturgi Ekaristi, sehingga susunannya: Ritus Pembuka-Liturgi Sabda-Liturgi Pernikahan-Ritus Penutup.
  • Manapun jenis yang anda pilih tidak berpengaruh apapun terhadap Sakramen Perkawinan yang akan anda terima.

Apa saja bagian pokok dan pelengkap dari Liturgi Perkawinan?

Bagian pokok dari Liturgi Perkawinan adalah:

  1. Pernyataan kesediaan mempelai, bahwa pernikahan yang akan dilangsungkan sungguh dengan ikhlas hati, dan bersedia menjadi orang tua yang baik serta mendidik anak-anak secara katolik. Bentuk pernyataan sendiri dapat berupa tanya jawab, bisa juga dengan satu pernyataan utuh.
  2. Kesepakatan pernikahan, dimana kedua mempelai saling mengucapkan janji nikah. Pengucapan janji nikah ini boleh memilih dari bentuk yang ada:
    • Dalam bentuk pengambilan sumpah,
    • Saling berjabat tangan,
    • Tanya jawab.
  3. Peneguhan oleh imam, bahwa pernikahan yang dilangsungkan adalah pernikahan katolik yang sah.
  4. Doa untuk mempelai. Bagian ini dapat dipindahkan setelah Bapa Kami.

Bagian pelengkap dari Liturgi Pernikahan adalah:

  1. Pemberkatan dan pemasangan cincin
  2. Pemberkatan dan pemberian kitab suci, salib, rosario, patung rohani.
  3. Sungkem kepada orang tua

PETUGAS LITURGI

Setelah anda memilih alternatif mana yang anda pilih dan disetujui oleh romo, saatnya anda memilih dan menentukan petugas-petugas untuk membantu kelancaran, kekhidmatan dan keagungan pernikahan anda. Inilah petugas yang anda butuhkan:

1. Romo. Tentu saja setiap perayaan sakramen memerlukan romo. Anda bisa pilih romo paroki anda, romo yang dekat dengan anda, atau romo yang kebetulan masih keluarga anda, atau bahkan romo paroki tetangga yang tidak anda kenal. Manapun yang anda pilih tetap utamakan komunikasi.

2. Saksi. Untuk sahnya pernikahan katolik diperlukan dua orang saksi untuk menyaksikan pernikahan. Identitas saksi ini biasanya harus sudah jelas saat penyelidikan kanonik. Kehadiran saksi sesuai dokumen kanonik mutlak perlu, karena mereka nanti juga akan menandatangani dokumen tersebut. Saksi harus beragama katolik dan sebaiknya memiliki hidup berkeluarga yang baik dan patut dicontoh.

3. Kelompok koor. Manapun kelompok yang anda pilih, sebaiknya pertimbangkan faktor kedekatan anda/pasangan atau keluarga anda/pasangan dengan kelompok tersebut. Mereka yang punya faktor ini tentu akan bernyanyi dengan lebih berperasaan, bukan karena diberi sesuatu tapi karena ingin memberikan yang terbaik.

4. Pemain musik. Kebanyakan kelompok koor memiliki organis sendiri. Jika koor yang anda pilih sudah punya organis, anda tidak perlu repot memikirkan lagi. Tapi jika anda menginginkan lebih dari sekedar organis (misalnya orkes), anda perlu menyiapkan dana besar untuk menyewa pemain orkes.

5. Prodiakon. Pernahkah anda menghadiri misa pernikahan yang dihadiri banyak sekali umat, sementara romo sendirian membagikan komuni, antrian masih panjang tapi koor sudah kehabisan lagu? Jangan sampai ini terjadi pada pernikahan anda. Perhitungkan dengan cermat berapa kira-kira jumlah umat yang menghadiri pernikahan anda. Dan sekiranya cukup banyak, anda memerlukan prodiakon untuk membantu romo membagi komuni. Prodiakon tidak diperlukan jika umat yang hadir tidak terlalu banyak.

6. Misdinar / Putra Altar. Bagaimanapun bentuk perayaan yang anda inginkan, tetap memerlukan kehadiran seorang atau sepasang misdinar untuk membantu romo di panti imam.

7. Lektor. Setiap paroki pasti memiliki orang-orang yang dikhususkan untuk pelayanan sebagai lektor, yang bertugas membacakan bacaan pertama dan kedua dan kalau perlu, mazmur tanggapan. Idealnya merekalah yang bertugas sebagai pembaca bacaan pertama, sekalipun dalam perayaan pernikahan. Tugas ini bukanlah tugas adik atau kakak atau sepupu anda, yang belum tentu dapat membacakan dengan baik. Tugas ini adalah tugas lektor yang memang dilatih untuk itu. Sabda Allah yang dihidangkan kepada umat (tidak hanya anda sebagai pengantin) tentu perlu dihidangkan dengan sebaik-baiknya, dan bukan sembarangan. Sama seperti tidak semua orang boleh membagi komuni dalam Liturgi Ekaristi, begitu pula tidak semua orang boleh membaca Sabda Allah dalam Liturgi Sabda.

8. Koster. Jika anda menginginkan pernikahan yang agak beda dari yang sudah lazim dirayakan, sangat perlu dikoordinasikan dengan koster yang menyiapkan perlengkapan perayaan. Misalnya jika anda ingin sungkem tidak hanya kepada orang tua tapi juga kepada kakek nenek, tentu koster perlu menyiapkan kursi lebih banyak. Ingat pula bahwa terkadang koster juga mengoperasikan sound system gereja.

9. Penghias Altar. Ada paroki yang tidak mengijinkan dekorator profesional untuk menghias altar, hal ini dikarenakan hiasan altar juga bagian dari liturgi dan oleh karena itu juga perlu disiapkan dengan baik. Karena bunga itu juga tidak gratis, jika anda ingin lebih dari hiasan mingguan, juga perlu membayar lebih. Alangkah baiknya jika bunga pernikahan anda juga dapat dipakai untuk hiasan misa Minggu, hitung-hitung menyumbang untuk gereja.

10. Satpam/Penjaga Parkir. Di gereja tertentu, dimana berbagi ruang parkir dengan sekolah yang ada di sampingnya, persoalan parkir dan keamanan bisa menimbulkan masalah. Tanpa koordinasi, potensial terjadi penumpukan kendaraan atau bahkan mobil pengantin tidak bisa masuk pelataran gereja.

11. Wakil Keluarga. Wakil keluarga nantinya bertugas untuk menyerahkan pasangan pengantin kepada romo untuk diresmikan di awal perayaan pernikahan. Sebaiknya wakil keluarga ini dari kerabat dekat atau ketua lingkungan.

12. Petugas Persembahan. Jika anda menghendaki diadakan misa, maka perlu petugas pengantar persembahan. Idealnya yang dihantar adalah roti dan anggur saja. Jika pernikahan tanpa misa tidak perlu ada perarakan bahan persembahan.

13. Petugas Kolekte (fakultatif). Tidak semua paroki mengadakan kolekte saat perayaan pernikahan di jam khusus. Maka komunikasikan dengan romo paroki tempat dilangsungkan pernikahan.

14. Koordinator liturgi. Sekalipun anda menyiapkan segala sesuatunya dengan matang, pada saat pernikahan, anda berada di depan altar, di situ saja dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika terjadi sesuatu. Untuk itu anda membutuhkan seseorang atau panitia kecil yang bertugas untuk mencek segala sesuatu yang sudah anda siapkan. Misalnya koornya sudah siap atau belum, saksi apakah sudah hadir, sound system apakah sudah siap, dll. Orang seperti ini haruslah yang berpengalaman menangani kegiatan liturgi, misalnya prodiakon atau seksi liturgi lingkungan.

PERLENGKAPAN

Selain menentukan petugas, anda juga perlu menyiapkan benda apa saja yang dibutuhkan untuk perayaan pernikahan anda. Biasanya dalam setiap pernikahan ada barang-barang ini:

Disiapkan koster:

  • Wireless; Terkadang masalah sound system berpengaruh terhadap khidmatnya suatu perayaan. Jumlah microphone / wireless yang terbatas bisa mengganggu juga. Untuk itu tanyakan ke koster bisa menyediakan berapa microphone / wireless untuk liturgi pernikahan. Jumlah yang ideal adalah 3 buah: satu untuk romo, satu untuk pengantin pria dan satu lagi untuk pengantin wanita. Namun bisa juga 2 buah saja: satu untuk romo dan satu lagi bergantian pengantin pria dengan wanita.
  • Tempat air suci dan hisop; Seperti lazimnya perayaan pernikahan ada pemberkatan benda-benda rohani yang diperciki dengan air suci.
  • Bahan persembahan Piala dan tempat anggur; Sama seperti misa hari minggu. Jika anda ingin melibatkan lebih banyak petugas pengantar persembahan, anda juga dapat meminta sibori untuk dihantar saat persembahan.

Disiapkan pengantin

  • Cincin
  • Kitab Suci, Salib, Rosario
  • Buku Panduan; walaupun tidak harus ada, namun bisa sangat membantu pengantin maupun umat yang hadir. Sebaiknya isi buku panduan ini diambil dari teks resmi dan disetujui oleh romo yang akan memimpin perayaan.
  • Lilin untuk doa kepada Bunda Maria

PEMILIHAN LAGU

Hendaknya sungguh dihindarkan pemilihan lagu-lagu profan yang dinyanyikan artis-artis pop. Gunakanlah lagu liturgis yang memang diciptakan untuk keperluan liturgi, atau lagu-lagu yang syairnya diambil dari Alkitab atau sumber-sumber liturgi. Pemilihan lagu yang sembarangan tidak hanya mencederai kualitas perayaan, tapi juga menjadi contoh yang tidak baik bagi umat yang hadir. Ingat, fokus perayaan pernikahan bukan hanya pada dua insan yang hendak menikah, tapi juga Allah yang mempersatukan, sehingga lagu-lagunya pun harus senantiasa terarah kepada Allah Bapa yang mempersatukan itu.

PEMILIHAN BACAAN

Berikut ini pilihan bacaan untuk perayaan pernikahan :

TEMA 1 PUJIAN CINTA

BACAAN I:

Pilihan 1:Pembacaan dari kitab Kidung Agung 2:8-10.14.16a; 8:6-7a
Pilihan 2: Pembacaan dari surat pertama rasul Yohanes: 4:7-12
Pilihan 3: Pembacaan dari surat pertama rasul Paulus kepada umat di Korintus 12:31-13:8a

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 15:9-12 Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 22:35-40

TEMA 2 PERJANJIAN SETIA

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab nabi Yeremia 31:31-32a.33-34a
Pilihan 2: Pembacaan dari surat rasul Paulus kepada umat di Efesus 5:2a.21-33
Pilihan 3: Pembacaan dari surat Rasul Paulus kepada umat di Roma 8:31b-35.37-39.
Pilihan 4: Pembacaan dari kitab Wahyu 19:1-9a

BACAAN INJIL : Inilah Injil Yesus Kristus menurut santo Matius 19:3-6

TEMA 3 KEBAHAGIAAN ITU BERKAT TUHAN DAN TANGGUNGJAWAB KITA

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Putera Sirakh 26:14.16-21
Pilihan 2: Pembacaan dari kitab Kejadian: 24:48-51.58-67
Pilihan 3: Pembacaan dari kitab Tobit: 8:5-10
Pilihan 4: Pembacaan dari surat rasul Paulus kepada umat di Kolose 3:12-17
Pilihan 5: Pembacaan dari surat pertama rasul Yohanes 3:18-24

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 15:12-16
Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 2:1-11


TEMA 4 CINTA MEMPERSATUKAN

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Kejadian 2:18-24
Pilihan 2:Pembacaan dari kitab Tobit 7:9c-10.11c-17
Pilihan 3: Pembacaan dari surat pertama rasul Petrus 3:1-9

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 17:20-26
Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Markus 10:6-9

TEMA 5: CINTA BERKURBAN

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Kejadian 1:26-28.31a
Pilihan 2: Pembacaan dari surat rasul Paulus kepada umat di Roma 12:1-2.9-18
Pilihan 3: Pembacaan dari surat pertama rasul Paulus kepada umat di Korintus 6:13c-15a.17-20

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 5:13-16
Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut santo Matius 7:21.24-29
Pilihan 3: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 5:1-12a


PERAYAAN PERNIKAHAN

Tinggal satu hal yang mungkin paling ribet, namun krusial, yaitu bagaimana perayaan berjalan. Berikut ini saya sajikan perincian perayaan pernikahan mulai dari awal sampai akhir:

Persiapan sebelum perayaan

MC memberikan petunjuk

Petunjuk apa yang diberikan? Patut diingat bahwa dalam perayaan pernikahan, yang hadir di gereja tidak hanya yang katolik saja, tapi juga terkadang anggota keluarga non katolik. Terkadang mereka tidak tahu sikap yang wajar di dalam gereja, dan untuk itu perlu diberitahukan. Pengumuman supaya jangan makan minum di dalam gereja, mematikan handphone, atau menjaga ketenangan tetap perlu diumumkan sebelum perayaan berlangsung. Selain itu juga perlu diumumkan agar umat mengikuti tata gerak yang lazim berlaku, tidak hanya sebagai penonton, tapi juga turut aktif lewat tata gerak dan jawaban umat.

Penyambutan dan penyerahan pengantin

Ada dua model acara ini:

Pertama, penyambutan di pintu gereja, dimana imam dan misdinar berjalan ke pintu untuk menyambut mempelai, kemudian semuanya kirab menuju altar. Kalau cara ini yang dipilih, penyerahan dari wakil keluarga dilakukan di pintu gereja.

Kedua, imam dan pengantin pria menunggu di bawah panti imam, kemudian pengantin wanita berjalan masuk didampingi ayah atau walinya. Kalau cara ini yang dipilih, penyerahan dari wakil keluarga dilakukan setibanya pengantin wanita di bawah panti imam.

Selain itu dalam acara ini juga lazim dilakukan pemercikan air suci, yang juga tidak apa-apa jika tidak dilakukan.

RITUS PEMBUKA

Tanda salib dan salam

Pengantin dan umat berdiri.

Pengantar oleh imam

Tobat

Seperti halnya misa pada umumnya, cara tobat bisa bermacam-macam, bisa dengan Saya mengaku, mendaraskan mazmur, lagu Tuhan kasihanilah kami yang diselingi doa, bisa juga pemercikan air suci (Asperges Me)

Kemuliaan (jika menggunakan rumus misa Minggu)

Doa Pembuka

Pengantin dan umat berdiri

LITURGI SABDA

Bacaan Pertama

Pengantin dan umat duduk.

Mazmur Tanggapan

Sekarang ini sudah lazim mengganti mazmur tanggapan dengan lagu antar bacaan. Kebiasaan ini sungguh tidak tepat. Mazmur tanggapan adalah bagian pokok dari liturgi sabda, dan karenanya tetap perlu dinyanyikan atau didaraskan. Memang sampai saat ini masih terasa aneh jika menyanyikan mazmur tanggapan, namun perasaan aneh itu hanya karena tidak biasa. Pengantin dapat memilih lagu mazmur tanggapan yang akrab di telinga dan siapapun pasti suka, seperti PS 646 Tuhanlah Gembalaku dan PS 677 Nyanyikanlah Nyanyian Baru. Juga bisa dipilih dari buku Mazmur Tanggapan yang diterbitkan KWI. Lagu-lagu ini dapat menjadi alternatif sementara sampai KWI mengeluarkan buku nyanyian mazmur untuk pernikahan.

Bacaan Kedua (jika menggunakan rumus misa Minggu)

Bait Pengantar Injil

Pengantin dan umat berdiri.

Bait Pengantar Injil pada hakikatnya harus dinyanyikan. Pengantin dapat meminta koor menyediakan solis untuk menyanyikan Alleluya, kemudian ayatnya diambil dari salah satu ayat Injil yang akan dibacakan.

Bacaan Injil

Homili

Pengantin dan umat duduk.

Walaupun bagi pengantin pernikahan adalah sekali seumur hidup, terkadang bagi romo hanya rutinitas belaka sehingga tidak terlalu istimewa. Sehingga ada romo yang setiap menyampaikan homili saat pernikahan selalu sama. Ada romo yang setiap homili selalu menanyakan ketemu di mana, berapa tahun pacaran, dll, kemudian ditutup dengan nasihat kalau ada masalah coba kembali ke tempat pertama bertemu. Selalu seperti itu homilinya.

Maka pengantin dapat meminta kepada romo untuk memberikan homili sesuai bacaan yang telah mereka pilih, agar melalui bacaan dan homili, mereka sungguh dapat memetik buah sebagai bekal perjalanan hidup berkeluarga.

LITURGI PERKAWINAN

Mohon restu orang tua (fakultatif)

Setiap pasangan pengantin maupun orang tua tentu menginginkan upacara sungkeman ini dilangsungkan dengan khidmat dan berkesan. Namun terkadang orang tua lupa maupun pengantin lupa, bahwa acara ini bukanlah termasuk inti perayaan, sehingga tidak ada alasan untuk berlama-lama pada saat ini. Terkadang orang tua memberikan nasihat-nasihat kepada anaknya yang akan menikah. Walaupun tidak sama sekali salah, pemberian nasihat yang terlalu lama bisa mengganggu juga. Berikanlah nasihat secukupnya, bila ingin panjang lebar bisa dilakukan di rumah atau dalam acara yang tersendiri.

Pernyataan mempelai

Pengantin berdiri didampingi para saksi, umat duduk.

Kesepakatan pernikahan / Janji Nikah

Umat berdiri.

Cara manapun yang dipilih (tanya jawab, bentuk sumpah, atau saling berjabat tangan) tetaplah sah, sehingga pengantin perlu memutuskan cara yang paling sesuai dan cocok. Walau demikian, menurut hemat saya, cara saling berjabat tangan adalah cara yang paling pas, karena dengan cara ini memungkinkan keduanya untuk saling menatap satu dengan yang lain sehingga cara ini dapat melibatkan mereka secara emosional. Selain itu karena pertimbangan praktis, dengan cara ini fotografer memiliki sudut pengambilan gambar yang lebih artistik.

Penerimaan Kesepakatan pernikahan

Doa untuk mempelai

Baik penerimaan kesepakatan pernikahan maupun doa untuk mempelai sebaiknya mengunakan rumus yang sudah ada.

Pemberkatan dan pengenaan cincin (fakultatif)

Pemberkatan dan pemberian kitab suci, salib dan rosario (fakultatif)

Syahadat (jika menggunakan rumus misa Minggu)

Doa Umat

Dalam doa umat hendaknya didoakan ujud-ujud bagi kepentingan Gereja dan umat setempat, juga bagi kedua mempelai, orang tua dan keluarga, serta pihak-pihak yang sudah membantu jalannya perayaan.

Bila tanpa misa, setelah Doa Umat langsung disambung doa Bapa Kami, doa penutup lalu Ritus Penutup.

LITURGI EKARISTI

Perarakan Persembahan

Bahan persembahan yang sebenarnya adalah roti dan anggur, pada saat ini juga dapat dihantar persembahan untuk orang miskin. Roti dan anggur nantinya akan dikonsekrir menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Kebanyakan peraya menambah bahan lain seperti buah, bunga, atau lilin yang sesungguhnya tidak punya nilai liturgi apapun. Buah biasanya akan diberikan kepada romo yang memimpin perayaan, bunga adalah bahan dekorasi bukan persembahan, lilin sedianya sudah ada di altar.

Pengantin dapat meminta siapa pun untuk menjadi petugas pengantar persembahan, perlu diperhatikan kesiapan mereka. Jangan sampai ketidaksiapan mengakibatkan perayaan menjadi kurang khidmat.

Persiapan Persembahan – Anakdomba Allah seperti misa biasa.

Hanya perlu diperhatikan pada bagian salam damai, seringkali pengantin dan keluarga ingin menyalami semua kerabat dan sahabat yang hadir. Seperti ini menciptakan suasana yang gaduh dan tidak khidmat. Pengantin, keluarga dan umat yang hadir cukup memberikan salam damai kepada orang-orang yang posisinya terdekat.

Penerimaan Komuni

Jika anda ingin menerima komuni dalam dua rupa roti dan anggur, ada yang perlu anda ketahui. Terkadang masih ada romo yang melanggar ketentuan dasar mengenai komuni dua rupa dimana awam tidak boleh mengambil hosti sendiri apalagi kemudian mencelupkan sendiri. Tidak boleh juga pengantin saling menyuapi Tubuh dan Darah Kristus. Beritahukanlah hal ini kepada romo pemimpin perayaan, mengingat belum semua romo paham aturan ini. Dengan mentaati peraturan, anda sudah memberikan penghormatan yang pantas kepada Sakramen Mahakudus. Bila perlu rujukan tentang aturan bisa lihat di http://www.imankatolik.or.id/kvii.php?d=Redemptionis+Sacramentum&q=100-107

Doa Sesudah Komuni

Pengantin dan umat berdiri

RITUS PENUTUP

Doa Penutup (khusus perayaan pernikahan tanpa misa)

Pengumuman dan sambutan

Berkat Penutup

Doa kepada Bunda Maria

Penandatanganan Berkas Kanonik

Foto Bersama

Sumber:

PARTISIPASI AKTIF UMAT BERIMAN DALAM PERAYAAN EKARISTI

Banyak umat katolik gamang menterjemahkan kata-kata "partisipasi aktif umat beriman" atau "keikutsertaan aktif umat beriman" dalam mengikuti perayaan Ekaristi. Kegamangan ini kerap kali berujung pada salah kaprah dalam memahami perayaan Ekaristi, dimana partisipasi aktif umat beriman yang dikehendaki Konsili Vatikan II diartikan sebagai pengurangan peran imam dan penambahan peran umat, baik dalam tata gerak maupun doa.

Masih segar di ingatan ketika umat katolik Indonesia ikut mengucapkan Doa Syukur Agung dan doa damai seturut TPE 1979. Sisa-sisa TPE 1979 (walau sudah digantikan TPE 2005) masih terjadi di banyak paroki dimana umat seringkali ikut mengucapkan doa damai. Masih pula sering terjadi imam mengajak umat untuk ikut mengucapkan doa-doa presidensial (Doa Pembuka, doa persiapan persembahan, dan doa sesudah komuni).

Terkadang atas nama "partisipasi aktif" umat sendiri ikut menambahkan acara sendiri dalam perayaan Ekaristi, seperti tepuk tangan yang berlebihan, dramatisasi bacaan dan homili, atau memberikan salam damai sampai jauh dari tempat duduk.

Pedoman Umum Misale Romawi Artikel 91 mengatakan:

Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus dan Gereja sebagai "sakramen kesatuan," yakni umat kudus yang berhimpun dan diatur di bawah para uskup. Oleh karena itu, perayaan Ekaristi berkaitan dengan seluruh Tubuh Gereja, mengungkapkan dan mempengaruhinya. Setiap orang yang turut merayakan Ekaristi mempunyai hak dan kewajiban untuk berpartisipasi secara aktif, masing-masing menurut cara yang sesuai dengan kedudukan dan tugasnya. Dengan cara ini, umat kristen,"bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang kudus, umat milik Allah sendiri", mengungkapkan keterpaduan dan tatanan hirarkisnya. Jadi semua orang entah pelayan tertahbis, entah umat beriman lainnya, hendaknya melakukan tugas yang menjadi bagiannya, tidak lebih dan tidak kurang.

Artikel di atas menjelaskan beberapa hal penting terkait partisipasi aktif, yaitu bahwa setiap orang beriman memiliki hak dan kewajiban untuk berpartisipasi secara aktif menurut cara yang sesuai dengan kedudukan dan tugasnya, tidak lebih dan tidak kurang. Bisa diartikan pula bahwa seorang imam tidak boleh mengambil jatah umat, dan umat tidak boleh mengambil jatah imam.

Lewat artikel ini saya mencoba untuk menguraikan bagaimana umat dapat berpartisipasi secara aktif pada setiap bagian perayaan Ekaristi sesuai tugas dan kedudukannya, tidak lebih dan tidak kurang. Umat berpartisipasi aktif dalam perayaan Ekaristi khususnya pada saat menyanyi, menjawab aklamasi dan jawaban umat atas salam dan doa imam, mendengarkan bacaan, hening, dan melakukan tata gerak tertentu.

RITUS PEMBUKA

-Nyanyian Pembukaan: Berdiri. Umat ikut menyanyikan lagu pembukaan. Nyanyian Pembukaan dimaksudkan untuk membantu menyiapkan hati dan pikiran supaya dapat mendengarkan Sabda Allah dan menyambut Ekaristi dengan layak.

-Tanda Salib dan Salam: Berdiri. Imam mengucapkan "Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus" sementara umat ikut membuat gerakan tanda salib, dan setelahnya bersama-sama mengucapkan/menyanyikan "Amin". Kemudian Imam mengucapkan salam "Tuhan sertamu/Tuhan bersamamu" dan umat menjawab "Dan sertamu juga/dan bersama rohmu". Seringkali Imam ikut menjawab sendiri "dan sertamu juga" oleh karena umat yang tidak dengan mantap menjawab seperti itu. Yang seperti itu kurang tepat, karena imam menggeser hak umat untuk menjawab.

-Pengantar dari Imam: Imam dapat memberikan pengantar singkat tentang tema perayaan hari itu, dengan mendengarkan, umat dapat lebih terbantu menyiapkan diri.

-Pernyataan Tobat: Berlutut, jika tidak ada tempat berlutut: berdiri. Ada berbagai rumus tobat yang bisa didoakan atau dinyanyikan. Umat haruslah menjawab bagian yang diperuntukkan padanya. Bila menggunakan rumusan "Saya Mengaku", pada bagian "saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa" imam dan seluruh umat menepuk dada.

-Madah Kemuliaan: Berdiri. Bersama imam dan kelompok kor menyanyikan Kemuliaan.

-Doa Pembuka: Berdiri. Doa Pembuka adalah salah satu Doa Presidensial yang hanya diucapkan oleh pemimpin perayaan atas nama seluruh umat. Setelah imam mengucapkan "Marilah berdoa" seharusnya ada saat hening sejenak untuk umat menyampaikan doa pribadi. Isi doa pembuka sendiri adalah doa seluruh umat, sehingga umat harus ikut aktif dengan cara mendengarkan dan menghayati isi doa tersebut. Setelah imam menyampaikan isi doa, umat menyetujuinya dengan mengucapkan "Amin".


LITURGI SABDA

Bacaan Pertama: Duduk. Gereja percaya, ketika kitab suci dibacakan dalam Liturgi Sabda, Allah sendiri bersabda kepada umatNya. Seperti layaknya seorang hamba dengan patuh mendengarkan tuannya berbicara, begitu pula kita dengan sikap hormat mendengarkan Allah yang berbicara melalui mulut para lektor. Pada saat ini harus dibiasakan sikap mendengarkan dan bukan membaca teks misa. Teks misa adalah sarana bantu untuk kita memahami bacaan ketika homili atau sebelum misa. Inti dari Liturgi Sabda adalah Allah yang bersabda kepada umat-Nya. Setelah bacaan, para petugas liturgi harus menyediakan saat hening sejenak yang cukup agar umat dapat meresapi bacaan yang baru saja dibacakan.

-Mazmur Tanggapan: Duduk. Umat hendaknya ikut mendaraskan/menyanyikan bagian ulangan yang merupakan jatahnya, sementara pemazmur mendaraskan/menyanyikan bagian ayat.

-Bacaan Kedua: Duduk. Sama seperti bacaan pertama, umat harus mendengarkan dengan sikap hormat dan tidak membaca dari teks misa. Sesudah bacaan juga harus ada saat hening sejenak.

-Bait Pengantar Injil: Berdiri. Sesuai namanya, bagian ini adalah pengantar kepada puncak Liturgi Sabda, yakni Bacaan Injil. Bait Pengantar Injil harus dinyanyikan mengingat hakekat kemeriahannya. Menyanyikan Bait Pengantar Injil dengan gegap gempita menunjukkan tanggapan kita akan Injil yang akan dibacakan.

-Bacaan Injil: Berdiri. Inilah puncak Liturgi Sabda. Pada bagian ini umat tidak hanya berdiri, melainkan berdiri sambil menghadap imam atau diakon yang membacakan bacaan Injil. Sama seperti bacaan sebelumnya, umat juga harus mendengarkan dengan sikap hormat Allah yang bersabda kepada umat-Nya.

-Homili: Duduk. Homili berfungsi untuk menjelaskan isi bacaan pada hari itu. Jika disediakan teks misa, dapat membantu umat untuk mengerti uraian yang disampaikan oleh imam.

-Syahadat: Berdiri. Pada bagian "yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria", imam dan seluruh umat membungkuk khidmat. Membungkuk ini untuk menghormati peristiwa inkarnasi, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Pada Hari Raya Natal dan Kabar Sukacita, bahkan berlutut.

-Doa Umat: Berdiri. Sesuai namanya, doa umat adalah doa seluruh umat. Sebagai bagian dari umat, kita menjadikan doa umat ini sebagai doa kita sendiri.

LITURGI EKARISTI

-Kolekte: Duduk. Kerapkali kolekte tidak lancar karena ada umat yang masih mencari-cari uang. Sebaiknya uang kolekte sudah disiapkan dari rumah dan ditaruh di kantong yang mudah dijangkau. Ini penting supaya tidak mengganggu ketika menyanyikan nyanyian persembahan.

-Nyanyian Persembahan: Duduk. Nyanyian persembahan berfungsi untuk mengiringi perarakan persembahan. Jika tidak ada perarakan persembahan, tidak perlu ada nyanyian persembahan.

-Ajakan imam untuk berdoa: Berdiri. Salah satu bagain paling "kacau" saat misa adalah bagian dimana umat menjawab "Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita dst." Bagian ini seringkali diucapkan dengan terburu-buru dan tidak kompak, sehingga terkesan tidak teratur. Maka penting untuk mengucapkan bagian ini dengan kecepatan yang sama seperti jawaban lain.

-Doa Persiapan Persembahan: Berdiri. Sama seperti Doa Pembuka, bagian ini adalah Doa Presidensial dimana pemimpin sendiri yang mengucapkan doa sementara umat mendengarkan dan menjadikan doa itu doanya sendiri, dan kemudian menjawab "Amin".

-Prefasi: Berdiri. Prefasi hakekatnya menunjukkan kemeriahan menjelang Doa Syukur Agung. Pada saat inilah imam menyanyikan alasan untuk beryukur yang diuraikan dalam prefasi.

-Kudus: Berdiri. Kudus adalah nyanyian para malaikat. Dengan ikut menyanyikan Kudus, umat yang berkumpul menggabungkan diri dengan himpunan malaikat dan orang kudus di surga memuji dan memuliakan Allah.

-Doa Syukur Agung: Berlutut. Jika tidak ada tempat berlutut: berdiri (bukan duduk). Inilah puncak perayaan Ekaristi, dimana roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Ketika imam selebran mengangkat Hosti/Piala, yang harus dilakukan umat adalah memandangnya, dan bukan malah menundukkan kepala. Kebiasaan umat mengatupkan tangan di depan dahi tidak boleh menghalangi untuk memandang Tubuh dan Darah Kristus. Setelah imam meletakkan Hosti/Piala, ia akan berlutut sebagai tanda penghormatan. Pada saat imam berlutut inilah seluruh umat juga memberikan penghormatan dengan membungkuk khidmat.

-Bapa Kami: Berdiri. Banyak umat yang menambahkan sendiri tata gerak menengadahkan tangan saat Bapa Kami, dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain seakan-akan memang perlu dan wajib. Ada pula yang bergandengan tangan, dan mengajarkannya pula kepada orang lain. Gereja sendiri tidak pernah mengajarkan umat harus demikian. Gereja menghendaki imam (bukan umat) untuk merentangkan tangan. Marilah kita mengingat lagi PUMR 91 untuk berpartisipasi aktif seturut kedudukan dan tugas masing-masing.

-Doa Damai: Berdiri. Umat masih sering kali terbawa kebiasaan lama untuk ikut mengucapakan doa damai pada bagian "Tuhan Yesus Kristus janganlah memperhitungkan dosa kami dst." yang seharusnya hanya diucapkan oleh imam selebran. Umat hanya menjawab "Amin".

-Salam Damai: Berdiri. KWI lewat TPE 2005 menuliskan cara untuk menyampaikan salam damai adalah dengan saling berjabat tangan dan mengatakan "Damai Kristus". Kegiatan saling memberikan salam damai ini seringkali menjadi kegaduhan karena ada umat yang saking bersemangatnya sehingga meninggalkan tempat duduknya untuk menyalami sebanyak mungkin orang. Gereja menghendaki supaya salam damai hanya diberikan kepada orang-orang terdekat duduknya (PUMR 82).

-Anakdomba Allah: Berlutut. Kalau tidak ada tempat berlutut: Berdiri.

-Menerima Komuni: Duduk. Pada saat ini, seluruh umat perlu untuk menjaga keheningan. Nyanyian komuni dapat dimulai ketika imam menyambut komuni. Lagu yang dinyanyikan hendaknya dapat mendukung suasana hening, dengan demikian, suasana hati umat dalam menyambut komuni dapat terjaga. Pada saat imam atau prodiakon menunjukkan Hosti dan mengatakan "Tubuh Kristus", berilah penghormatan sejenak dengan menundukkan kepala, kemudian menjawab "Amin". Setelah menyambut komuni tetap menjaga keheningan, dapat pula berdoa pribadi atau bersama kor ikut menyanyikan lagu komuni.

-Doa Sesudah Komuni: Berdiri. Sama seperti doa pembuka dan persembahan, doa ini diucapkan oleh pemimpin atas nama seluruh umat. Umat menyetujuinya dengan menjawab "Amin."

RITUS PENUTUP

-Pengumuman: Duduk. Mendengarkan pengumuman menyangkut kegiatan dan kepentingan umat.

-Berkat dan Pengutusan: Berlutut/Berdiri. Umat ikut menjawab salam, dan membuat tanda salib, serta menjawab "Amin." Setelah berkat, seluruh umat diutus untuk mewartakan kabar baik.

-Lagu penutup Berdiri.

Semoga membantu....

Pengikut