Dulu waktu masih main band akrab dengan istilah "ngulik", yang berarti mencari notasi sebuah lagu dengan mengandalkan pendengaran. Caranya memutar lagu berulang kali untuk mendapatkan nada yang tepat, kalau ada satu bagian yang sulit maka bagian itu akan diputar berulang kali sampai ketemu nadanya.
Jaman masih SMA dulu pakai walkman sambil main orgen yamaha electone di rumah, tanpa alat lainnya. Sekarang makin canggih, sudah gak megang orgen lagi langsung puter di winamp dan tulis notasinya. Masalah harmoni belakangan dipikirnya.
Cara ngulik seperti ini selalu punya resiko salah nada, salah birama, atau salah lirik. Maka dari itu biasanya kalau sebuah band menyanyikan lagu orang lain lebih mudah diaransemen ulang daripada memainkan seperti aslinya, karena resiko salah nada tadi. Begitu juga dengan lagu paduan suara, rasanya lebih mudah mengaransemen ulang daripada ngulik nada per nada. Namun berhubung bidang pekerjaan selama tujuh tahun terakhir ini di bidang per-ngulik-an nada, tidak ada salahnya ngulik lagu paduan suara, hitung-hitung mengasah kemampuan.
Lagu yang saya pilih untuk dikulik ada dua:
1. Gift of Finest Wheat; pertama kali saya dengar lagunya di video ini :
Aransemen lagu ini saya kulik dari video lain yang saya lupa linknya. Kesulitan dasar lagu ini adalah pergantian birama 3/4 dan 4/4, yang saya tulis akhirnya berdasarkan insting saja.
2. Be Strong In The Lord,
Saya punya mp3 lagu ini sejak beberapa tahun lalu, kesulitannya karena suara alto dan tenornya yg kurang terdengar jelas, jadi harap maklum kalau ada kesalahan nada. Tapi sepertinya tidak terlalu bermasalah.
Akhir kata... selamat menikmati....
Selamat datang di blog ini, semoga menemukan apa yang dicari. Hampir semua lagu di sini dapat dinyanyikan untuk Liturgi Gereja Katolik. Perlu diingat bahwa semua lagu yang saya ciptakan sendiri BELUM mendapat imprimatur dari otoritas berwenang, sehingga jika ingin menggunakan lagu-lagu ini khususnya untuk misa, sebaiknya minta ijin dari pastor yang akan memimpin misa.
07 Juli 2010
23 Juni 2010
Ave Maris Stella
Ave maris stella (Salam bintang laut) adalah doa yang sudah sangat lama, dipakai sejak abad ke-8 atau 9, dan sangat populer pada abad pertengahan di Eropa.
Ave maris stella,
Dei Mater alma
Atque semper Virgo,
Felix caeli porta.
Sumens illud ave,
Gabrielis ore,
Funda nos in pace,
Mutans Hevae nomen.
Solve vincla reis,
Profer lumen caecis,
Mala nostra pelle,
Bona cuncta posce.
Monstra te esse matrem,
Sumat per te preces,
Qui pro nobis natus,
Tulit esse tuus.
Virgo singularis,
Inter omnes mitis,
Nos culpis solutos,
Mites fac et castos.
Vitam praesta puram,
Iter para tutum,
Ut videntes Jesum,
Semper collaetemur.
Sit laus Deo Patri,
Summo Christo decus,
Spiritui sancto,
Tribus honor unus.
Amen.
Terjemahan bebasnya :
Salam bintang laut, sungguh Bunda Allah, perawan selalu, pintu surga bah'gia.
Dikau t'rima salam yang Gabriel bawa, beri hidup tentram, ubah nama Hawa.
Tolonglah yang papa, bimbinglah yang buta, hiburlah yang duka, sembuhkan yang luka.
Tunjukkanlah ibu, antarlah doaku kepada Putramu yang lahir bagiku.
P'rawan tanpa tara, elok antar dara, lepas dari dosa, buatku sempurna.
Beri hidup murni, mohon jalan aman, lihat Yesus nanti agar selalu riang.
Terpujilah Bapa, hormat bagi Putra, Roh Kudus dipuja, esa selamanya.
Amin.
(terima kasih untuk Adrianus Ramon yang membantu menerjemahkan)
Saya lagi senang membuat lagu yang sederhana, dengan melodi yang mudah diingat, dan dinyanyikan berulang-ulang. Aransemen hanya soal variasi saja. Sebelum lagu ini saya membuat Adoro Te Devote, yang sesungguhnya juga lagu yang sederhana, hanya aransemennya yang tidak sederhana. Maka saya buat lagu ini (download di sini) dengan proses sekitar 20 menit. Seperti biasa, proses ngetiknya yang makan waktu agak banyak.
Niat awal saya tadinya adalah membuat lagu untuk Hari Raya Santa Maria Diangkat Ke Surga yang pada tahun ini akan jatuh pada hari Minggu 15 Agustus 2010, yang sangat layak untuk dirayakan dengan sangat meriah. Lirik yang saya rencanakan tadinya juga bukan Ave Maris Stella, tapi dari syair lain. Namun ketika saya tidak sengaja melihat teks Ave maris stella, langsung muncul melodi dan ide komposisi. Saat itu juga langsung saya kerjakan dan jadilah lagu ini.
Selamat menikmati.
Kompilasi Lagu-Lagu Gregorian Volume I
Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, akhirnya saya berhasil menyelesaikan sebuah buku berisi kompilasi lagu-lagu gregorian dalam bahasa Latin. Isi buku ini semuanya sudah ada di Puji Syukur, saya hanya memisahkan bahasa Indonesia dari notasi angkanya, yang untuk beberapa lagu gregorian di Puji Syukur terasa mengganggu. Alasan lainnya adalah karena saya menemukan beberapa kesalahan kecil di Puji Syukur yang berbeda dengan sumber-sumber lainnya, seperti pada lagu Credo (PS 374) dan Veni Creator Spiritus (PS 566).
Silahkan download di sini.
God Will Provide
Seorang teman akan menikah bulan depan dan request sebuah lagu yang judulnya God Will Provide, lagunya bagus dan menyentuh. Masalahnya ketika itu dia tidak menyediakan mp3 atau apapun yang bisa didengar, dan hanya menyediakan syairnya. Jadi saya cari sendiri di youtube, ternyata banyak sekali lagu dengan judul itu. Hanya ketemu satu video yang syairnya sama persis, namun dengan kualitas rekaman yang bisa dibilang jelek. Alhasil melodinya pun terdengar samar-samar.
Dengan modal lagu yang seperti itu saya mengetik dan mengaransemen lagu tersebut untuk paduan suara (silahkan download di sini). Kalau ada yang lebih paham lagu tersebut dan menemukan kesalahan baik syair maupun melodi, saya sungguh terbuka untuk menerima koreksi.
Dengan modal lagu yang seperti itu saya mengetik dan mengaransemen lagu tersebut untuk paduan suara (silahkan download di sini). Kalau ada yang lebih paham lagu tersebut dan menemukan kesalahan baik syair maupun melodi, saya sungguh terbuka untuk menerima koreksi.
11 Mei 2010
Meng-umat-kan gregorian, meng-gregorian-kan umat
Sudah bukan rahasia lagi kalau umat Katolik di Indonesia sudah mulai melupakan lagu-lagu gregorian, khususnya di kalangan anak muda. Di paroki saya sendiri (St. Robertus Bellarminus - Cililitan), lagu-lagu gregorian hanya dinyanyikan saat masa Adven dan Prapaskah. Selama Pekan Suci juga banyak lagu-lagu gregorian yang dinyanyikan, khususnya saat Minggu Palma dan Kamis Putih dan Exultet saat Malam Paskah.
Patut disyukuri pada Pekan Suci yang lalu di paroki kami menambah "koleksi" dengan menyanyikan Pater Noster dan Popule Meus saat Jumat Agung. Petugas Minggu Paskah juga berhasil dipaksa menyanyikan Sekuensia Paskah. Saya yakin di banyak paroki hanya pada kesempatan-kesempatan seperti inilah lagu gregorian banyak dinyanyikan, yang mungkin lebih banyak disebabkan karena keterbatasan pilihan lagu untuk perayaan-perayaan itu.
Pertanyaan sederhananya, kenapa saat ini koor-koor di Jakarta khususnya terkesan sulit sekali menyanyikan lagu-lagu gregorian? Paling tidak ada beberapa alasan :
Selamat menikmati, jika ada yang punya koleksi lebih baik, dengan senang hati saya akan menampung hehehe. Angka dalam kurung adalah nomer lagu di Puji Syukur.
Kalau anda merasa langkah kecil yang saya lakukan ini akan bermanfaat, anda bisa membantu saya dengan doa untuk menyelesaikan penulisan ulang ini.
Patut disyukuri pada Pekan Suci yang lalu di paroki kami menambah "koleksi" dengan menyanyikan Pater Noster dan Popule Meus saat Jumat Agung. Petugas Minggu Paskah juga berhasil dipaksa menyanyikan Sekuensia Paskah. Saya yakin di banyak paroki hanya pada kesempatan-kesempatan seperti inilah lagu gregorian banyak dinyanyikan, yang mungkin lebih banyak disebabkan karena keterbatasan pilihan lagu untuk perayaan-perayaan itu.
Pertanyaan sederhananya, kenapa saat ini koor-koor di Jakarta khususnya terkesan sulit sekali menyanyikan lagu-lagu gregorian? Paling tidak ada beberapa alasan :
- Umat memang tidak dibiasakan menyanyikan lagu gregorian; gaung gregorian kalah dengan lagu daerah dan (sayangnya) lagu pop rohani. Selama puluhan tahun harta warisan yang tak ternilai ini kalah bersinar dibandingkan barang-barang baru. Kita semua patut bertanya kapan terakhir kali Credo dinyanyikan di paroki anda masing-masing? Di St. Robertus sekitar 20 tahun lalu. Padahal Gereja menganjurkan sekurang-kurangnya Credo dan Pater Noster dinyanyikan dalam bahasa Latin, bukan dibacakan atau dinyanyikan dalam bahasa lokal.
- Tidak diterbitkannya lagi buku-buku gregorian. Paling tidak yang saya alami, sejak Puji Syukur terbit, tidak ada lagi buku nyanyian dengan citarasa khas Katolik ini. Memang kita terbiasa dengan not angka, dan itulah yang ditulis dalam Puji Syukur. Hanya sayangnya setelah Puji Syukur tidak ada terbitan lagi.
- Senada dengan tidak diterbitkannya buku-buku gregorian, di era digital ini juga tidak dimanfaatkan untuk menerbitkan sebuah rekaman lagu-lagu gregorian. Bayangkan jika ada yang mau merekam lagu-lagu sederhana ini kemudian menyebarluaskannya dalam bentuk mp3, yang mudah didownload dan mudah disebarluaskan, niscaya akan semakin banyak umat yang sadar akan harta terpendam ini.
- Sekalipun ada buku dan ada rekaman audio, masih tetap perlu seorang pakar lagu gregorian. Siapakah yang saat ini layak disebut pakar gregorian sehingga bisa mengajari, membimbing, mengarahkan, dan memajukan koor-koor paroki supaya bisa menyanyikan lagu gregorian? Saya tidak tahu apakah ada yang peduli tentang masalah ini, tapi kalau ada orangnya, saya ingin berguru pada orang tersebut, kalau bisa berguru online. hehehe.
Selamat menikmati, jika ada yang punya koleksi lebih baik, dengan senang hati saya akan menampung hehehe. Angka dalam kurung adalah nomer lagu di Puji Syukur.
- Regina Caeli (624)
- Ave Maria (625)
- Ave Regina Caelorum (626)
- Alma Redemptoris Mater (627)
- Asperges Me (233)
- Pater Noster (402)
- Victimae Paschali Laudes (518)
- Popule Meus (506)
- Veni Creator Spiritus (566)
- Pange Lingua Gloriosi (502)
- Credo (374)
- Kyrie - Missa De Angelis (342)
- Gloria - Missa De Angelis (343)
- Credo (374)
- Sanctus - Missa De Angelis (387)
- Agnus Dei - Missa De Angelis (408)
- Kyrie - Adven & Prapaskah (339)
- Sanctus - Adven & Prapaskah (385)
- Agnus Dei - Adven & Prapaskah (406)
- Te Deum (669)
- Salve Regina (623)
Kalau anda merasa langkah kecil yang saya lakukan ini akan bermanfaat, anda bisa membantu saya dengan doa untuk menyelesaikan penulisan ulang ini.
29 April 2010
Roti Hidup Dari Surga
Download lagunya di sini
Memang yang pulang sulit adalah menciptakan lagu komuni. Beberapa syarat harus terpenuhi sekaligus, tidak hanya syairnya yang liturgis dan tidak bertentangan dengan ajaran resmi Gereja, tapi juga melodi dan tata suara juga berperan dalam menciptakan suasana yang mendukung kekhidmatan misa.
Sekali lagi saya memberanikan diri menciptakan lagu untuk mengiringi komuni. Pada bagian refren syairnya saya timba dari Injil Yohanes bab 6 tentang Roti Hidup. Sabda Yesus "Akulah roti hidup" (Yoh 6:35) diubah sudut pandangnya sehingga menjadi pujian kita kepada-Nya sekaligus ungkapan iman kita "Kau roti hidup" sehingga lengkapnya refren berbunyi "Kau roti hidup dari surga yang memberi hidup pada dunia (Yoh 6:33). Yang datang pada-Mu takkan lapar lagi, yang percaya kepada-Mu takkan haus lagi (Yoh 6:35)."
Sedangkan bagian bait adalah ungkapan iman kita kepada Tuhan, dan keyakinan kita bahwa Tuhan menyelamatkan manusia lewat sakramen-sakramen. Kali ini saya mencoba membuat syair yang khas Katolik.
Dari segi komposisi lagu ini termasuk mudah dinyanyikan, tidak ada not miring-miring. Kalau ingin menyanyikan 2 suara cukup diambil bagian sopran dan altonya saja. Bagian bait sengaja dibuat unison, dengan harapan kor yang menyanyikan dapat membuat variasi di bagian bait ini. Misalnya bait 1 oleh penyanyi wanita, bait 2 pria, bait 3 bersama-sama.
1. Ku percaya pada-Mu, Allah menjadi manusia.
Ku percaya sabda-Mu adalah adalah Sabda hidup yang kekal.
2. Kami anak-anak-Mu satu di dalam Gereja-Mu.
yang Engkau persatukan dengan sakramen keselamatan.
3. Sakramen Ekaristi yang kami sambut hari ini
sungguh Tubuh dan Darah yang Kau kurbankan bagi dunia.
Refren:
Kau roti hidup dari surga yang memberi hidup pada dunia.
Yang datang pada-Mu takkan lapar lagi,
Yang percaya kepada-Mu takkan haus lagi.
Memang yang pulang sulit adalah menciptakan lagu komuni. Beberapa syarat harus terpenuhi sekaligus, tidak hanya syairnya yang liturgis dan tidak bertentangan dengan ajaran resmi Gereja, tapi juga melodi dan tata suara juga berperan dalam menciptakan suasana yang mendukung kekhidmatan misa.
Sekali lagi saya memberanikan diri menciptakan lagu untuk mengiringi komuni. Pada bagian refren syairnya saya timba dari Injil Yohanes bab 6 tentang Roti Hidup. Sabda Yesus "Akulah roti hidup" (Yoh 6:35) diubah sudut pandangnya sehingga menjadi pujian kita kepada-Nya sekaligus ungkapan iman kita "Kau roti hidup" sehingga lengkapnya refren berbunyi "Kau roti hidup dari surga yang memberi hidup pada dunia (Yoh 6:33). Yang datang pada-Mu takkan lapar lagi, yang percaya kepada-Mu takkan haus lagi (Yoh 6:35)."
Sedangkan bagian bait adalah ungkapan iman kita kepada Tuhan, dan keyakinan kita bahwa Tuhan menyelamatkan manusia lewat sakramen-sakramen. Kali ini saya mencoba membuat syair yang khas Katolik.
Dari segi komposisi lagu ini termasuk mudah dinyanyikan, tidak ada not miring-miring. Kalau ingin menyanyikan 2 suara cukup diambil bagian sopran dan altonya saja. Bagian bait sengaja dibuat unison, dengan harapan kor yang menyanyikan dapat membuat variasi di bagian bait ini. Misalnya bait 1 oleh penyanyi wanita, bait 2 pria, bait 3 bersama-sama.
1. Ku percaya pada-Mu, Allah menjadi manusia.
Ku percaya sabda-Mu adalah adalah Sabda hidup yang kekal.
2. Kami anak-anak-Mu satu di dalam Gereja-Mu.
yang Engkau persatukan dengan sakramen keselamatan.
3. Sakramen Ekaristi yang kami sambut hari ini
sungguh Tubuh dan Darah yang Kau kurbankan bagi dunia.
Refren:
Kau roti hidup dari surga yang memberi hidup pada dunia.
Yang datang pada-Mu takkan lapar lagi,
Yang percaya kepada-Mu takkan haus lagi.
27 April 2010
Pater Noster & Credo
Meskipun semua nyanyian sama, nyanyian gregorian yang merupakan ciri khas liturgi Romawi, hendaknya diberi tempat utama. Semua jenis musik ibadat lainnya, khususnya nyanyian polifoni, sama sekali tidak dilarang, asal saja selaras dengan jiwa perayaan liturgi dan dapat menunjang partisipasi seluruh umat beriman. Dewasa ini, makin sering terjadi himpunan jemaat yang terdiri atas bermacam-macam bangsa. Maka sangat diharapjan agar umat mahir melagukan bersama-sama sekurang-kurangnya beberapa bagian ordinarium Misa dalam Bahasa Latin, terutama Credo dan Pater noster dengan lagu yang sederhana.
Di artikel di atas jelas menyebutkan beberapa hal :
- Nyanyian gregorian merupakan ciri khas liturgi Romawi, dan diberi tempat utama.
- Jenis musik lainnya, khususnya polifoni (seperti lagu-lagu yang saya buat) sama sekali tidak dilarang asala selaras dengan jiwa perayaan liturgi dan dapat menunjang partisipasi seluruh umat beriman.
- Diharapkan umat mahir melagukan beberapa ordinarium misa dalam Bahasa Latin, terutama Credo dan Pater noster dengan lagu yang sederhana.
Untuk menunjang hal-hal di atas, sebelum pekan suci saya mengetik lagi teks yang dibutuhkan, berdasarkan apa yang tercantum di TPE Imam, yang ada sedikit perbedaan dengan Puji Syukur. Jika berminat bisa download di sini. Di teks tersebut hanya ditulis Bahasa Latin supaya mempermudah membaca dan mempelajari.
Dalam minggu-minggu ke depan, di paroki kami akan dimulai sebuah usaha untuk mensosialisasikan lagu lainnya seperti disyaratkan PUMR 41 di atas, yakni lagu Credo (Aku Percaya). Lagu yang akan disosialisasikan adalah Credo III yang ada di Puji Syukur 374, bisa download di sini. Saya ketik lagi teksnya, memisahkan Bahasa Latin dengan Bahasa Indonesia supaya lebih mudah dipelajari. Untuk notasi Credo ini saya adaptasi dari teks aslinya yang memakai not gregorian.
Cara yang dipilih untuk belajar tidak lagi sama dengan cara sosialisasi Pater Noster karena lagu Credo yang jauh lebih panjang dan lebih rumit. Tampaknya akan dipilih cara sosialisasi lewat kor-kor lingkungan/wilayah/kategorial supaya makin banyak umat yang terampil menyanyikan lagu ini. Mohon doanya agar cara ini lancar.
Demikian sharing saya :D:D:D semoga kedua teks yang saya buat ini bisa bermanfaat untuk sosialisasi Credo dan Pater noster.
Langganan:
Postingan (Atom)