23 Juni 2010

Kompilasi Lagu-Lagu Gregorian Volume I


Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, akhirnya saya berhasil menyelesaikan sebuah buku berisi kompilasi lagu-lagu gregorian dalam bahasa Latin. Isi buku ini semuanya sudah ada di Puji Syukur, saya hanya memisahkan bahasa Indonesia dari notasi angkanya, yang untuk beberapa lagu gregorian di Puji Syukur terasa mengganggu. Alasan lainnya adalah karena saya menemukan beberapa kesalahan kecil di Puji Syukur yang berbeda dengan sumber-sumber lainnya, seperti pada lagu Credo (PS 374) dan Veni Creator Spiritus (PS 566).

Silahkan download di sini.

God Will Provide

Seorang teman akan menikah bulan depan dan request sebuah lagu yang judulnya God Will Provide, lagunya bagus dan menyentuh. Masalahnya ketika itu dia tidak menyediakan mp3 atau apapun yang bisa didengar, dan hanya menyediakan syairnya. Jadi saya cari sendiri di youtube, ternyata banyak sekali lagu dengan judul itu. Hanya ketemu satu video yang syairnya sama persis, namun dengan kualitas rekaman yang bisa dibilang jelek. Alhasil melodinya pun terdengar samar-samar.

Dengan modal lagu yang seperti itu saya mengetik dan mengaransemen lagu tersebut untuk paduan suara (silahkan download di sini). Kalau ada yang lebih paham lagu tersebut dan menemukan kesalahan baik syair maupun melodi, saya sungguh terbuka untuk menerima koreksi.

11 Mei 2010

Meng-umat-kan gregorian, meng-gregorian-kan umat

Sudah bukan rahasia lagi kalau umat Katolik di Indonesia sudah mulai melupakan lagu-lagu gregorian, khususnya di kalangan anak muda. Di paroki saya sendiri (St. Robertus Bellarminus - Cililitan), lagu-lagu gregorian hanya dinyanyikan saat masa Adven dan Prapaskah. Selama Pekan Suci juga banyak lagu-lagu gregorian yang dinyanyikan, khususnya saat Minggu Palma dan Kamis Putih dan Exultet saat Malam Paskah.

Patut disyukuri pada Pekan Suci yang lalu di paroki kami menambah "koleksi" dengan menyanyikan Pater Noster dan Popule Meus saat Jumat Agung. Petugas Minggu Paskah juga berhasil dipaksa menyanyikan Sekuensia Paskah. Saya yakin di banyak paroki hanya pada kesempatan-kesempatan seperti inilah lagu gregorian banyak dinyanyikan, yang mungkin lebih banyak disebabkan karena keterbatasan pilihan lagu untuk perayaan-perayaan itu.

Pertanyaan sederhananya, kenapa saat ini koor-koor di Jakarta khususnya terkesan sulit sekali menyanyikan lagu-lagu gregorian? Paling tidak ada beberapa alasan :
  1. Umat memang tidak dibiasakan menyanyikan lagu gregorian; gaung gregorian kalah dengan lagu daerah dan (sayangnya) lagu pop rohani. Selama puluhan tahun harta warisan yang tak ternilai ini kalah bersinar dibandingkan barang-barang baru. Kita semua patut bertanya kapan terakhir kali Credo dinyanyikan di paroki anda masing-masing? Di St. Robertus sekitar 20 tahun lalu. Padahal Gereja menganjurkan sekurang-kurangnya Credo dan Pater Noster dinyanyikan dalam bahasa Latin, bukan dibacakan atau dinyanyikan dalam bahasa lokal.
  2. Tidak diterbitkannya lagi buku-buku gregorian. Paling tidak yang saya alami, sejak Puji Syukur terbit, tidak ada lagi buku nyanyian dengan citarasa khas Katolik ini. Memang kita terbiasa dengan not angka, dan itulah yang ditulis dalam Puji Syukur. Hanya sayangnya setelah Puji Syukur tidak ada terbitan lagi.
  3. Senada dengan tidak diterbitkannya buku-buku gregorian, di era digital ini juga tidak dimanfaatkan untuk menerbitkan sebuah rekaman lagu-lagu gregorian. Bayangkan jika ada yang mau merekam lagu-lagu sederhana ini kemudian menyebarluaskannya dalam bentuk mp3, yang mudah didownload dan mudah disebarluaskan, niscaya akan semakin banyak umat yang sadar akan harta terpendam ini.
  4. Sekalipun ada buku dan ada rekaman audio, masih tetap perlu seorang pakar lagu gregorian. Siapakah yang saat ini layak disebut pakar gregorian sehingga bisa mengajari, membimbing, mengarahkan, dan memajukan koor-koor paroki supaya bisa menyanyikan lagu gregorian? Saya tidak tahu apakah ada yang peduli tentang masalah ini, tapi kalau ada orangnya, saya ingin berguru pada orang tersebut, kalau bisa berguru online. hehehe.
Atas dasar alasan-alasan ini, saya berinisiatif mengumpulkan file-file audio dari berbagai sumber, sedikit merapikannya, dan membagi kepada anda semua untuk didownload. Sengaja yang saya share adalah lagu-lagu yang ada di Puji Syukur, supaya bisa menjadi bahan belajar. Saya sudah membagi lagu-lagu ini kepada para dirigen koor untuk menjadi bahan belajar mereka, khususnya untuk mulai menyanyikan lagu Credo dalam tugas-tugas rutin.

Selamat menikmati, jika ada yang punya koleksi lebih baik, dengan senang hati saya akan menampung hehehe. Angka dalam kurung adalah nomer lagu di Puji Syukur.
  1. Regina Caeli (624)
  2. Ave Maria (625)
  3. Ave Regina Caelorum (626)
  4. Alma Redemptoris Mater (627)
  5. Asperges Me (233)
  6. Pater Noster (402)
  7. Victimae Paschali Laudes (518)
  8. Popule Meus (506)
  9. Veni Creator Spiritus (566)
  10. Pange Lingua Gloriosi (502)
  11. Credo (374)
  12. Kyrie - Missa De Angelis (342)
  13. Gloria - Missa De Angelis (343)
  14. Credo (374)
  15. Sanctus - Missa De Angelis (387)
  16. Agnus Dei - Missa De Angelis (408)
  17. Kyrie - Adven & Prapaskah (339)
  18. Sanctus - Adven & Prapaskah (385)
  19. Agnus Dei - Adven & Prapaskah (406)
  20. Te Deum (669)
  21. Salve Regina (623)
Saya juga sedang mengetik ulang 21 lagu-lagu ini. Saya khususkan menuliskan notasi angka dengan bahasa latin. Ini saya lakukan karena melihat kesalahan notasi pada Credo yang ada di Puji Syukur no. 374. Tidak fatal memang, tapi terasa mengganggu. Untuk itu semua lagu di daftar ini saya ketik ulang berdasarkan Liber Usualis, dengan memakai cara yang sama dengan Puji Syukur untuk penulisan not angkanya.

Kalau anda merasa langkah kecil yang saya lakukan ini akan bermanfaat, anda bisa membantu saya dengan doa untuk menyelesaikan penulisan ulang ini.

29 April 2010

Roti Hidup Dari Surga

Download lagunya di sini

Memang yang pulang sulit adalah menciptakan lagu komuni. Beberapa syarat harus terpenuhi sekaligus, tidak hanya syairnya yang liturgis dan tidak bertentangan dengan ajaran resmi Gereja, tapi juga melodi dan tata suara juga berperan dalam menciptakan suasana yang mendukung kekhidmatan misa.

Sekali lagi saya memberanikan diri menciptakan lagu untuk mengiringi komuni. Pada bagian refren syairnya saya timba dari Injil Yohanes bab 6 tentang Roti Hidup. Sabda Yesus "Akulah roti hidup" (Yoh 6:35) diubah sudut pandangnya sehingga menjadi pujian kita kepada-Nya sekaligus ungkapan iman kita "Kau roti hidup" sehingga lengkapnya refren berbunyi "Kau roti hidup dari surga yang memberi hidup pada dunia (Yoh 6:33). Yang datang pada-Mu takkan lapar lagi, yang percaya kepada-Mu takkan haus lagi (Yoh 6:35)."

Sedangkan bagian bait adalah ungkapan iman kita kepada Tuhan, dan keyakinan kita bahwa Tuhan menyelamatkan manusia lewat sakramen-sakramen. Kali ini saya mencoba membuat syair yang khas Katolik.

Dari segi komposisi lagu ini termasuk mudah dinyanyikan, tidak ada not miring-miring. Kalau ingin menyanyikan 2 suara cukup diambil bagian sopran dan altonya saja. Bagian bait sengaja dibuat unison, dengan harapan kor yang menyanyikan dapat membuat variasi di bagian bait ini. Misalnya bait 1 oleh penyanyi wanita, bait 2 pria, bait 3 bersama-sama.

1. Ku percaya pada-Mu, Allah menjadi manusia.
Ku percaya sabda-Mu adalah adalah Sabda hidup yang kekal.
2. Kami anak-anak-Mu satu di dalam Gereja-Mu.
yang Engkau persatukan dengan sakramen keselamatan.
3. Sakramen Ekaristi yang kami sambut hari ini
sungguh Tubuh dan Darah yang Kau kurbankan bagi dunia.

Refren:
Kau roti hidup dari surga yang memberi hidup pada dunia.
Yang datang pada-Mu takkan lapar lagi,
Yang percaya kepada-Mu takkan haus lagi.

27 April 2010

Pater Noster & Credo

Pedoman Umum Misale Romawi Art. 41 :

Meskipun semua nyanyian sama, nyanyian gregorian yang merupakan ciri khas liturgi Romawi, hendaknya diberi tempat utama. Semua jenis musik ibadat lainnya, khususnya nyanyian polifoni, sama sekali tidak dilarang, asal saja selaras dengan jiwa perayaan liturgi dan dapat menunjang partisipasi seluruh umat beriman. Dewasa ini, makin sering terjadi himpunan jemaat yang terdiri atas bermacam-macam bangsa. Maka sangat diharapjan agar umat mahir melagukan bersama-sama sekurang-kurangnya beberapa bagian ordinarium Misa dalam Bahasa Latin, terutama Credo dan Pater noster dengan lagu yang sederhana.

Di artikel di atas jelas menyebutkan beberapa hal :
  1. Nyanyian gregorian merupakan ciri khas liturgi Romawi, dan diberi tempat utama.
  2. Jenis musik lainnya, khususnya polifoni (seperti lagu-lagu yang saya buat) sama sekali tidak dilarang asala selaras dengan jiwa perayaan liturgi dan dapat menunjang partisipasi seluruh umat beriman.
  3. Diharapkan umat mahir melagukan beberapa ordinarium misa dalam Bahasa Latin, terutama Credo dan Pater noster dengan lagu yang sederhana.
Puji Tuhan, pada pekan suci yang lalu di paroki kami, St. Robertus Bellarminus - Cililitan, sudah 'berhasil' menyanyikan Pater Noster dalam bahasa latin dan dengan gaya gregorian seperti yang ada di buku Puji Syukur nomor 402. Puji Tuhan juga karena Pastor Paroki (Romo Irwan) yang turun tangan langsung untuk melatih umat menyanyikan lagu ini. Sungguh beruntung memiliki Pastor Paroki yang mau melaksanakan salah satu fungsi kegembalaannya dengan sempurna. Puji Tuhan sekali lagi lagi karena kedua pastor di paroki kami bersedia untuk menyanyikan bagian pengantar (atas petunjuk penyelamat kita...) dan embolisme juga dalam Bahasa Latin.

Untuk menunjang hal-hal di atas, sebelum pekan suci saya mengetik lagi teks yang dibutuhkan, berdasarkan apa yang tercantum di TPE Imam, yang ada sedikit perbedaan dengan Puji Syukur. Jika berminat bisa download di sini. Di teks tersebut hanya ditulis Bahasa Latin supaya mempermudah membaca dan mempelajari.

Dalam minggu-minggu ke depan, di paroki kami akan dimulai sebuah usaha untuk mensosialisasikan lagu lainnya seperti disyaratkan PUMR 41 di atas, yakni lagu Credo (Aku Percaya). Lagu yang akan disosialisasikan adalah Credo III yang ada di Puji Syukur 374, bisa download di sini. Saya ketik lagi teksnya, memisahkan Bahasa Latin dengan Bahasa Indonesia supaya lebih mudah dipelajari. Untuk notasi Credo ini saya adaptasi dari teks aslinya yang memakai not gregorian.

Cara yang dipilih untuk belajar tidak lagi sama dengan cara sosialisasi Pater Noster karena lagu Credo yang jauh lebih panjang dan lebih rumit. Tampaknya akan dipilih cara sosialisasi lewat kor-kor lingkungan/wilayah/kategorial supaya makin banyak umat yang terampil menyanyikan lagu ini. Mohon doanya agar cara ini lancar.

Demikian sharing saya :D:D:D semoga kedua teks yang saya buat ini bisa bermanfaat untuk sosialisasi Credo dan Pater noster.

Tantum Ergo


Bulan-bulan belakangan memang masa-masa kering lagu, bukan karena ketiadaan ide atau komposisi, melainkan karena kemalasan mengetik teks yang memang butuh waktu dan konsentrasi. Apalagi di rumah sekarang ini sudah berbagi komputer dengan anak yang sudah mulai rajin main komputer, meniru bapaknya. :D:D

Jadi untuk urusan ketik-mengetik mulai dari yang sederhana dulu, sebuah lagu pendek, sederhana, dan (tampaknya) mudah untuk dinyanyikan. Lagu ini untuk mengiringi penyembahan kepada Sakramen Mahakudus : Tantum Ergo (download di sini)

Bahasa Latin :

Tantum ergo Sacramentum
Veneremur cernui:
Et antiquum documentum
Novo cedat ritui:
Praestet fides supplementum
Sensuum defectui.

Genitori, Genitoque
Laus et iubilatio,
Salus, honor, virtus quoque
Sit et benedictio:
Procedenti ab utroque
Compar sit laudatio.

Amen.

Bahasa Indonesia :

Sakramen yang sungguh agung,
mari kita muliakan.
Surut sudah hukum lampau,
tata baru tampillah.
Karna indra tidak mampu,
iman jadi tumpuan.

Yang Berputra dan Sang Putra
dimuliakan, disembah,
dihormati dan dipuja
beserta dengan Sang Roh:
muncul dari KeduaNya,
dan setara disembah.

Amin.

Sebagai tambahan informasi yang saya baca dari sebuah website yang membahas tentang indulgensi (lihat di sini), dengan mendaraskan lagu ini dengan meriah saat Kamis Putih atau HR Tubuh dan Darah Kristus (tahun ini 6 Juni 2010) bisa mendapatkan indulgensi penuh, dan indulgensi sebagian pada kesempatan lainnya.

Selamat menikmati dan selamat berlatih.

20 Desember 2009

Adoro Te Devote

sudah lama banget gak nulis lagu.... memang gak sempet nulis/ngetik karena waktunya yang sempit untuk itu...

walau demikian saya selalu berusaha untuk membuat lagu2 baru. kesulitan (sekaligus tantangan) membuat lagu yang liturgis terletak pada syairnya. sungguh sulit membuat lagu dengan kata2 yang indah, namun sekaligus alkitabiah dan liturgis. bahkan ternyata sekalipun kata2nya sudah ada, lebih susah lagi untuk membuat melodinya.

maka saya sungguh mensyukuri lagu yang terakhir saya buat ini, mengingat prosesnya yang singkat, hanya beberapa jam. yang lama ngetiknya hehehe.

lagu ini syairnya diambil dari Adoro Te Devote yang ditulis oleh St. Thomas Aquinas, sebuah ungkapan pujian kepada Allah yang tersembunyi/tersamar. di Puji Syukur ada 2 lagu yang menggunakan terjemahan Adoro Te Devote di nomor 557 dan 560, walaupun tidak mengambil semua syairnya. lagu ini bisa digunakan untuk mengiringi adorasi kepada Sakramen Mahakudus.

bisa didownload di sini, dan selamat menikmati.

Adoro te devote, latens Deitas,
Quæ sub his figuris vere latitas;
Tibi se cor meum totum subjicit,
Quia te contemplans totum deficit.
Visus, tactus, gustus in te fallitur,
Sed auditu solo tuto creditur.
Credo quidquid dixit Dei Filius;
Nil hoc verbo veritátis verius.
In cruce latebat sola Deitas,
At hic latet simul et Humanitas,
Ambo tamen credens atque confitens,
Peto quod petivit latro pœnitens.
Plagas, sicut Thomas, non intueor:
Deum tamen meum te confiteor.
Fac me tibi semper magis credere,
In te spem habere, te diligere.
O memoriale mortis Domini!
Panis vivus, vitam præstans homini!
Præsta meæ menti de te vívere,
Et te illi semper dulce sapere.
Pie Pelicane, Jesu Domine,
Me immundum munda tuo sanguine:
Cujus una stilla salvum facere
Totum mundum quit ab omni scelere.
Jesu, quem velatum nunc aspicio,
Oro, fiat illud quod tam sitio:
Ut te revelata cernens facie,
Visu sim beátus tuæ gloriæ. Amen

Pengikut